Monday, 21 November 2016
Tuesday, 26 July 2016
Penulis: Nassirun Purwokartun
Sinopsis:
Penangsang tidak mati terbunuh dengan kondisi usu terbuai keluar seperti yang dipahami kebanyakan masyarakat. Peristiwa malam penyerbuan Pajang ke Jipang itu tetap minjadi misteri. Kalau bukan Penangsang yang terbunuh, lantas siapa orang yang berlari dengan memegang usus terbuai keluar kemudian dihabisi oleh Sutawijaya pada malam itu? Teka-teki yang disuguhkan dalam Novel Penangsang, Tarian Rembulan Luka di bagian akhir itu membuat siapa pun penasaran akan kelanjutan kisah perjalanan sosok Penangsang. Hadirnya seri ke empat Novel Penangsang dengan judul Lukisan Sembilan Cahaya ini salah satunya untuk menegaskan dan menjawab teka-teki itu.
Penangsang, Lukisan Sembilan Cahaya ini diawali dari kisah malam penyerbuan pasukan Pajang ke Jipang untuk memburu dan membunuh Mataram dan Penangsang. Kakak beradik anak Pangeran Sekar itu telah mendapatkan vonis dari majelis Jeksa untuk dihukum pati. Majelis jeksa yang dikendalikan Karebet setelah dia berhasil menyingkirkan para Ulama dalam lembaga dewan wali dengan membubarkannya. Dikisahkan dalam peristiwa penyerbuan itu penuh dengan tragedi dan intrik. Patih Matahun yang mendampingi Penangsang sejak kecil terbunuh dalam peperangan itu. Mataram yang menghadapi pasukan Pajang itu dianggap sebagai Penangsang oleh penyerbu. Padahal Penangsang tengah meloloskan diri dari Jipang. Penangsang mendapatkan mandat dari Sang guru, Sunan Kudus untuk berhijrah ke tanah seberang, Palembang. Mataram yang menggantikan posisi Penangsang sebagai Adipati Jipang malam itu mendapat serangan yang sangat tidak seimbang. Mataram hampir saja tewas dikeroyok oleh pasukan Pajang. Akan tetapi ketika Mataram posisinya terdesak tiba-tiba muncul Gagak Rimang, kuda tunggangan Penangsang yang ditunggangi oleh seseorang yang menggunakan jubah Kalipatullah yang biasanya digunakan oleh Penangsang.
Kedatangan Gagak Rimang dengan penunggangnya yang menggunakan Jubah Kalipatullah itu membuat bingung sebagian besar penyerbu dari Pajang. Mereka semula beranggapan bahwa yang mereka keroyok habis itu adalah Penangsang. Ternyata muncul Gagak Rimang dengan penunggang berjubah Kalipatullah yang sangat identik dengan Penangsang. Akhirnya para prajurit Pajang itu pun beralih mengepung Gagak Rimang. Mataram, yang sebelumnya mereka sangka sebagai Penangsang, mereka tinggalkan. Posisi yang tadinya terdesak membuat Mataram leluasa untuk meloloskan diri.
Sementara pasukan Pajang beralih menyerbu Gagak Rimang yang sangat identik dengan Penangsang, para pemikir yaitu Ki Juru, Ki Pemanahan, dan Penjawi mencari cara untuk menghabisi Penangsang. Mereka memancing Gagak Rimang agar tidak konsen dengan pertempuran. Mereka membuat umpan dengan melepaskan seekor kuda betina untuk menggoda Gagak Rimang. Benar yang terjadi. Gagak Rimang tergoda dnegan kuda betina itu sehingga tidak konsen dengan peperangan. Ia mulai sulit dikendalikan dan terus terpancing untuk mengejar kuda betina. Dengan posisi demikian kemudian Sutawijaya menusukkan tombak pada perut penunggang Gagak Rimang yang dianggap sebagai Penangsang. Seketika, isi dari perut penunggang Gagak Rimang itu keluar. Ususnya terlihat terbuai keluar. Darah bercucuran. Usus itu kemudian dipegang dan dikalungkan agar tidak terus terbuai. Sutawijaya malah lari ketakutan. Karena terus dikejar oleh orang yang ususnya keluar itu, Sutawijaya akhirnya menghabisinya. “Memedi usus” itu akhirnya jatuh terkulai.
Pajang berteriak girang bahwa Penangsang telah mampus. Mereka merayakan. Mereka bersorak dan terus bersorak Penangsan telah tewas. Mereka kumandangkan teriakan itu untuk meruntuhkan nyali Jipang. Juga untuk mengukuhkan Hadiwijaya sebagai penguasa baru di Demak yang sebentar lagi akan dipindahkan ke Pajang. Karena penghalang utamanya yaitu Penangsang telah berhasil mereka singkirkan.
Sementara, Penangsang sendiri dalam diam dan senyap meloloskan diri ke Kudus. Di tengah sakitnya, Sunan Kudus mewasiatkan agar Penangsang hijrah ke tanah seberang. Palembang yang menjadi tujuannya. Namun sebelum ke Palembang, Penangsang meminta restu dulu ke Sunan Giri Kedaton sekaligus berziarah ke makam-makam para Sunan yang telah meninggal terlebih dahulu. Di antaranya makam Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Maulana Malik Ibrahim.
Dalam memulai perjalanannya ke Giri Kedaton, Penangsang ditemani adik-adiknya dan patih Jipang Ronggo Buwono dan Ronggo Maruto. Dari Giri Kedaton kemudian berziarah ke makam-makam sunan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Jepara untuk bertemu Retno Kencono, Istri Hadiri. Kemudian perjalanan dilanjutkan singgah di Demak . Makam kakek dan juga ayahandanya. Di Demak juga merupakan tempat yang tak asing bagi Penangsang waktu kecil. Akan tetapi menjadi sangat asing dan menyakitkan selepas wafatnya Sultan Trenggono. Di Demak terjadi intrik dan tragedi oleh mata-mata Pajang.
Kepergian Penangsang dan kematian Penangsang palsu ternyata akhirnya terendus juga oleh Pajang. Bahwa yang meninggal berkalung usus bukan Penangsang. Penangsang melarikan diri ke tanah seberang. Semua itu terendus dan segera disebar mata-mata Pajang ke Demak, Kudus, dan Giri Kedaton. Akhirnya ketika Penangsang sedang berziarah di Demak itu mata-mata Pajang ingin membunuh Penangsang dan Mataram dengan senjata sumpit beracun mematikan. Untung saja sumpit yang mengenai tubuh Penangsang segera bisa dibersihkan dan diberi penawarnya oleh tabib handal Demak.
Penangsang melanjutkan perjalanan ke Cirebon untuk bertemu Sunan Gunung Jati. Mata-mata yang menguntit Penangsang terus memburu hingga ke Cirebon juga. Karena tahu ada mata-mata, rombongan perahu Penangsang segera melanjutkan perjalanan ke Jayakarta. Dan melanjutkan ke Banten. Sampai di Banten pun ternyata mata-mata Pajang juga sudah sampai di Banten. Rombongan perahu Penangsang akhirnya melanjukan ke tanah seberang. Di sanalah Penangsang memulai membangun kesultanan sebagaimana kebesaran Demak Bintoro.
Friday, 5 October 2012
Di dalam kondisi yang demikian itu muncul pula pemberitaan dari sebuah tv swasta di Indonesia yang menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang berbasis di masjid-masjid sekolah (rohis) adalah sarana untuk membentuk teroris. Padahal justeru rohislah yang digadang-gadang oleh berbagai fihak sebgai setitik cahaya di dalam kegelapan. Di rohislah para pemuda, siswa siswi sekolah dididik berorganisasi secara benar, mengkaji ilmu-ilmu agama, berlatih menanamkan akhlak yang baik untuk berperilaku etika yang baik, belajar sopan santun akhlak mulia yang jauh dari kekerasan, jauh dari dendam, emosi, tipu muslihat. Namun sangat disayangkan justeru kegiatan sangat positif itu diterka sebagai wahana tumbuh kembangnya terorisme. Terorisme yang merupakan sebuah kata yang tidak diketahui hulu dan hilirnya, ujung dan pangkalnya. Siapa, untuk apa, mengapa, dan sebagainya.
Sampai kemudian muncul pula duga-duga bahwa generasi muda Indonesia memang sedang dalam proses dirusak agar kemudian menjadi bangsa yang gagal mendidik putra-putrinya dan akhirnya hancurlah bangsa ini. Seringlah kita mendengar bahwa pemuda adalah tulang punggung bangsa. Bangsa akan hancur kalau pemudanya hancur mentalnya. Terbelakang kreativitas dan kecakapannya. Dan jauh sekali tertinggal dari generasi muda dari bangsa lain di dunia. Kalau pun ada yang terkecuali dari kondisi itu, barangkali sunatullah yang hanya segelintir saja untuk membahagiakan rasa dan pelipur bagi generasi tua.
Generasi muda, pelajar, remaja Indonesia, bangkitlah dari keterpurukan ini. Indonesia memanggilmu...
Friday, 31 August 2012
Idul Fitri tahun 1433 H atau yang bertepatan dengan tahun 2012 Masehi kali ini, saya mendapatkan kesempatan untuk berkhutbah sekaligus menjadi Imam di Dusun Ngelo, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Pada kesempatan tersebut saya membawakan Khutbah Id berbahasa Jawa dengan Judul Mujudaken Pagesangan ingkang Tata Tentrem Kerta Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi. Khutbah tersebut merupakan Khutbah Id yang tersedia di situs http://www.dakwatuna.com/ yang kemudian saya translete ke dalam bahasa Jawa.
Jamaah yang hadir dalam shalat Id tersebut adalah warga muslim Dusun Ngelo dan Dusun Pakem Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro.Dusun Ngelo dan Dusun Pakem adalah dua dusun yang letaknya di wilayah selatan dari Kabupaten Wonogiri. Keadaan geografis daerah ini adalah pegunungan kapur yang ketika kemarau hampir selalu terjadi kekurangan air. Ketika musim kemarau, warga dari dua dusun tersebut biasanya membeli air tangki.Harga satu tangkinya berkisar antara Rp 70.000,- sampai Rp 100.000,-. Makanya untuk menjadi Khatib di tempat ini saya sudah mempersiapkan wudhu dari rumah dan berusaha untuk tidak buang air kecil. Kasihan terhadap warga di dusun itu yang air saja harus beli.
Jarak dusun tersebut dari rumah saya sekitar 40 km. Saya berangkat dari rumah sekitar jam 05.30 WIB dan sampai di lokasi sekitar jam 06.15. Waktu yang relatif lama untuk menempuh jarak 40 km. Karena medannya berliku dan banyak tanjakan. Apalagi pagi itu udaranya sangat dingin. Saya tidak berani mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Sesampai di lokasi, jamaah shalat sudah terlihat rapi sambil mengagungkan asma Allah dengan bertakbir.
Khutbah yang saya bacakan dalam kesempata ini adalah khutbah berbahasa Jawa yang bisa didownload di sini. Silakan bagi yang mau mengambil untuk bahan referensi atau untuk berkhutbah.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Sunday, 1 April 2012
Berbagai permasalahan dan kemunduran negeri ini salah satunya disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia. “Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa”(Kusumadewi: 2007). Jika pendidikan tidak maju maka pembangunan bangsa akan terhenti atau malah terjadi kemunduran. Kalau saat ini dirasa bahwa Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain maka pendidikanlah yang salah satunya bisa dikoreksi.
Potret Pendidikan di Indonesia
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada anak-anak negeri ini yang mampu mencuri perhatian kita dengan prestasinya di berbagai bidang. Misalkan juara olimpiade sains tingkat Asia atau dunia, juara kompetisi robot, anak SMK yang mampu membuat mobil, serta beberapa prestasi yang lain. Namun, di balik secuil kegemilangan itu ada sedemikian banyak permasalahan dalam dunia pendidikan Indonesia. Perilaku tidak terpuji di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat mudah ditemui. Pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya. Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan para pelajar tersebut benar-benar telah meresahkan masyarakat dan memperburuk citra pendidikan di Indonesia. Belum lagi permasalahan seperti pelaksanaan ujian nasional yang tidak jujur, manipulasi data agar peserta didik bisa masuk SNMPTN melalu jalur undangan (Sudaryanto: 2012), pemalsuan dokumen pendidikan, penilaian hasil belajar yang mengandung kecurangan, penyelewengan dana pendidikan dan masih banyak lagi. Semua itu bisa-bisa akan menghilangkan kepercayaan masyarakat pada dunia pendidikan. Jika keadaan ini tidak segera diupayakan untuk mencari solusi, maka bisa dikatakan mustahil untuk memperbaiki moral bangsa dari dunia pendidikan.
Sistem Pendidikan Sekuler-Materialistik
“Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik" (Farida, 2010). Hal ini terbukti dengan adanya dikotomi antara pendidikan agama yang dikelola oleh Kementrian Agama dan pendidikan umum yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Walaupun memang ada upaya untuk menutup ini dengan dimasukkannya mata pelajaran pendidikan agama pada satuan pendidikan umum dengan porsi yang sangat sedikit. Sistem pendidikan sekuler-materialistik ini terbukti gagal menghasilkan output sebagaimana yang dicita-citakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur.
Pendidikan sekuler-materialistik ini menghasilkan insan yang sekuler materialistik pula. Orang-orang yang sekuler-materialistik jika mendapat amanah atau menduduki posisi jabatan tertentu maka rusaklah tatanan atau sistem itu. Karena orang yang sekuler materialistik cenderung mengabaikan pertimbangan moral dan etika sehingga sangat mudah baginya untuk korupsi, kolusi, nepotisme, menghalalkan segala cara, “asal bapak senang”, dan lain-lain. Kalau sudah demikian, maka bukan kemajuan yang dicapai suatu bangsa tapi justeru sebaliknya, kemunduran dan krisis multidimensi yang sampai pada tataran menimbulkan pesimistis bagi setiap cendekiawan yang ingin membangun dan memajukan bangsa.
“Sebagai wujud komitmennya, maka mulai tahun pelajaran 2010/2011 telah membuka lembaga pendidikan tingkat menengah yaitu SMP dan SMA Insan Cendekia Al Mujtaba Surakarta. SMP dan SMA ini mempunyai ciri khas yaitu Unggul dalam IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan IMTAQ (iman dan taqwa).” (http://insancendekiaska.org/profil)
INSAN CENDEKIA memberikan kontribusi riil dengan membuka sekolah-sekolah yang salah satunya adalah SMP-SMA INSAN CENDEKIA Al MUJTABA SURAKARTA. Sebuah Sekolah yang menghapus dikotomi pendidikan dan meninggalkan sistem pendidikan sekuler-materialistik. Sebuah sekolah yang menyatukan sisi iman dan takwa (moral) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sistem pendidikannya. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum yang digunakan INSAN CENDEKIA: kurikulum dinas yang diperkaya sesuai visi dan misi INSAN CENDEKIA. Kurikulum INSAN CENDEKIA disusun dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dan nilai-nilai ajaran islam menjadi satu standar kurikulum yang bercirikan:
1. Ta’lim, yaitu pendidikan yang menitikberatkan masalah pada pendidikan, penyampaian informasi dan pengembangan ilmu.
2. Tarbiyah, yaitu pendidikan yang menitikberatkan masalah pada pendidikan, pembentukan, dan pengembangan pribadi, serta pembentukan dan pengembangan kode etik.
3. Ta’dib, yaitu pendidikan yang memandang bahwa proses pendidikan merupakan usaha yang mencoba membentuk keteraturan susunan ilmu yang berguna bagi dirinya sebagai seorang muslim. (http://insancendekiaska.org/kurikulum)
Sekolah yang dengan konsep seperti inilah yang membuka kembali optimisme anak bangsa untuk memajukan Indonesia. INSAN CENDEKIA bersama-sama dengan lembaga pendidikan lain yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memberi contoh nyata untuk sebuah pembaharuan pendidikan di Indonesia.
Pelaksanakan kurikulum integratif tersebut, INSAN CENDEKIA mewujudkannya dalam kegiatan pembelajaran yang modern dan inovatif. Di antara contohnya adalah dilaksanakannya kegiatan penunjang yang meliputi:
1. Responsi yaitu kegiatan berstruktur guna meningkatkan penguasaan konsep dan melatih keterampilan siswa.
2. Klinik Mata Pelajaran yaitu program pengajaran remedi guna mencapai ketuntasan belajar
3. Belajar Mandiri Malam Hari di Rumah yang dipantau melalui tugas dan PR yang terencana
4. Sistem Evaluasi menggunakan standar sekolah unggul Insan Cendekia
5. Klub Bidang Studi yaitu program pengayaan bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi pada bidang studi tertentu. (http://insancendekiaska.org/kegiatan-penunjang)
INSAN CENDEKIA menerapkan kegiatan belajar mengajar modern dengan berbasis ICT dengan berbagai motode. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Sehingga penerapan kurikulum integratif akan semakin menyasar tepat pada tujuan. Untuk menopang kebutuhan ini, INSAN CENDEKIA yang membangun sekolah di atas tanah seluas sekita 1 Ha di Jl. Ovensari, Kadilangu, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, telah memiliki berbagai fasilitas agar kegiatan belajar mengajar menjadi kondusif.
1. Kelas lengkap dengan AC, komputer dan LCD Projector
2. Laboratorium (IPA, Bahasa, Komputer)
3. Perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar
4. Fasilitas Olahraga (http://insancendekiaska.org/fasilitas)
![]() |
| Fasilitas yang memadai dari INSAN CENDEKIA |
Wonogiri, 1 April 2012
Dwi Wahyudi
Daftar Pustaka
Farida Nuraini. 2010. Kelemahan Sistem Pendidikan di Indonesia. (http://farida90.blogspot.com/2010/01/kelemahan-sistem-pendidikan-di.html, diakses pada 31 Maret 2012 Pukul 21.40 WIB)
Kusumadewi Priraharjo. 2007. Masalah Pendidikan di Indonesia. (http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia/, diakses pada 31 Maret 2012 Pukul 21.30 WIB)
Sudaryanto. 2012. Sekolah dalam Habituasi Bohong. (SOLOPOS, Kamis Kliwon, 22 Maret 2012)
http://insancendekiaska.org/profil
http://insancendekiaska.org/kurikulum
http://insancendekiaska.org/kegiatan-penunjang
http://insancendekiaska.org/fasilitas
Tuesday, 28 February 2012
Penangsang, sang pemimpin Jipang, memiliki watak yang tegas, keras dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan. Penangsang begitu marah setiap kali ia disama-samakan dengan ayahandanya, Pangeran Sekar. Ia lebih memilih menjadi dirinya sendiri.
Sultan Trenggono hendak menaklukkan Blambangan yang belum juga mau bergabung dengan Demak Bintoro. Blambangan malah bekerja sama dengan Portugis di Malaka. Dalam perjalanan menuju Blambangan, Trenggono gugur oleh seorang penyusup. Musuh itu menyusup menjadi abdi dalem pembawa tempolong, tempat untuk meludah Sang Raja dari hasil kunyahan kinang.
Wafatnya Trenggono memunculkan permasalahan tentang siapa penggantinya. Sunan Kudus menjagokan Penangsang untuk diusulkan pada rapat dewan Wali. Sunan Kalijogo dan Sunan Muria mengusulkan Bagus Mukmin, nama kecil Raden Prawoto. Penangsang dengan tegas menolak pinangan Sunan Kudus. Ia berdalih ingin memajukan Jipang saja. Dia tidak tertarik untuk menjadi Sultan Demak. Akhirnya dengan berbagai bujuk rayu, Penangsang akhirnya mengiyakan pinangan tersebut.
Di sisi lain Bagus Mukmin pun menolak untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa tidak pantas. Tanganya mulai ringkih, matanya buta, kondisi fisik yang tak lagi prima untuk memimpin sebuah kerajaan besar sekaliber Demak Bintoro. Ragu, bimbang, dia bingung menyelimuti pikiran Mukmin hingga menjelang hari digelarnya Rapat Musyawarah Waliyul Amri. Ia juga dihantui rasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya sebagai dalang atas Tragedi Kali Tuntang yang menyebabkan Pangeran Sekar terbunuh.
Hingga akhirnya rapat Waliyul Amri pun digelar dengan suara Mayoritas memilih Bagus Mukmin. Ketika ditanyakan kepada Mukmin: “Apakah bersedia untuk menjadi Sultan Demak, Bagus Mukmin hanya diam dalam kebutaannya. Diamnya dianggap menyetujui oleh Dewan Wali. Mukmin semakin gugup, bingung tak tahu harus berbuat apa. Padahal jauh-jauh hari ia sudah mengungkapkan bahwa dia tidak mau untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Itu pulalah yang membuat Penangsang mau mendatangi Rapat Dewan Wali. Sedianya ia tidak mau datang sama sekali. Sunan Kudus menyatakan bahwa jika Penangsang tidak mau datang, sebagai calon Sunan Demak maka Kerajaan Demak Bintoro terancam mengalami kekosongan raja.
Namun setelah terjadi pemilihan Sultan Demak, dihasilkan keputusan bahwa Mukmin sebagai Sultan Demak Bintoro pengganti Sultan Trenggono. Marahlah Penangsang atas kejadian itu. Bukan kemarahan karena dia yang tidak terpilih. Namun ia marah karena informasi yang selama ini diterimanya tidak benar. Informasi bahwa Mukmin menolak dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa dibohongi. Ia merasa dipermainkan atas kejadian tersebut. Ia merasa dipermalukan di rapat Dewan Wali seolah dia menjagokan diri lalu kalah dengan Mukmin. Padahal tidak sama sekali. Ia sedikit pun tidak tertarik dengna tahta sebagai Sultan Demak.
Wednesday, 1 February 2012

Pangeran sekar begitu marahnya karena merasa haknya dirampas oleh waliyul amri yang memberikan tahta sultan demak bintoro ke tangan Trenggono, adik lelakinya beda ibu. Ia merasa dialah yang lebih tepat menjabat sultan karena dia lebih tua. Sesungguhnya dia sudah merasa dilangkahi ketika waliyul amri memilih pati unus, adik lelakinya, sebagai sultan demak menggantikan ayahanda Raden Fatah. Memang di kesultanan demak bintoro tidak berlaku konvensi lama yang mengakar di kerajaan-kerajaan nusantara dimana seorang anak lelaki tertua secara otomatis menjadi putera mahkota yang kemudian diproyeksikan sebagai pengganti kedudukan raja kalau sang raja lengser. Kesultanan demak dengan tatanannya sendiri memiliki kaidah bahwa segala keputusan penting pada kesultanan harus mendapat restu atau dimusyawarahkan dulu dalam rapat waliyul amri. Waliyul amri sendiri adalah sekelompok ulama sebagai penasihat raja dan sebagai tempat meminta pertimbangan bagi raja dalam memutuskan perkara atau kebijakan. Waliyul amri juga memegang peran sebagai penyebar dakwah islam di tanah jawa. Dengan adanya waliyul amri ini, kedudukan raja atau sultan di kerajaan demak tidak sesakral, sehebat, sekuat raja-raja kerajaan nusantara era sebelumnya seperti sriwijaya dan majapahit. Raja bukan sebagai pengejawantahan Tuhan di muka bumi. Akan tetapi kekuasaannya dibatasi dan terkendali oleh Waliyul Amri.
Dengan demikian, tidak aneh jika pengganti Raden Fatah adalah justeru anak bungsu: Pati Unus bukan pangeran sekar atau trenggono. Dengan terpilihnya Pati Unus, sebenarnya pangeran sekar sudah merasa haknya dirampas. Karena ia masih beranggapan dan masih terpatri dalam jiwanya bahwa pengganti raja adalah anak laki-laki tertua. Ia bisa menerima keputusan waliyul amri itu setelah menerima penjelasan tentang alasan mereka mengangkat pati unus.
Pati unus memerintah demak hanya dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Waktu yang relatif pendek untuk mengurus sebuah pemerintahan besar seperti demak. Mangkatnya pati unus ini diikuti musyarawah waliyul amri untuk menentukan penggantinya. Pangeran sekar dengan PD dan yakin dirinya yang terpilih menggantikan adiknya sebagai sultan demak. Akan tetapi yang diputuskan waliyul amri tidak demikian. Waliyul Amri mengangkat Trenggono sebagai sultan demak pengganti Pati Unus. Sontak, marahlah Pangeran Sekar dengan keputusan Waliyul Amri ini. Dia merasa sudah bersabar selama tiga tahun untuk mendapatkan haknya ternyata tidak membuahkan hasil. Pangeran sekar merasa dihianati, dianaktirikan, dizalimi waliyul amri. Berbagai upaya dilakukan Bupati Jipang Panolang ini untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Demak, khususnya waliyul amri. Pangeran sekar berhasil mencuri Keris Brongot Setan Kober yang merupakan keris pusaka keraton yang digunakan untuk upacara pelantikan Trenggono menjadi Sultan Demak.
Dengan keris pusaka itu Pangeran Sekar marah-marah di pendopo Kesultanan Demak menuntut hak yang dirasanya dirampas oleh pemerintah Demak.Untunglah tidak sampai terjadi kekisruhan yang begitu berbahaya dari peristiwa itu.
Sunan Kudus, sebagai guru Pangeran Sekar, yang merupakan pemimpin waliyul amri berhasil meredam amarah Pangeran Sekar. Sunan Kudus berhasil membujuk Pangeran Sekar untuk tidak berbuat nekat. Keris Brongot Setan Kober berhasil diminta dan disimpan di Panti Kudus, sehingga tidak disalahgunakan oleh Pangeran Sekar.
Keris yang tersimpan di Panti Kudus dicuri oleh Bagus Mukmin (Prawoto) dan kemudian digunakan untuk menghabisi Pangeran Sekar di Kali Tuntang. Prawoto berpikir bahwa pembuat onar dan kekisruhan harus dimusnahkan. Pangeran Sekar dianggapnya akan mengkudeta pemerintahan ayahnya.
Wafatnya Pangeran Sekar ini meninggalkan empat orang istri yang masing-masing mengandung anaknya. Dari masing-masing istri inilah kemudian lahir Penangsang, Mataram, Panuntun, dan Panuntas. Penangsang dilahirkan dari istri Pangeran Sekar dari anak Bupati Jipang Panolang. Dengan demikian, kelak Penangsanglah yang menggantikan ayahandanya menjadi Bupati Jipang Panolang yang wilayahnya terluas diantara kabupaten-kabupaten lain di Demak.
Monday, 10 October 2011

Thursday, 15 September 2011
Haryo Songosongo adalah seorang prajurit gagah berani dan pantang mundur. Haryo Songosongo memiliki tipe yang bicaranya singkat, tegas dan serba penting, mencerminkan wataknya yang berjiwa prajurit. Bukan tipe prajurit yang gentar ketika melihat kekuatan musuh. Tidak jatuh mentalnya ketika melihat rival. Dan itulah yang justeru kini banyak diungkapkan oran-orang yang sedang bertanding. Entah itu bertanding dalam bentuk perlombaan dengan banyak peserta atau tanding satu lawan satu. Seperti cerita seseorang yang merasa sudah kalah ketika lomba belum dimulai. “Waduh, lha lawannya kayak gitu, sementara aku hanya memiliki kemampuan yang pas-pasan. Wah… gimana, ya” Senada dengan itu kira-kira yang sering kita dengar dari orang-orang yang kalah sebelum bertanding.
Kita tentunya masih ingat pertandingan sepak bola antara Timnas Indonesia melawan Iran beberapa waktu lalu. Hampir semua pemain dan oficial tim tidak memiliki gambaran untuk menang melawan Iran. Bahkan komentator di TV-TV pun hanya berujar, “Kita tahu diri, lah. Minimal kita bisa mengimbangi permainan iran. Sehingga kita bisa membawa pulang minimal satu poin (hasil seri). Pikir saya waktu itu kok, tidak dikobarkan semangat pada para pemain. Kok, sudah seolah merelakan kalah sebelum bertanding. Kalau semangat terus dipupuk, kegigihan tingkatkan luar biasa, dan optimisme selalu dijaga, tentunya dengan usaha yang menunjang, bisa jadi kita akan melihat hasil yang berbeda. Seperti halnya kegigihan dan ketidakgentaran Haryo Songosongo tidak gentar entah siapa pun musuh tanding di hadapannya.
Kegigihan, ketegasan, dan keadilan yang dimiliki Haryo Songosongo inilah yang digadang-gadang menjadi pewaris negeri Lesanpura menggantikan kakeknya, Ugrasena. Akan tetapi, tak lama rakyat Lesanpura merasakan kemakmuran di bawah raja baru Haryo Songosongo, perang besar Bratayuda ditabuh. Haryo Songosongo akhirnya turun ke medan laga membela Pandawa yang harus berperang melawan sepupunya Kurawa. Di medan perang Kurusetra Haryo Songosongo mengamuk. Menjadi prajurit yang begitu ditakuti lawan. Ngeri rasanya setiap prajurit Kurawa setiap melihat gelagat Haryo Songosongo. Sehingga kehadiran Haryo Songosongo di Kurusetra membela Pandawa ini menjadikan kekuatan yang begitu besar bagi Pandawa. Begitulah seharusnya watak kita sebagai orang beriman. Andai setiap musuh melihat kita, maka mereka akan gentar dan ciut nyali. Maka tidak heran kalau dalam Al Quran bahwa seorang yang beriman mampu mengalahkan 200 orang musuh. Mengalahkan dalam segala hal. Seharusnya begitu. Dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, lebih-lebih pribadi dan kultur untuk membangun peradaban. Kita seharusnya pemenangnya.
Kembali ke Haryo Songosongo. Karena jasanya, setelah perang Bharatayuda berakhir, ia diangkat sebagai senapati perang negara Astina di bawah pemerintahan Prabu Parikesit. Jabatan raja negara Lesanpura kemudian ia serahkan kepada putranya, Arya Nabantara.
Wednesday, 14 September 2011
UNTUKMU YANG BERLARI
Kawan ...
Kaulah yang menyadarkanku.
Saat ku membuka mata,
kau mulai berdiri.
Saat ku mulai bangun mengikutimu,
Engkau mulai berjalan.
Saat aku tertatih belajar berjalan,
kau percepat langkah kakimu.
Kau meberiku isyarat untuk tidak berhenti
karena berhenti menjadikan kita tak sampai
Dan kini Kau sudah berlari
cepat sekali larimu
dan tak sanggup lagi kulihat kau di depan sana.
Hanya ingatanku yang masih lekat
bahwa kau pernah membangunkanku, mengajakku berjalan, berlari
karena mereka jauh lebih cepat larinya
karena mereka jauh lebih ringan membawa dirinya
Dan kau katakan pula, jangan ikuti mereka
Tapi, Kawan ...
kini Kau sudah berlari
cepat sekali larimu
dan tak sanggup lagi kulihat kau di depan sana
Aku berharap kan berjumpa kau di sana.
Kawan ....
Aku juga tak ingin berhenti.
Kawan, teruslah tinggalkan jejakmu agar kuikuti
Walau kini tak lagi kulihat kau didepanku,
Aku yakin kau sudah jauh sekali di depan sana.
Dan aku pun akan ke sana.
7 Agustus 2011, SDIT ULIN NUHA Wuryantoro Wonogiri
Entah mengapa, "ujug-ujug" kutuliskan itu di SDIT ini. Sederhana saja. Tadi pagi aku buka FB saya di tag teman dalam note-nya. Langsung kucoment note temanku itu. Belum sempat mengklik tombol "coment", eh... anakku ngajak gojek. Hilanglah sekian yang telah kutulis. Menyesal sekali rasanya. Tapi yang namanya ide, masih tersimpan pula ia di kepalaku. Langsung masuk menunaikan amanah. Belajar bersama anak-anak super ini, sampai hampir kering tenggorokan ini. Mereka tanya ini itu. Luar biasa. Saat anak-anak berlatih. Saya menunggui. Kok yang sayat tulis tadi pagi di HP untuk mencoment temanku itu makin kuat di kepalaku. Jadilah kualirkan di sini.
Sekian banyak dan sekian beragamnya yang terdapat dalam benak ini. Saat bersepeda, saat di kelas, saat menggendong si kecil. Tapi tak juga sesuatu pun yang tertoreh. Karena apa ya... . Apa memang tak juga kubisa menorehkan yang ada dikepalaku ini ke dalam simbol A B C D E ... . Apa aku tak punya bakat tentang begituan. Ah... entahlah.
Padahal kalau ditengok, kawan-kawan yang begitu indah dalam bertutur. Sampai yang beringas dalam menorehkan isi kepalanya. Sama. Makannya nasi putih. Tidurnya merem (yang mungkin mereka tambah ngorok). Uh... snacknya sudah datang. Biar aku bisa terus berjalan. Maka ku akhiri dan tak ngambil snack itu. O..ho..ho.....
Setelah shalat dhuha, aku masuk di kelas 4 untuk materi pelajaran IPS. Tiga jam pelajaran tersedia untukku. Anak-anak kelas 4 saya ajak ke pinggiran Waduk Gajah Mungkur yang memang menggenang hingga dekat sekolahan. Kalau waduk sedang pasang, hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari sekolah. Akan tetapi kalau waduk sedang surut karena kemarau seperti saat ini, air menjauh sekitar 500 meter dari sekolahan. Begitu riangnya anak-anak saya ajak ke pinggiran Waduk Gajah Mungkur. Materi yang tersedia untuk kami pelajari pagi ini adalah kenampakan alam beserta pengaruhnya bagi kehidupan sosial. Waduk memang merupakan salah satu kenampakan alam buatan. Sehingga masih nyambung dengan materi yang harus kami pelajari di pagi ini.
Belajar dengan latar belakang alam, sungguh terasa berbeda. Pikiran ini selalu segar. Rasa bosan seolah absen dari setiap diri kami. Walau tubuh kami mulai keluar bulir-bulir keringat, tapi semangat ini tetap terjaga.
Dua jam pelajaran sudah kami lalui dengan menyenangkan. Satu jam terakhir kami gunakan untuk saling bercerita dan bertanya jawab mengenai berbagai hal yang ada hubungannya dengan materi pembelajaran. Anak-anak super ini tiada berhenti bertanya. Ada yang tanya: mengapa dibuat waduk segala?, Airnya kok surut itu menghilang kemana?, Yang terlihat dari sini itu pegunungan atau gunung apa? Dan serentetan pertanyaan lainnya. Tak hentinya mereka bertanya dan bercerita.
Mendekati jam pelajaran usai, anak-anak saya ajak kembali ke sekolah. Hanif, salah satu dari mereka, menemukan sebuah potongan pralon yang kemudian dibawa ke kelas. Pralon yang sengaja dipotong pak Tani karena sudah mengalami kebocoran barang kali.
Sampai di kelas mereka menumpahkan rasa lelah ke lantai keramik yang dingin. Ada yang duduk-duduk ada yang tiduran di lantai yang telah mereka sapu pada pagi harinya. Aku pun duduk di antara mereka. Sambil bercerita untuk berakrab-akrab dengan mereka.
Hanif sejak kedatangannya tadi asyik bermain pralon yang ia temukan. Saat pralon itu dia masukkan ke tangan, dia menggerak-gerakkan maju mundur dan memutar pralon itu. Misbah yang berada di belakang Hanif terkena ujung pralon itu. Terlihat membarut di samping mata kiri hingga pipi Misbah. Darah pun keluar dari luka di wajah Misbah itu. Misbah merintih kesakitan. Akhirnya Misbah kami bawa ke kantor guru untuk mendapatkan perawatan.
Akhirnya darah pun mampet dan Misbah bisa mengikuti pelajaran kembali. Hingga waktu istirahat panjang untuk salat dhuhur dan makan siang tiba. Semua siswa SDIT Ulin Nuha mempersiapkan diri untuk mengambil air wudhu. Seusai salat, mereka mengantri untuk makan siang. Misbah, Hanif, Berli, Sidiq, Tama, Yusak bergerombol makan bersama membentuk lingkaran. Aku mendekati mereka. Mereka sedang asyik makan sambil bercerita dan saling berbagi lauk. Aku langsung mengikuti canda tawa mereka. Aku menyeru, "Hanif, tadi sudah minta maaf sama Misbah belum? Itu Misbah kasihan wajahnya sampai keluar darahnya. Sakit, lho!" Hanif dengan rasa bersalahnya dan sedikit ketakutan menjawab, "E...e...Sudah, kok pak." Aku lihat mukanya merah padam. Hanif malah menunjukkan air muka hampir menangis. Tampaknya ia takut kalau aku marah padanya. Dan akupun merasa bersalah telah menegur demikian. Di saat itulah Misbah menyambung dengan tulusnya, "Sudah, kok pak. Hanif tadi sudah minta maaf. Saya nggak apa-apa, kok. Kan Hanif tadi nggak sengaja, ya Nif." Subhanallah, mereka benar-benar anak-anak super.
Dengan celetukan Misbah tadi, Hanif kembali riang. Hilang rasa takutnya. Dan canda tawa pun berlanjut kembali. Kemudian aku meninggalkan mereka dengan menitip pesan,"Lain kali, kalau bermain hati-hati, ya!"
Sunday, 21 August 2011
Ketika ibadah Ramadhan tahun lalu kita akhiri, salah satu harapan yang merasuk kedalam jiwa kita adalah keinginan untuk bisa menjumpai dan menikmati bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Insya Allah, harapan itu akan terpenuhi, karenanya kita berharap semoga Allah Swt benar-benar menyampaikan usia kita pada Ramadhan tahun ini.
Kalau kita begitu berharap bisa menikmati kembali ibadah Ramadhan pada tahun ini, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Karena itu, kehadiran Ramadhan tahun ini yang tidak akan kita sia-siakan begitu saja. Sebagai orang yang gembira atas kedatangan kembali Ramadhan dan kita bisa memasukinya, maka target yang ingin kita capai adalah mendapatkan nilai-nilai keistimewaan dari bulan Ramadhan itu sendiri sebagai titik awal untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. Lalu, selain keharusan berpuasa sebulan penuh, apa saja keistimewaan bulan Ramadhan itu?.
1. BULAN AL-QUR’AN
Ramadhan seringkali disebut dengan Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an), karena awal diturunkannya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan. Dengan berpedoman pada Al-Qur’an, niscaya perjalanan hidup manusia menjadi terarah dan memberi kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kemakmuran serta keadilan. Banyak dari kita, kaum muslimin yang sudah jauh dari Al-Qur’an, mulai dari jauh dalam bentuk tidak bisa membacanya, bisa membaca tapi tidak rajin membacanya, rajin membaca tapi tidak memahaminya, memahami tapi tidak mengamalkannya atau sudah mengamalkannya tapi baru untuk dirinya sendiri, belum merangsang atau mengajak orang lain untuk mengamalkannya.
Oleh karena itu, sebagai bulan Al-Qur’an, Ramadhan mengingatkan dan mengetuk hati kita untuk memperkokoh komitmen kepadanya. Bila Ramadhan yang segera kita masuki telah berakhir dan komitmen kita kepada Al-Qur’an semakin kuat, hal itu merupakan indikasi dari keberhasilan ibadah Ramadhan kita, sehingga dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu berpedoman kepada Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memang berfungsi sebagai petunjuk dan dalam menilai sesuatu, kitapun menggunakan Al-Qur’an sebagai tolok ukur, karena Al-Qur’an memang berfungsi untuk membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah), Allah berfirman yang artinya: Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS 2:185).
2. PINTU SYURGA DIBUKA, NERAKA DITUTUP.
Setiap muslim pasti ingin sekali bisa masuk syurga dengan segala kenikmatannya dan terhindar dari neraka dengan segala kesengsaraan dan penderitaannya. Ramadhan adalah bulan yang amat memberi peluang kepada kita untuk meraih syurga dan menghindar dari neraka. Namun ini sifatnya tidak otomatis bersamaan dengan datangnya Ramadhan, tapi itu bisa kita raih manakala Ramadhan ini kita penuhi dengan segala bentuk kebajikan, sekecil apapun kebajikan yang kita lakukan itu.
Ramadhan yang merangsang kita untuk melaksanakan segala aktivitas kebajikan akan menghantarkan kita ke pintu syurga yang seluas-luasnya, bahkan bagi orang yang berpuasa, Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan ada pintu khusus untuk masuk syurga itu yang dinamakan dengan Ar Royyan. Sementara dengan ibadah Ramadhan yang sebaik-baiknya, seorang muslim semakin kecil peluangnya akan kemungkinan masuk ke dalam neraka. Itulah salah satu maksud pintu syurga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat dengan sebab puasa Ramadhan sebagaimana hadits Nabi Saw:
Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukhari dan Muslim).
3. MEMBELENGGU SYAITAN
Hadits di atas juga menyebutkan dibelenggunya syaitan-syaitan ketika Ramadhan tiba, hal ini karena dengan telaksananya ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya, syaitan merasa amat sangat sulit mencapai keberhasilan dalam menggoda manusia, sehingga selama Ramadhan itu, syaitan betul-betul merasa terbelenggu atau sangat terbatasi keleluasaannya dalam menggoda manusia.
Dengan demikian, sebagai muslim, kita harus aktif dalam membelenggu syaitan melakukan aktivitasnya menyesatkan manusia, dan bulan Ramadhan adalah kesempatan yang amat baik untuk melatih kekuatan rohani kita untuk bisa membatasi ruang gerak syaitan dalam diri kita masing-masing.
4. AMPUNAN DOSA.
Ibadah Ramadhan yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya juga akan memberi keuntungan atau keistimewaan bagi kita dengan diampuninya dosa-dosa kita dimasa lalu oleh Allah Swt. Ini merupakan peluang yang sangat besar yang diberikan Allah dan kita tidak boleh mensia-siakan kesempatan ini. Kenapa demikian?. Karena sudah begitu banyak dosa yang kita lakukan, dosa anak kepada orang tua, dosa orang tua kepada anak, dosa isteri kepada suami, dosa suami kepada isteri, dosa pemimpin pada rakyat, dosa rakyat pada pemimpin, dosa murid kepada guru, dosa guru kepada murid dan begitulah seterusnya. Rasulullah Saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari).
Kalau peluang yang begitu besar ini kita abaikan, peluang mana lagi yang ingin kita ambil. Memang tahun depan, Ramadhan akan kembali tiba kalau kiamat belum terjadi, tapi yang jadi masalah adalah usia kita yang belum tentu sampai, sebagaimana banyak orang diantara keluarga, teman, jamaah dan masyarakat kita yang sudah tidak bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan tahun ini karena mereka telah meninggal dunia..
5. MEMPERKUAT BENTENG PERTAHANAN.
Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah Saw menyatakan: ash shiyamu junnatun (puasa itu adalah benteng). Dalam suatu peperangan, diperlukan benteng untuk memantapkan pertahanan. Dalam kehidupan seorang muslim, terjadi kecamuk perang dalam jiwanya antara yang haq dan yang bathil. Untuk bisa memenangkan peperangan itu, seorang muslim harus memiliki benteng pertahanan yang kuat sehingga bisa menghalau segala godaan syaitan.
Puasa sebagai upaya memperkuat benteng pertahanan rohani merupakan sesuatu yang amat penting. Tersebarluasnya kemaksiatan dan kemunkaran, sulitnya memperkokoh persatuan Islam dan umat Islam pada hakikatnya adalah karena lemahnya kekuatan rohani yang membuat syaitan menjadi begitu berkuasa atas diri kita. Karena itu, dalam kondisi kehidupan masyarakat kita yang masih amat jauh dari nilai-nilai Islam, peran puasa Ramadhan menjadi sesuatu yang amat mendasar dalam membentengi jiwa umat dalam menghadapi godaan-godaan syaitan yang tiada henti.
6. PAHALA BESAR
Keistimewaan penting dari bulan Ramadhan adalah diberikannya pahala yang begitu besar kepada siapa saja yang melakukan kebajikan atau amal yang shaleh. Hal ini akan membuat kita semakin terlatih atau terbiasa untuk melakukan amal-amal yang shaleh. Sebagai sebuah contoh, untuk orang yang memberi makan atau minum kepada orang yang berbuka puasa, maka Allah Swt akan memberikan pahala puasa orang yang diberi makan atau minum itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
Ibadah Ramadhan memang memberikan janji perolehan pahala yang besar. Dengan pahala yang besar itu kita terangsang untuk beramal shaleh yang sebanyak-banyaknya, lalu kita menjadi terbiasa melakukannya.
Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa, begitu banyak keistimewaan bulan Ramadhan yang membuat kita tidak boleh mengabaikannya begitu saja. Karena itu, kehadiran Ramadhan pada tahun ini akan kita optimalkan sebagai momentum untuk meningkatkan proses tarbiyyah (pendidikan) bagi diri, keluarga dan masyarakat kita kearah terwujudnya pribadi, keluarga dan masyarakat yang selalu berada dalam ketaqwaan kepada Allah Swt.
Wednesday, 17 August 2011
Gempita ramadhan datang disambut luar biasa
Masjid dicat, sajadah dicuci, karpet dibersihkan
Kawan-kawan menentukan target-target ibadah untuk dicapai
Tapi mengapa diri ini belum juga tergerak untuk menyambutnya
Ya Rabb…
Padahal kita diperintah untuk menyambutnya dengan hati yang riang
dengan mempersiapkan diri menyambut bulan suci
Ya Rabb…
Sesungguhnya sangat ingin diri ini pun menyambutnya
Tapi mengapa tidak bisa
Sesungguhnya diri ini sangat ingin mempersiapkannya
Tapi tak berdaya
Ketika ramadhan benar-benar datang
Kawanku puasa dengan asyiknya
Tadarus bersama dengan indahnya
Buka bersama dengan akrabnya
Tapi diri ini kaku menjalaninya
Diri ini memaksa untuk turut pula berpuasa
Memaksa untuk shalat tarawih bersama
Tadarus terlewat entah oleh apa
Tanpa kurasa nikmat puasa
Ya Rabb…
Betapa iri melihat mereka menikmati puasa
Betapa ingin diri ini menikmatinya
Tapi tak kuasa
Kawanku telah khatam Al Quran satu dua tiga kalinya
Qiyamul lail selalu dikerjakannya
Shalat dhuha tidak terlupa
Tindak buruk dijauhinya
Ia menikmati betul puasanya
Ya Rabb…
Mengapa aku tak bisa
Betapa iri diri ini melihat kawanku itu sujud dengan nikmat
Ia berdoa dengan penuh kepasrahan
Ia meminta dengan tawadhuk
Mengapa aku hampa dalam berdoa
Mengapa tak khidmat dalam beribadah
Monday, 15 August 2011
Sore itu, Mbah Wid menyapu dedaunan yang mengotori masjid. Anak-anak TPA masjid Al Hikmah mulai berdatangan. Seperti biasa, setiap TPA masuk pasti ada penjual jajanan anak yang mangkal di sekitar masjid. Anak-anak TPA selalu tergoda untuk jajan dari penjual-penjual itu. Sampah plastik, kertas, atau daun bungkus makanan biasanya dibuang sembarangan oleh anak-anak TPA. Padahal di sekitar halaman masjid sudah ada tempat sampah. Mbah Wid rajin membuang sampah ketika tempat sampah itu sudah penuh. Mbah Wid pula yang kemudian membakar sampah-sampah itu.
Ibnu, Dimas, dan Catur datang bersamaan di masjid itu ketika Mbah Wid sedang menyapu sejak selesai sholat ashar. Ibnu, Dimas, dan Catur langsung menuju penjual-penjual yang sudah mangkal. Ibnu, Dimas, dan Catur membuang bungkus jajanan mereka di halaman masjid seenaknya. Hal itulah yang membuat Mbah Wid marah-marah. “Hai, anak-anak! Kalian tidak lihat apa? Di situ kan sudah ada tempat sampah. Dibilangin berkali-kali kok susah amat, sih kalian!” bentak Mbah Wid. Anak-anak langsung lari menjauh dari Mbah Wid menuju pojok masjid. Belum lama dibentak, mereka bermain sampai menimbulkan gaduh. Mbah Wid melotot sambil marah-marah, “Hei, kalian! Kalau ramai jangan di masjid! Emangnya ini rumah kakekmu? Ini rumah Allah, tidak boleh ramai kaya gitu di sini! Ngapain ke mesjid kalau cuma mau ramai?”
Ibnu, Dimas, dan Catur langsung diam. Ketika Mbah Wid pulang, Ibnu menggerutu kepada kedua temannya, “Iih, udah kakek-kakek gitu kok galaknya minta ampun. Jadi males ke mesjid aku.” Dimas dan Catur mengangguk tanda setuju. Catur menambahi, “Iya, aku aja di rumah tidak pernah dibentak-bentak, kok di sini malah dibentak-bentak.” Melihat Kak Yudi sudah datang ke mesjid, mereka langsung bersiap menyambut Kak Yudi, pengajar TPA masjid Al Hikmah.
“Ada apa kok kelihatannya manyun gitu?” tanya Kak Yudi pada mereka bertiga. “Itu lho, Kak, Mbah Wid selalu marah-marah kepada kami. Apa-apa gak boleh. Terus kami dibentak-bentak. Orang kok marah-marah terus sama kita-kita” penjelasan Ibnu pada kak Yudi. “Eh, Ibnu! Anak sholeh gak boleh gitu. Mbah Wid itu marah pasti ada sebabnya. Beliau memiliki kecintaan yang besar terhadap kebersihan masjid ini. Kecintaan beliau kepada Allah juga sedemikian besar. Makanya beliau tidak tega kalau yang dicintainya dikotori” penjelasan Kak Yudi pada Ibnu, Catur, dan Dimas. “Tapi kan gak perlu membentak-bentak gitu setiap hari, Kak!” Catur membela diri. “Ya sudah, ini sudah jam setengah lima, ayo segera kita mulai kegiatan TPA-nya!” ajak Kak Yudi.
--*--
Sudah sejak subuh tidak terdengar lantunan adzan yang biasanya dikumandangkan Mbah Wid. Waktu sholat ashar pun tidak ada yang melantunkan adzan di masjid Al Hikmah. Sore itu TPA Al Hikmah masuk. Ibnu, Catur, dan Dimas juga kelihatan sudah datang di mesjid. Mereka membawa jajanan di tangan masing-masing. Mereka makan dengan asyik di serambi masjid. Mereka tidak begitu peduli terhadap keadaan halaman yang kotor karena dedaunan, juga sampah dari bungkus jajanan anak-anak TPA.
Ibnu, Catur, dan Dimas mulai bercanda tawa. Tidak lama kemudian, kegaduhan terjadi di serambi masjid itu. Ibnu, Catur, dan Dimas adalah aktor utama dari kegaduhan itu meskipun ada juga andil anak-anak TPA yang lain. Dimas yang di tangannya masih memegang siomay, tertabrak Ibnu saat kejar-kejaran dengan Catur. Siomay itu tumpah mengotori serambi masjid yang sejak subuh tidak disapu ataupun di pel. “Aduh, gimana sih kalian? Siomay ku tumpah, kan jadinya!” seru Dimas kepada temannya. Ibnu dan Catur malah tertawa terkekeh-kekeh. Beberapa saat kemudian Ibnu langsung mengejar Catur. Catur berlari, dan tanpa sadar Ibnu menginjak tumpahan siomay di lantai. Ibnu terpeleset, “Gedebukkk!!” Ibnu terjatuh. Kepalanya terjeduk lantai masjid. Ibnu menangis kesakitan memegangi kepalanya. Catur, Dimas, dan anak-anak yang lain panik. Kepala Ibnu terlihat benjol kebiruan.
Kak Yudi datang kira-kira jam setengah lima sore. Kak Yudi kaget melihat anak-anak panik dan Ibnu menangis memegangi kepalanya yang benjol. Dimas kemudian memberi penjelasan atas kejadian yang baru saja terjadi. Kak Yudi menenangkan Ibnu sambil menasehatinya. “Ibnu, itulah hasil kalau suka bermain-main tak karuan. Itulah sebabnya Mbah Wid selalu mengingatkan pada kalian. Mbah Wid membentak-bentak kalian sebenarnya hanya tidak ingin kejadian seperti ini terjadi. Apalagi lantainya sampai kotor seperti itu,” terang Kak Yudi. “Tapi, Mbah Wid selalu ngomel gitu,” Catur protes. “Catur, itu cara Mbah Wid agar kalian nurut. Beliau cinta kepada kalian, makanya dia sampai rela berteriak-teriak. Hanya agar kejadian seperti sore ini tidak terjadi. Nyatanya, saat Mbah Wid tidak ada seperti sekarang ini, kalian bermain-main tidak karuan di masjid. Akhirnya sampai ada yang menangis kesakitan, kan! Mbah Wid berkeingingan juga agar kalian mencintai kebersihan. Allah kan mencintai orang yang menjaga kebersihan.” Terang Kak Yudi pada anak-anak. Anak-anak akhirnya memahami.
Oleh: Dwi Wahyudi
Saturday, 13 August 2011
Besarnya empati rakyat Indonesia kembali terbukti terketika Darsem, TKW asal
Jawa Barat, menjalani masa hukumannya di Arab Saudi yang konon sedang
menanti eksekusi hukuman pancung kepadanya. Tuduhan yang diterima Darsem
adalah karena dia melakukan pembunuhan terhadap majikannya. Nyawa anak
negeri seolah tak dihargai di negeri orang. Sungguh ironis. Negeri dengan umat
muslim terbanyak ini seolah tak memiliki kewibawaan yang membuat negeri
seberang sana menaruh hormat. Terbukti dakwaan pembunuhan pun sudah menanti
Darsem, yang konon dia melakukan pembunuhan hanya karena membela diri dari
usaha perkosaan yang akan dilakukan majikannya. Kita yakin bahwa pihak
manapun akan membela Darsem ketika dia mendapakan perlakuan yang demikian
dari Pemerintah Arab Saudi itu.
Publik Indonesia secara serentak melakukan pembelaan terhadap Darsem. Apapun
yang dapat mereka lakukan untuk mendukung Darsem. Dari mulai demo di kedubes
Arab Saudi di Indonesia, demo di jalan-jalan, membuat tulisan di media, melakukan
doa bersama, mengumpulkan uang untuk darsem, dan lain-lain. Pemerintah pun
akhirnya memberikan perlindungannya kepada salah satu anak negeri ini.
Pemerintah melakukan mediasi dengan pihak Arab Saudi untuk Darsem. Akhirnya
dihasilkan kesimpulan bahwa Darsem bisa bebas dari hukuman pancung tapi harus
membayar denda sekitar 4,6 milyar rupiah. Jelas untuk ukuran TKW seperti
Darsem, denda itu serasa mustahil dipenuhi.
Tanah air menyambut keputusan itu dengan berbagai reaksi. Di antaranya adalah
pengumpulan uang secara mendadak oleh rakyat yang akan disumbangkan untuk
Darsem. Untuk memenuhi denda yang dilayangkan kepadanya. Akan tetapi
pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah segera menebus denda Darsem dengan
uang negara. Sementara uang sumbangan dari rakyat yang telah terkumpul
kemudian tetap diberikan kepada Darsem.
Sampai di sini, kita pasti terhenyak dan terenyuh melihat empati rakyat Indonesia
yang begitu besar terhadap saudaranya setanah air itu. Itu bukti keikhlasan mereka
untuk sebuah persaudaraan. Seolah hendak membuktikan bahwa kita, rakyat
Indonsia, memiliki ikatan yang kuat. Kita saling menanggung, saling berbagi, saling
menyayangi. Ukhuwah itu masih ada pada kita.
Kemudian, setelah Darsem berhasil pulang. Sambutan haru begitu bergema.
Sambutan untuk saudara yang berhasil lolos dari lubang jarum. Ucapan selamat
mengalir untuk Darsem. Air mata mengalir untuk jiwa yang berhasil pulang tinggal
nama. Darsem pulang ke Subang, Jawa Barat dengan selamat.
Dengan uang bermilyar sumbangan dari saudaranya setanah air, ia menjalani
kehidupan barunya. Dia gunakan uang itu untuk kebutuhannya. Ia membeli
perhiasan, tanah, membangun rumah, mempersiapkan pesta khitan anaknya. Dan
tetangga Darsem pun akhirnya antipatik terhadap kelakuan Darsem. Mereka
menganggap Darsem ini tidak tahu diri.
Sungguh bisa dipahami ketika tetangga Darsem menganggapnya tidak tahu diri.
Karena kelakuan Darsem yang kemudian bergaya hidup gelamor jika dibanding
tentangga kanan kiri yang barang kali ikut juga menyumbang seperak dua perak itu.
Memang hak Darsem digunakan untuk apa uang yang ada di tangannya itu. Akan
tetapi dia tidak tahu diri. Dia tidak peka. Darsem tidak tahu cara berterima kasih kepada sekian
banyak orang yang rela mengumpulkan rupiah demi rupiah untuknya. Andai Darsem
tidak semencolok itu dalam membelanjakan uang sumbangan itu, tentu tak ada
reaksi yang demikian buruk dari masyarakat.
Akan tetapi bagaimanapun juga, itu uang Darsem pribadi. Kalau tanpa
memerhatikan dari mana asalnya, barangkali tidak akan ada masalah. Juga perlu
diperhatikan adalah jangan sampai berlebihan menanggapi "ulah" Darsem. Itu ujian
untuk sebuah keikhlasan. Agama mengajarkan bahwa keikhlasan adalah tidak
mengungkit-ungkit pemberian atau kebaikan yang pernah kita lakukan. Biarlah
Darsem dengan kontroversinya. Tapi kita lebih layak menunjukkan keikhlasan kita.
Sehingga itu akan menggambarkan bagaimana kepribadian kita, keikhlasan kita.
Darsem yang dengan kontroversinya, barangkali juga simbol untuk rakyat di negeri
ini. Nah, kita dituntut pembuktian. Apakah kita-kita ini jiwa dengankeikhlasan dan
kelapangan atau jiwa-jiwa yang terwakili oleh sebuah simbol: Darsem.
Wednesday, 25 May 2011
You Raise Me UpWhen I am down and oh my soul, so weary
When troubles come and my heart, burdened be
Then I am still and wait here in the silence
Until you come and sit a while with me
You raise me up so I can stand on mountains
You raise me up to walk on stormy seas
I am strong when I am on your shoulders
You raise me up to more than I can be
Friday, 4 March 2011

Begawan Padmanaba, luarbiasa. Sekian murid-muridnya menjadi orang sukses yang berbudi baik. Lihatlah Janaka, Kresna, Baladewa. Guru teladan.
Kresna, menjadi raja di Dwarawati dengan sekian cerita harumnya. Rakyat makmur, "gemah ripah loh jinawi". Musuh pun begitu hormat setiap kali mendengar nama Dwarawati. Kawula dan Narapraja begitu sinergi menciptakan kehidupan harmoni luar biasa. Menjadikan kerasa bagi siapa saja yang tinggal di sana. Kehidupan yang demikian bisa saja dimulai dari sosok pemimpin yang luar biasa hebat. Pemimpin itu namanya Kresna, yang sewaktu kecil memiliki nama Narayana. Dialah murid tercinta Begawan Padmanaba.Janaka, siapa pun pasti mengenal kelembutan wataknya. Kebaikan budinya. Akhlaknya yang demikian halus. Hebatnya, karakter yang demikian tidak menyatu pada diri yang lemah, mudah menyerah, atau tak punya daya juang. Kehalusan akhlak Janaka berpadu pada keberanian, pantang menyerah, dan perjuangan yang gigih pada setiap perjalanan hidupnya. Dia pula murid kesayangan Begawan Padmanaba.
Baladewa, Raja Mandura. Dia kebalikan dari Janaka. Dia begitu keras, tegas, dan berani. Keras, tegas, dan berani itu pun tidak menyatu pada pribadi yang kaku, penindas, dan mau menang sendiri. Baladewa sosok ratu yang memiliki kelembutan hati dan kepekaan perasaan di samping sosoknya yang dikenal beringas. Kita ingat, ketika masih kecil (waktu itu bernama Kakrasana) selalu berbakti pada ayah angkatnya dan dia tidak rela ayah angkatnya disakiti Kangsa, Penjajah di Mandura. Baladewa kemudian mampu menghempaskan penjajah itu dan menjadi Raja Mandura yang begitu berwibawa. Bahkan musuh pun menaruh hormat pada Mandura. Dialah Baladewa salah satu murid kesayangan Begawan Padmanaba.
Luar biasa memang, seorang guru itu...
Saturday, 29 January 2011

SMP Negeri 4 Pracimantoro menyandang status Sekolah Standar Nasional baru-baru saja. Luar biasa mengingat lokasi sekolah ini yang jauh di pelosok. Di bawah perbukitan Wonogiri wilayah selatan. Walaupun jauh dari hiruk pikuk kota yang mengusung modernitas, SMP N 4 Pracimantoro mampu tampil dengan mempertahankan kearifan lokal menjadi salah satu sekolah yang berstandar nasional.
Selamat datang di SMP N 4 Pracimantoro....
Mari bersinergi wujudkan Indonesia baru yang madani....
Tuesday, 28 December 2010
pepujaning ati…
koyo ngene…

wong nandang asmara…
Apa mung awakku dhewe
Duh Dewo Jawata keng welas
welas sono
mring wak mami
mBesok kapan-kapan
pangkon lan sliramu
tak umpamano nakhoda
tanpa prau
sasat darat den pepetri
Nyidam Sari asmara
Umpomo sliramu sekar melati
aku kumbang Nyidam Sari
Umpomo sliramu margi
wong manis, aku kang bakal nglewati
Sineksen lintange luku
semono janji prasetia ning ati
tansah sumantar ing netra rinoso
karasa arasaning ndriyo
Midero sak jagad raya paringana wukir
lan samudro nurhayu lan memanise
aku dadi ati selawase
Nalika nira ing ndalu atiku
lamlaman marang sliramu
nganti mati ora bakal lali
lha kae lintange mlaku
Wednesday, 22 December 2010

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 19 Desember 2010 anak-anak SMP N 4 Pracimantoro melakukan study tour ke kota Malang dan Surabaya. Ya, anak-anak yang sehari-hari bergelut dengan pegunungan/perbukitan di kawasan Pracimantoro bagian barat daya itu ingin jelajah kota. Melihat jembatan terpanjang di Indonesia tentunya menjadi pilihan menarik. Mereka benar-benar terkesima menyaksikan jembatan Suramadu yang menghubungkan antara Kota Surabaya dengan Pulau Madura.
Senang sekali mer
eka saat melihat Jembatan Suramadu. Ada yang melongo, ada yang berkomentar "Wooww...dowo ne raumum jembatan Suramadu."Setelah ke Suramadu, anak-anak melanjutkan perjalanan ke Museum Jala Crana TNI Angkatan Laut. Mereka dipaparkan oleh Guide mengenai barang-barang yang ada di Museum. Anak-anak dengan asyik mencatat untuk kemudian dilaporkan saat mereka ditagih untuk melaporkan hasil perjalanan study tour mereka. Di museum mereka bisa melihat kapal perang, baju-baju militer angkatan laut, kursi tandunya Pak Dirman. Asyik sekali mereka mencatat dan memfoto dengan kamera hp mereka. Ada yang action di samping persenjataan, ada yang action di samping kapal perang dan masih banyak lagi tingkah "ndeso" mereka.
Dari museum angkatan laut, mereka melanjutkan perjalanan ke "kapal rumah sakit" TNI AL yang dibernama Kapal dr. Soeharso. Mereka naik kapal yang besarnya melebihi gedung di samping dermaga di surabaya itu. Woooooww.....! besar sekali kapal itu. Karena memang kapal rumah sakit, di dalamnya pun ada semacam ruang-ruang dan peralatan layaknya di rumah sakit. Kata guidenya kapal itu baru saja pulang dari Wasior di Papua untuk menolong korban bencana di Wasior. Saat ada acara jumpa dengan awak kapal, Roi anak kelas 7B tanya, "Pak, Kalau bis berjalan dengan roda, lah kalau kapal berjalannya dengan apa?" tanya Roi lugu sekali. Ada pula Alvi yang tanya, "Pak, kalau membelokkan kapal itu bagaimana?" polos pula.
Dari kapal besar, anak-anak melanjutkan ke kota Malang. Nah, saat itulah yang sangat membosankan. Saat sampai di Sidoarjo, tepatnya di Porong, samping lumpurLapindo, perjalanan macet total. Dari jam 13.30 sampai jam 18.30 berada di bis yang berjalan teramat lambat. Keadaan itu membuat banyak anak-anak yang tadinya "kemaki" mulai mabok darat.













