Tuesday, 26 July 2016


Penulis: Nassirun Purwokartun
Sinopsis:
Penangsang tidak mati terbunuh dengan kondisi usu terbuai keluar seperti yang dipahami kebanyakan masyarakat. Peristiwa malam penyerbuan Pajang ke Jipang itu tetap minjadi misteri. Kalau bukan Penangsang yang terbunuh, lantas siapa orang yang berlari dengan memegang usus terbuai keluar kemudian dihabisi oleh Sutawijaya pada malam itu? Teka-teki yang disuguhkan dalam Novel Penangsang, Tarian Rembulan Luka di bagian akhir itu membuat siapa pun penasaran akan kelanjutan kisah perjalanan sosok Penangsang. Hadirnya seri ke empat Novel Penangsang dengan judul Lukisan Sembilan Cahaya ini salah satunya untuk menegaskan dan menjawab teka-teki itu.
Penangsang, Lukisan Sembilan Cahaya ini diawali dari kisah malam penyerbuan pasukan Pajang ke Jipang untuk memburu dan membunuh Mataram dan Penangsang. Kakak beradik anak Pangeran Sekar itu telah mendapatkan vonis dari majelis Jeksa untuk dihukum pati. Majelis jeksa yang dikendalikan Karebet setelah dia berhasil menyingkirkan para Ulama dalam lembaga dewan wali dengan membubarkannya. Dikisahkan dalam peristiwa penyerbuan itu penuh dengan tragedi dan intrik. Patih Matahun yang mendampingi Penangsang sejak kecil terbunuh dalam peperangan itu. Mataram yang menghadapi pasukan Pajang itu dianggap sebagai Penangsang oleh penyerbu. Padahal Penangsang tengah meloloskan diri dari Jipang. Penangsang mendapatkan mandat dari Sang guru, Sunan Kudus untuk berhijrah ke tanah seberang, Palembang. Mataram yang menggantikan posisi Penangsang sebagai Adipati Jipang malam itu mendapat serangan yang sangat tidak seimbang. Mataram hampir saja tewas dikeroyok oleh pasukan Pajang. Akan tetapi ketika Mataram posisinya terdesak tiba-tiba muncul Gagak Rimang, kuda tunggangan Penangsang yang ditunggangi oleh seseorang yang menggunakan jubah Kalipatullah yang biasanya digunakan oleh Penangsang.
Kedatangan Gagak Rimang dengan penunggangnya yang menggunakan Jubah Kalipatullah itu membuat bingung sebagian besar penyerbu dari Pajang. Mereka semula beranggapan bahwa  yang mereka keroyok habis itu adalah Penangsang. Ternyata muncul Gagak Rimang dengan penunggang berjubah Kalipatullah yang sangat identik dengan Penangsang. Akhirnya para prajurit Pajang itu pun beralih mengepung Gagak Rimang. Mataram, yang sebelumnya mereka sangka sebagai Penangsang, mereka tinggalkan. Posisi yang tadinya terdesak membuat Mataram leluasa untuk meloloskan diri.
Sementara pasukan Pajang beralih menyerbu Gagak Rimang yang sangat identik dengan Penangsang, para pemikir yaitu Ki Juru, Ki Pemanahan, dan Penjawi mencari cara untuk menghabisi Penangsang. Mereka memancing Gagak Rimang agar tidak konsen dengan pertempuran. Mereka membuat umpan dengan melepaskan seekor kuda betina untuk menggoda Gagak Rimang. Benar yang terjadi. Gagak Rimang tergoda dnegan kuda betina itu sehingga tidak konsen dengan peperangan. Ia mulai sulit dikendalikan dan terus terpancing untuk mengejar kuda betina. Dengan posisi demikian kemudian Sutawijaya menusukkan tombak pada perut penunggang Gagak Rimang yang dianggap sebagai Penangsang. Seketika, isi dari perut penunggang Gagak Rimang itu keluar. Ususnya terlihat terbuai keluar. Darah bercucuran. Usus itu kemudian dipegang dan dikalungkan agar tidak terus terbuai. Sutawijaya malah lari ketakutan. Karena terus dikejar oleh orang yang ususnya keluar itu, Sutawijaya akhirnya menghabisinya. “Memedi usus” itu akhirnya jatuh terkulai.
Pajang berteriak girang bahwa Penangsang telah mampus.  Mereka merayakan. Mereka bersorak dan terus bersorak Penangsan telah tewas. Mereka kumandangkan teriakan itu untuk meruntuhkan nyali Jipang. Juga untuk mengukuhkan Hadiwijaya sebagai penguasa baru di Demak yang sebentar lagi akan dipindahkan ke Pajang. Karena penghalang utamanya yaitu Penangsang telah berhasil mereka singkirkan.
Sementara, Penangsang sendiri dalam diam dan senyap meloloskan diri ke Kudus. Di tengah sakitnya, Sunan Kudus mewasiatkan agar Penangsang hijrah ke tanah seberang. Palembang yang menjadi tujuannya. Namun sebelum ke Palembang, Penangsang meminta restu dulu ke Sunan Giri Kedaton sekaligus berziarah  ke makam-makam para Sunan yang telah meninggal terlebih dahulu. Di antaranya makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Maulana Malik Ibrahim.
Dalam memulai perjalanannya ke Giri Kedaton, Penangsang ditemani adik-adiknya dan patih Jipang  Ronggo Buwono dan Ronggo Maruto. Dari Giri Kedaton kemudian berziarah ke makam-makam sunan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jepara untuk bertemu Retno Kencono, Istri Hadiri. Kemudian perjalanan dilanjutkan singgah di Demak . Makam kakek dan juga ayahandanya. Di Demak juga merupakan tempat yang tak asing bagi Penangsang waktu kecil. Akan tetapi menjadi sangat asing dan menyakitkan selepas wafatnya Sultan Trenggono. Di Demak terjadi intrik dan tragedi oleh mata-mata Pajang.
Kepergian Penangsang dan kematian Penangsang palsu ternyata akhirnya terendus juga oleh Pajang. Bahwa yang meninggal berkalung usus bukan Penangsang. Penangsang melarikan diri ke tanah seberang. Semua itu terendus dan segera disebar mata-mata Pajang ke Demak, Kudus, dan Giri Kedaton. Akhirnya ketika Penangsang sedang berziarah di Demak itu mata-mata Pajang ingin membunuh Penangsang dan Mataram dengan senjata sumpit beracun mematikan. Untung saja sumpit yang mengenai tubuh Penangsang segera bisa dibersihkan dan diberi penawarnya oleh tabib handal Demak.
Penangsang melanjutkan perjalanan ke Cirebon untuk bertemu Sunan Gunung Jati. Mata-mata yang menguntit Penangsang terus memburu hingga ke Cirebon juga. Karena tahu ada mata-mata, rombongan perahu Penangsang segera melanjutkan perjalanan ke Jayakarta. Dan melanjutkan ke Banten. Sampai di Banten pun ternyata mata-mata Pajang juga sudah sampai di Banten. Rombongan perahu Penangsang akhirnya melanjukan ke tanah seberang. Di sanalah Penangsang memulai membangun kesultanan sebagaimana kebesaran Demak Bintoro.

Categories:
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!