Saturday, 31 March 2012


Komunikasi "pemecah es" atau yang diistilahkan dengan ice breaker adalah komunikasi serupa untuk memecahkan kebekuan suasana. Sebab, ketika dua orang baru bertemu, sesungguhnya belum ada kesiapan untuk berkomunikasi secara timbal balik. Apalagi bila materi pembicaraannya berat-berat. Masing-masing masih berada dalam kondisi bawaannya. Kondisi bawaan guru saat sedang bertemu dengan siswa di pagi hari barang kali adalah yang di bawa dari keluarganya. Begitu pun siswa, ia masih membawa beban, permasalahan, atau mungkin juga suasana gembira dari rumah. Kalau antara guru dengan murid ini bertemu dengan kondisi bawaan masing-masing langsung berbincang mengenai materi inti, kemungkinan besar malah akan terjadi komunikasi tulalit alias tidak nyambung. 
Maka, ice breaker sangat berperan di sini. Menggunakan bahan komunikasi yang ringan untuk memecahkan kebekuan untuk mengawali pembicaraan adalah langkah yang tepat. Misalnya, menu sarapan pagi, kabar orang tua, atau cerita tentang kejadian yang diliihat siswa atau guru saat berangkat sekolah. Setelah itu, barulah guru memberikan perhatian pada kerapian, kedisiplinan, atau adab siswa. Tegurlah dengan tegas jika kesalahan itu memang berat. Guru tidak perlu lagi khawatir. Sebab, sebelum guru memberikan perhatian negatif, dia telah mendahuluinya dengan perhatian positif. 
Misalnya ketika melihat seorang anak tidak memasukkan pakaiannya secara rapi seorang guru menegur: "Nak, tadi pagi sudah sarapan belum?" lantas bisa dilanjutkan "Wah, enak dong. Pak guru tadi juga sudah sarapan, sama telor." Nah setelah komunikasi sudah cair, barulah menuju inti permasalahan. "Nak, biasanya kamu selalu berpakaian rapi, deh..!" Biasanya si anak akan langsung memerhatikan pakaiannya. Kalau suasana demikian, anak akan secara otomatis merapikan pakaiannya.
Perhatian positif inilah yang ternyata selalu diberikan anak kepada teman-temannya dalam pergaulan mereka. Itulah sebabnya, setiap saat komunikasi mereka cair. Sangat berbeda dengan komunikasi antara siswa dengan guru. Maka jangan heran bila orang tua sering mendapati situasi bahwa pengaruh teman sebaya terlihat lebih kuat dibanding pengaruh orang tua terhadap anak-anak kandung mereka sendiri. Andai saja orang tua berlaku, memberikan perhatian, serta bertindak sebagai sahabat bagi anak, tentunya anak akan terbiasa berkomunikasi secara cair sebagaimana mereka berkomunikasi dengan teman sebayanya.
Untuk menjaga agar guru selalu konsisten dalam menjalin hubungan pertemanan dengan siswa, ada baiknya setiap kali berjumpa dengan mereka guru selalu mengingatkan diri sendiri akan sebuah “proklamasi”: AKU ADALAH TEMANMU, NAK! Proklamasikan hal ini di dalam hati secara terus-menerus, setiap kali berjumpa dengan mereka. Insya Allah, pada akhirnya guru akan betul-betul berhasil menjadi teman siswa. 

Daftar Pustaka: 
Abdulllah Munir.2010. SPIRITUAL TEACHING.  Pustaka Insan Madani:Yogyakarta.
Categories: ,

4 komentar:

Kang Udien said...

Di sekolah kami juga sering memakai ice breaker sebelum pelajaran di mulai..

Haryo songOSOngo said...

Iya, pak Udien... sebenarnya banyak guru yang telah melaksanakan teori ini. Termasuk Sekolah panjenengan. Maturnuwun kunjungannya...

kanggurukoe said...

Tp akhir2 ini banyak dr kita mengalami kendala terkait akhlak anak didik..

Haryo songOSOngo said...

Itu juga menjadi PR kita sebagai guru, kanggurukoe.... saya juga geleng-geleng kepala setiap melihat penurunan moral pada anak didik...

Post a Comment

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!