Monday, 22 August 2016
Thursday, 23 June 2016
Mengajak orang lain untuk berbuat baik, meninggalkan kebiasaan buruk itu tidak bisa dikatakan mudah. Karena ini bertentangan dengan tabiat manusia yang cenderung suka enak, santai, bebas dan suka-suka. Manusia cenderung tidak suka diatur-atur oleh apa pun. Kecuali mereka yang memiliki ketundukan kepada Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka faham betul untuk merasakan bahagia dan sentausa adalah dengan mengikuti petunjuk yang telah diturunkan. Oleh karena itu, mereka tunduk kepada petunjuk itu demi kebahagiaan dalam kehidupannya. Rela mengekang nafsu dan tabiat santai, bebas, suka-suka karena itu semua berasal dari bisikan syetan yang hanya akan menjerumuskan pada keadaan jauh dari petunjuk.
Orang beriman selain tunduk dan patuh secara individu, memiliki tugas untuk menyebarluaskan petunjuk dari Allah swt itu kepada orang di luar dirinya agar kebahagiaan itu terwujud dalam kehidupan bersama. Proses menyebarluaskan inilah yang disebut dakwah. Dakwah itu ibarat jalan yang penuh duri. Tak mudah dilalui. Bisa mengakibatkan sakit pada diri. Tapi ia harus dilalui, agar bisa mencapai tujuan. Karena, kebahagiaan tak bisa diraih hanya dengan sholeh secara induvidu. Tetapi sosial.
Dalam proses mengajak, mengajarkan, menyebarluaskan petunjuk itu perlu seni. Perlu trik yang memungkinkan petunjuk itu bisa diterima orang yang memiliki kecenderungan suka enak, santai, bebas, tak mau diatur. Kalau tanpa seni, trik, dan tata cara yang cantik, orang-orang yang memang memiliki kecenderungan tersebut di atas justeru akan menjauh, kurang simpatik, bahkan memusuhi dan menghambat. Tentunya kita masih ingat kisah para Wali atau yang dikenal Wali Songo di tanah Jawa dalam berdakwah menyebarkan petunjuk dari Al Quran dan Sunnah. Mereka menghadapi masyarakat yang sudah lekat dengan keyakinan dan kepercayaan lama yang mendarah daging. Jelas, ajaran itu banyak yang bertentangan dengan ajaran dalam Al Quran dan Sunnah. Berbagai trik, seni berdakwah, maupun cara-cara nan cantik menjadikan dakwah yang mereka usung benar-benar menyebar luas ke seluruh penjuru Nusantara. Trik, seni berdakwah, tata cara nan cantik itu tentunya tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah itu sendiri. Mereka, para pendahulu dakwah di Nusantara tentunya faham betul tentang hal ini. Mereka ulama terkemuka, bukan hanya sekadar orang-orang yang mengaji satu, dua, atau tiga tahun kemudian seolah merasa sudah mafhum betul tentang halal haram.
Wali Songo itu ada yang utusan langsung dari Kekhalifahan Islam pada waktu itu ada pula ulama yang memang sudah menuntut ilmu ke Jazirah Arab langsung. Utusan dari kekhalifahan itu tentunya bukan orang sembarangan. Tentunya orang-orang pilihan. Sebutlah Maulana Malik Ibrahim, Jakfar Shodiq, Makdum Ibrahim dan lain-lain. Mereka ulama terkemuka. Mereka menghadapi kondisi masyarakat di Nusantara yang sudah berkeyakinan. Menganut kepercayaan meski tak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Justeru di sinilah titik kesulitannya. Mereka harus berdakwah kepada orang yang sudah terisi keyakinannya. Sulit untuk mengubah keyakinan yang sudah mereka percaya turun temurun dan mendarah daging. Akhirnya Wali Songo berhasil memasukkan Islam, menancapkan dakwah di Nusantara dengan berbagai seni dakwah nan cantik. Hampir tanpa penaklukan dengan pedang. Dakwah dengan penuh kedamaian. Dan kita di era sekarang merasakan umat Islam sebagai umat terbanyak di bumi Nusantara ini.
Namun, upaya Wali Songo dalam berdakwah dengan berbagi media seperti kesenian wayang, gamelan, kidung atau tembang, dan prosesi-prosesi lainnya mendapat sorotan tajam dari orang-orang yang datang belakangan. Orang-orang yang tahu-tahu sudah berhadapan dengan masyarakat yang mayoritas muslim. Mereka menghakimi hanya dengan boleh dan tidak boleh. Haram dan halal. Ada tuntunannya (dari Rasul) atau tidak ada tuntunannya. Dengan mudah mereka membid’ah kan, mengharamkan apa-apa yang kadang hanya dijadikan sarana juru dakwah terdahulu yang mereka notabene menghadapi masyarakat yang berkeyakinan lain dan sudah mendarah daging. Wal hasil, banyak pertentangan di masyarakat yang kadang sampai memanaskan situasi kemasyarakatan yang harmonis.
Perlu disadari bahwa menuntun itu harus sesuai dengan kemampuan orang yang dituntun. Dakwah yang santun itu lebih mengena. Dakwah itu perlu trik, tata cara nan cantik. Dakwah itu bukan hanya menyebarkan halal haram, boleh tidak boleh, bid’ah atau bukan. Dakwah itu bukan hanya mengkafir-kafirkan. Dakwah itu bukan hanya menghakimi itu dosa itu berpahala. Dakwah itu perlu seni.
Wednesday, 20 April 2016
Silaturahim atau berkunjung ke rumah salah seorang teman atau saudara adalah perkara yang disunnahkan. Akan tetapi budaya saling mengunjungi itu kini semakin terkikis. Ada banyak penyebab terkikisnya budaya terpuji itu. Salah satunya adalah teknologi yang semakin maju. Hanya dengan gadget di genggaman seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh. Hanya dengan gadget di tangan seseorang dengan mudahnya menemukan kawannya yang sekian lama “hilang”. Hanya dengan gadget di pangkuan seseorang bisa mengendalikan sebuah perusahaan besar, bertransaksi jual beli, atau melakukan hal-hal pelik lainnya. Terbukti, teknologi mampu mendekatkan yang jauh.
Dengan teknologi yang semakin maju itu, hampir semua orang beranggapan bahwa tak perlu lagi saling mengunjungi, toh kabarnya sudah bisa dipantau setiap hari. Tidak perlu lagi bertamu, toh dari jauh sudah bisa mendengar suaranya. Tak perlu lagi jauh-jauh repot-repot untuk bertemu, toh dari jauh pun sudah bisa saling bertatap. Dengan anggapan ini, akhirnya budaya silaturahim pun semakin memudar. Masing-masing orang sibuk dengan pekerjaannya, keluarganya, sekolahnya, kuliahnya. Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi penyebab. Tapi, mereka sibuk dengan gadgetnya, sibuk dengna dirinya.
Ada sebagian orang yang merasa teknologi tak mampu menjawab kerinduan untuk bertatap muka. Tak bisa menjawab kerinduan untuk tertawa bersama dalam satu tempat. Akhirnya ada yang memiliki inisiatif untuk bertatap muka. Ia ingin menghubungi saudaranya, karibnya, kawan lamanya untuk bertemu. Coba kita dengar bagaimana ia memulai percakapan melalui telepon genggamnya: “Kawan, bagaimana kabarmu? Lama kita tak jumpa. Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?”. Di seberang sana, terdengar lirih dari genggamannya kawannya menjawab: “Hai... Alhamdulillah baik. Boleh-boleh, silakan ke rumahku. Kira-kira ada perlu apa, ya?” Degub makin kencang jantung kawan yang berinisiatif menelepon tadi. Dia mau menjawab apa? Padahal ia begitu rindu dengan sahabatnya itu. Ada rasa kecewa, mungkin, mendengar kalimat terakhir yang dipertanyakan sahabatnya di seberang sana. Menjadikannya ingin sekali mengurungkan niat untuk bertamu. Akhirnya, kita dengar dia memutuskan: “Ooh..gak ada apa-apa kok.” Setelah itu, ia menutup telepon. Beberapa saat kemudian, terlihat ia duduk termangu. Mencari-cari alasan untuk menggagalkan rencana itu. Sekian menit tak juga ditemukan alasan yang tepat. Alasan untuk mengurungkan niat hendak berjumpa. Karena canggung. Karena ada rasa tidak enak di hati. Tepat ia rasakan setelah mendengar kalimat terakhir di ujung telepon itu. Akhirnya setelah termangu sekian waktu, ia tinggalkan lamunan. Ia beraktivitas kembali. Sejam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ia mengetik pesan singkat: “Maaf, kawan. Besok tidak jadi ke rumahmu. Aku ada acara mendadak.”
Barangkali, kita pun pernah melakukan hal yang sama dengan kawan tadi. Oleh karena itu, ketika ada kawan atau saudara yang mengirim pesan atau telepon untuk berjumpa. Tak usahlah bertanya: “Ada perlu apa, ya?”. Itu termasuk adab dalam kita berkomunikasi dengan sahabat atau kawan yang lama tak berjumpa. Tak usahlah keluar dari mulut kita menanyakan maksud tujuan untuk apa ia mau bertemu kita. Entah dengan kalimat “Ada perlu apa, ya?”, “Mau apa?”, “Emangnya ada apa?”, dan semacamnya. Itu termasuk etika. Sebagaimana ketika kita mau berkunjung ke suatu rumah, setelah mengetuk pintu, maka etikanya adalah memalingkan muka atau menghadapkan wajah tidak ke dalam rumah. Itu etikanya. Itu akhlak baik yang harus dilakukan. Meskipun seandainya melakukan itu pun tidak ada masalah untuk kawan kita. Tapi, orang yang berakhlak baik itu selalu dirindukan. Orang yang berakhlak baik itu memiliki etika dan adab-adab yang semacam itu. Tak bertanya: “Ada perlu apa, ya?” dan semacamnya ketika ada kawan yang menghubungi dan menyampaikan niatnya untuk bertemu atau bertamu.
Saturday, 9 April 2016
Kemudian bapak ini meneritakan juga bahwa suatu ketika anaknya jatuh sakit hingga parah. Beliau menyatakan bahwa selama ini ia aktif di pengajian-pengajian. Yang beliau resahkan adalah di saat beliau di rumah sakit menunggui anaknya yang sakit parah, tidak ada satu pun mereka yang ‘ustadz’ pengisi pengajian atau pemimpin kelompok pengajian itu yang datang ke rumah sakit untuk menengok menguatkan mental dan memberi dukungan padanya. Padahal itulah yang beliau butuhkan waktu itu. Bukan uang dalam amplop atau makanan yang dibawa penjeguk. Namun nyatanya mereka tidak nongol sama sekali. Tak tampak atang hidungnya. Malah justeru aktivis dari agama lain yang datang menjenguk bahkan mendonorkan darahnya. Sungguh ini suatu yang ironis, kata beliau. Kalau misal keimanannya rapuh, bisa-bisa ia telah pindah keyakinan, begitu tutur beliau.
Begitulah fenomena umat dengan agama syumuliyah ini. Beliau meyakini bahwa yang paling paripurna adalah Islam. Beliau tak menyangkal itu. Tak ada kepercayaan lain yang seilmiah, selengkap, separipurna Islam, imbuhnya. Akan tetapi mengapa orang di luar sana yang malah kadang lebih islami. Mengapa orang islam sendiri malah terjebak pada perilaku-perilaku yang jauh dari nilai islam.
Begitulah, aku tidak membantah, menyangkal, atau membumbui uraian bapak ini. Mari kita tengok sejarah sejenak. Dulu, saat pernag dunia kedua, di sebuah Kamp Nazi, di sana setiap detik terjadi penyiksaan, kekejaman, dan tangisan tanpa henti. Mereka yang disekap ada yang berujar: “mengapa ini terjadi padaku?”. Ada pula mereka yang sayup-sayup terdengar menyuarakan: “Apa yang bisa dan seharusnya saya lakukan di dalam situasi yang semencekam ini?” akhirnya didapati kenyataan bahwa mereka yang menyuarakan yang pertama, rata-rata mati di tiang gantungan atau ruang pembantaian. Sementara mereka yang menyuarakan yang kedua, sebagian besarnya adalah yang bisa selamat. Dengan berbagai jalan.
Itulah dahsyatnya pemaknaan. Memaknai sebuah peristiwa atau keadaan yang dihadapi. Kembali ke bapak yang menuturkan ceritanya padaku tadi. Beliau memaknai shalat dan pengaruhnya pada kaum muslimin. Bahwa banyak kaum muslimin yang shalat tetapi belum bisa membawa ruh shalat itu dalam kehidupannya sehari-hari. Maka kemudian begitulah yang akan terlihat pada bapak itu. Atau, beliau memaknai bahwa shalat ternyata tidak bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Maka kemudian lambat laun membenarkan pernyataan: “buat apa shalat?”. Naudzubillah. Begitu bapak tadi mengalami musibah dengan sakitnya sang anak, lalu memberikan pemaknaan terhadap orang di sekelilingnya, para ustadz, kelompok pengajian yang beliau ikuti. Maka, begitu pula yang kemudian menjadi kebiasannya. Sangat jarang terlihat ikut menjenguk orang sakit. Bahkan malah berhenti pula menghadiri pengajian-pengajian. Begitu yang sempat bapak itu sampaikan dalam obrolan.
Pemaknaan melahirkan pemahaman dalam bawah sadar kita. Yang kemudian bisa saja diperturutkan untuk menjadi pembenaran perilaku. Selalu belajar. Di mana pun dan kapan pun. Mungkin itu penawarnya. Wallahu a’lam bishawab.
Tuesday, 5 April 2016
Ketika gerbong kereta terus berjalan, tak ada alasan untuk meloncat keluar. Binasa. Meski lokomotif mengalami kendala gerbong akan tetap mengekornya. Penumpang gerbong memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana. Tetap di dalam gerbong kereta adalah keselamatan. Kereta akan tetap berjalan meski masinis harus diganti. Kereta akan tetap berjalan degnan siapa pun yang membersamai.
Kita hanyalah penumpang gerbong kereta. Tetap berada di atasnya akan menampaikan kita pada tujuan mana hendak kita singgahi. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan asri di luaran sana. Lihatlah sungai jernih airnya, persawahan subur dengan angin semilirinya, perkampungan damai nan asri, pegungungan yang kekar dan sejuk udaranya. Janganlah tergoda untuk meloncat keluar dari gerbong yang membawamu. Meski pemandangan di luaran begitu melambai. Turun berarti akan tetinggal. Turun berarti tak akan pernah sampai pada tujuan. Turun berarti akan menikmati pemandangan di luaran. Tetapi sesaat. Dengan berdiam di sana pasti akan ada rasa bosan. Sementara kereta telah jauh meningalkan. Dan dalam dirimu hanya ada penyesalan.
Saudaraku, badai pasti akan selalu menebarkan ancaman. Tapi dia akan berlalu. Malam memang mengancamkan pekat. Tapi fajar pasti menyingsing. Mendung tebal selalu menebarkan teror. Tapi ia akan terhapus oleh rintiknya hujan. Sekuat-kuatnya badai, jangan membuat goyah. Perkuatlah peganganmu. Perkokohlah ikatanmu. Bersabarlah. Maka kau akan jumpai indahnya cuaca selepas badai. Indahnya pagi selepas pekatnya malam. Segarnya hujan selepas mendung tebal yang menyeramkan.
Saudaraku, saat suatu pohon mulai besar. Ia mulai akan berbuah. Sunatullah, bahwa tidak semua buah itu bisa dipetik. Dari mereka akan ada yang jatuh tercecer. Ianya yang jatuh ada yang sejak masih sangat kecil. Ada yang saat mulai membesar. Dan ada pula yang hampir siap petik tetapi malah terjatuh. Berpegangan kuat pada dahan dan ranting adalah mutlak. Karena angin akan terus berembus. Melemahkan kita. Kita akan tetap kuat atau terjatuh?
Saudaraku. Perhatikanlah sebuah taman. Nikmatilah warna-warninya. Cium harumnya yang bermekaran. Rasakan semilir angin dan segarnya hawa di bawah pohon besarnya. Tapi, tahukah engkau bahwa berulang-ulang taman itu mengalami penataan. Ada yang dicabut. Ada yang diganti. Ada yang dipangkas daun-daunnya. Terkadang pun harus dirobohkan pepohonan yang besar. Itulah perawatan. Janganlah hanya karena sering merasakan rindangnya di bawah pohon besar lantas engkau memaki-maki saat pohon itu harus ditebang. Jangan engkau bersungut-sungut saat bunga kesukaanmu harus dipangkas. Jangan engkau mengharu biru saat tanaman yang engkau puja dicabut. Indahnya taman itu akan terjaga dengan hal-hal yang kadang engkau tidak suka. Bersabarlah.
Saudaraku. Kita ingat kisah Khalid. Semua tahu wibawanya memimpin pasukan. Setidaknya musuh gentar melihat bahwa Khalid yang memimpin. Ciut nyali musuh saat melihat bahwa pasukan yang dihadapinya dipanglimai Khalid. Saat seperti itu, sesungguhnya ibarat pedag yang terhunus tinggal menikamkan saja. Kuku yang tajam itu tinggal menancapkannya saja pada mangsa. Tapi tidak. Umar Sang Khalifah justeru memberhentikan Khalid saat dia sedang terhunus pedangnya. Andai Engkau sebagai pasukan, apakah akan keluar barisan dan lari dari pertempuran saat mendengar diundurnya Khalid? Padahal lari dari perang yang berkecamuk adalah dosa besar. Tsabatlah.
Saudaraku. Jangan karena ada sosok yang kau kagumi engaku berbaris rapi pada barisan. Tapi ikhlaskanlah karena Allah swt. Jangan karena mundur atau digantikannya pemimpin peleton Engkau menjadikannya pembenaran untuk keluar dari barisan. Jangan biarkan hawa nafsumu menemukan alasan untuk berhenti. Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati-hati ini berpadu. Kuatkanlah ikatannya. Murnikan cintanya.
Friday, 31 August 2012
Tuesday, 31 July 2012
Walaupun terbiasa, meski terlatih, tetapi tetap saja bagi semua pihak, terutama rakyat kecil, jauh berkali lipat lebih indah jika momen penting seperti awal ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha ini bisa kompak seperti yang terjadi di banyak negara Islam tetangga. Apa susahnya mengalah untuk bersatu? Apakah kemudian puasanya atau berhari rayanya menjadi tidak sah jika kita mengikuti salah satu pendapat yang memang (katakanlah) sama kuat? Atau memang karena ego dan keras hati saja yang menghalangi persatuan umat? Gawatnya lagi kalau ternyata perbedaan ini ada sponsornya. Sponsornya adalah pihak yang tidak mau melihat atau merasa terancam jika umat di Indonesia ini bersatu dan kuat. Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tentunya ini sebuah kekuatan tiada terkira jika dikelola dengan baik.
Sponsor itu jeli melihat potensi besar pada umat Islam di Indonesia. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menghadang berkembang dan optimalnya potensi itu. Salah satunya adalah menciptakan organisasi masa yang seolah olah berafiliasi pada idealisme Islam akan tetapi organisasi itu justeru membuat ruwet persatuan dan kesatuan umat. Karena mereka seolah-olah mereka menegakkan kebenaran akan tetapi mengesampingkan persatuan umat. Mereka berteriak lantang tentang persatuan umat akan tetapi perilaku, fatwa, manuvernya mengakibatkan perpecahan umat. Kalau dilihat kasat mata mereka adalah golongan yang getol dan Islam banget. Namun efek tak terasa (tetapi sangat besar) yang dihasilkan dari keberadaan mereka adalah rapuhnya ukhuwah.
Kalaupun mereka tidak menciptakan organisasi baru, mereka akan memanfaatkan salah satu atau beberapa dari banyaknya organisasi yang sudah ada di Indonesia untuk menciptakan isu-isu atau manuver-manuver yang membuat kacau persatuan atau ukhuwah Islam di Indonesia.
Sebagai contoh adalah yang terjadi di India beberapa dekade silam. Umat Islam India terkenal menjadi golongan yang paling berani dan getol menentang penjajah. Si Penjajah sampai mengalami kesulitan untuk mengatasinya. Kemudian akhirnya ditemukan cara oleh Si Penjajah untuk melumpuhkan umat Islam di India ini dengan sangat halus. Penjajah menciptakan sebuah golongan yang dipandang orang lebih Islami, lebih fanatik, fundamentalis, pokoknya Islam banget-lah. Akan tetapi ujung-ujungnya golongan ciptaan penjajah ini mengeluarkan fatwa bahwa umat islam tidak boleh menentang Si Penjajah. Karena sudah banyak yang kesengsem dengan kefanatikan, keislaman golongan ini, maka fatwa itu mujarab dituruti banyak umat Islam di India yang memang sudah banyak yang menjadi pengikut golongan ciptaan penjajah itu. Akhirnya semangat dan perjuanan Umat Islam di India menjadi mudah ditumpas karena kekuatannya berkurang sangat banyak. Dengan demikian, Si Penjajah memenangkan perseteruan dengan umat muslim di sana.
Bisa saja, Indonesia yang memiliki potensi luar biasa besar dari umat Islamnya ini menjadikan iri dan dianggap ancaman dari kekuatan lain. Untuk tujuan mengkerdilkan dan memandulkan potensi besar itu diciptakanlah berbagai isu dan manuver. Untuk melancarkan manuver dan isu itu bisa jadi mereka menciptakan golongan tersendiri atau memanfaatkan golongan yang sudah ada. Dengan demikian mereka sukses memandulkan potensi besar yang dikandung umat Islam di Indonesia. Wallohu 'alam bishawab.
Friday, 23 December 2011
Wednesday, 14 September 2011

Ada sebuah kisah yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah iniadalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu zaman ada seorang raja yang sangat bijaksana. Ia memerintah menggantikan ayahandanya yang dahulu terkenal dengan kekejamannya. Karena kekejaman ayahnya itu, rakyat menjadi sangat takut kepada raja dan keluarga raja. Akan tetapi dalam rasa ketakutan itu, sebenarnya rakyat juga menyimpan kebencian, ketidaktaatan, dan selalu ingin memberontak terhadap raja. Hanya saja mereka belum berani dan tak punya kekuatan untuk itu.
Raja yang baru ini ingin menguji kesadaran rakhyatnya. Ingin mengetahui ketaatan rakyatnya kepada kerajaan. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut. Rakyat menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Kesediaan mereka bisa jadi karena rasa takut. Akan tetapi hal itu belum dipahami oleh sang raja yang baru ini.
Rakyat telah menyatakan kesediaan untuk mengumpulkan madu di tempat yang telah ditetapkan. Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk menunjukkan jiwa berontaknya, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga."
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Malam itu gelap gulita. Di bukit sudah disiapkan bejana untuk menaruh madu dari seluruh rakyat. Memang benar seperti dalam pikiran si A. Andaipun seseorang membawa sesendok bukan madu tentunya tidak diketahui oleh penguasa.
Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai keseharian kita. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: "Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108) Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan orang lain.
Dalam ayat yang lain Allah juga memberi rambu-rambu: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Q.S. As Shaf: 3). Ayat tersebut secara tersirat memberikan palajaran bahwa setiap kita harus mengawali perbuatan baik dari diri kita sendiri. Bukan hanya mengajak orang lain barbuat baik akan tetapi perbuatannya sendiri jauh dari apa yang ia ajakkan.
NabiMuhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun. Demikianlah, kalau sang raja menginginkan ketaatan dari rakyat, yang harus ia lakukan adalah memberikan teladan bagaimana ia harus taat terhadap tugasnya yaitu melayani rakyatnya. Patut untuk direnungkan bagi pemimpin negeri ini.
Masih sangat kental “3M” versi Aa’ Gym: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai sekarang juga.
Tuesday, 23 August 2011
1. HIZBUT TAHRIR
Dalam situs resminya, Hizbut Tahrir (HT) menyebutkan:
“Hizbut Tahrir bertujuan membebaskan umat manusia dari dominasi paham, pemikiran, sistem hukum, dan negara kufur menuju paham, pemikiran, sistem hukum, dan negara Islam dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia.”
Metode untuk merekrut umat ke dalam Hizb adalah dengan jalan menamkan akidah Islam dan mengadopsi tsaqafah Hizb yang disusun semata dari Islam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Menginginkan perubahan yang mendasar pada tata kehidupan dunia ini dengan menegakkan kembali Daulah Khilafah.
Hizbut Tahrir melakukan perjuangan pemikiran, menentang berbagai paham, pemikiran dan ideologi yang rusak yang menjadi landasan dan dikembangkan oleh ideologi sekularisme, baik yang bercorak Kapitalistik maupun Sosialistik. Hizbut Tahrir dengan tegas mengungkap kesalahan dan kerusakan pemikiran-pemikiran tersebut, serta pertentangannya dengan Islam. Hizbut Tahrir juga menentang dengan keras konsep-konsep yang lahir dari paham sekulerisme seperti Demokrasi, Patriotisme, Sosialisme, dan Kapitalisme atau isme-isme lain. Dalam penentangannya, Hizbut Tahrir tidak menggunakan cara-cara kompromis atau langkah-langkah penyesuaian diri.
Sejalan dengan upaya pemurnian pemikiran tersebut, Hizbut Tahrir juga melakukan perjuangan politik. Karena itu, Hizbut Tahrir mengoreksi, menentang, dan mengungkap kesalahan para penguasa serta mengungkap konspirasi mereka dengan negara-negara penjajah dan kelalaian mereka terhadap Islam dan urusan umat Islam. Tujuan dari perjuangan politik Hizbut Tahrir tidak lain untuk membebaskan umat Islam dari berbagai konsep, pemikiran, dan perasaan yang rusak.
2. JAMAAH TABLIGH
Jamaah tabligh ini berasal dari India yang dilahirkan oleh seorang shufi tulen bernama Muhammad Ilyas. Kemudian jamaah ini mulai mengembangkan ajarannya dan masuk ke negeri-negeri Islam seperti Indonesia dan Malaysia dan lain-lain.
Tiang penyangga utama dakwah mereka adalah al-Khuruj (keluar), dengan aturan-aturan sebagai berikut: dalam setiap bulan (keluar) tiga hari. Dalam setahun, empat puluh hari. Dalam seumur hidup, empat bulan. Dan dalam satu pekan terdapat dua jaulah (perjalanan). Yang pertama, dilakukan di masjid yang dilakukan shalat di dalamnya, dan yang kedua pindah-pindah. Dan dalam setiap hari terdapat dua halaqah semacam perjalanan). Yang pertama, dilakukan di masjid yang dilakukan shalat di dalamnya, dan yang kedua dilakukan di rumah. Dan mereka tidak akan ridha dengan seseorang, kecuali jika orang tersebut berpegang teguh dengan aturan-aturan seperti ini.
ama’atut tabligh membai’at pengikut mereka yang sudah lama dan konsisten dengan mereka dalam empat thariqat shufiyah.
Pendapat Abdul Hakim bin Amir Abdat tentang Jamaah Tabligh:
Jama’ah Tabligh termasuk ahlul bid’ah dan firqah sesat yang menyesatkan dari firqah shufiyyah.
Firqah tabligh ini dibina atas dasar kejahilan di atas kejahilan yang dalam dan merata yang diawali oleh pendirinya, pengganti-penggantinya,Amir-amirnya, tokoh-tokohnya, syaikh (guru)-syaikhnya, murid-muridnya, istimewa pengikut-pengikutnya dari orang-oang awam. Kejahilan mereka terhadap Islam, mereka hanya melihat Islam dari satu bagian dan tidak secara keseluruhan sebagimana yang Allah perintahkan, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam (ajaran) Islam scara kaffah (keseluruhan).” (Al-Baqarah: 208).
Kerusakan aqidah mereka yang dipenuhi dengan kesyirikan yang berdiri di atas manhaj shufiyyah. Ibadah mereka yang dipenuhi dengan bid’ah yang sangat jauh dari Sunnah. Akhlak dan adab mereka yang dibuat-buat sangat jauh dari akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Mereka sangat fakir dan miskin dari ilmu karena mereka sangat menjauhi ilmu. Kebencian dan kedengkian mereka yang sangat dalam kepada imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain. Bahkan salah seorang amir dari firqah tabligh ini pernah berkata dengan sangat marah sekali, “Kalau seandaiya aku mempunyai kekuatan sedikit saja, pasti akan aku bakar kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim dan Ibnu Abdul Wahab. Dan aku tidak akan tinggalkan sedikitpun juga dari kitab-kitab mereka yang ada di permukaan bumi ini.” (Dari kitab al-Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh hal. 44-45 oleh Syaikh Hamud bin Abdulah bin Hamud at-Tuwaijiriy).
Alangkah besarnya kebencian dan permusuhan mereka terhadap pembela-pembela Sunnah.
3. LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA (LDII)
LDII adalah nama lain dari Gerekan Islam Jama’ah atau Lemkari yang didirikan oleh Madigol yang diganti nama dengan Nur Hasan Ubaidah Lubis (singkatan dari Luar Biasa). Setelah Nur Hasan Ubaidah meninggal pada hari Sabtu tanggal 12 Maret 1982, lalu tahta kerajaan Islam Jama’ah/LEMKARI/LDII diwarisi oleh putranya yang tertua yaitu Abd. Dhohir Nur Hasan sebagai Imam/Amir dan dibai’at di hadapan jenazah mendiang ayahnya sebelum dikuburkan dan disaksikan seluruh amir-amir/imam daerah. Hasyim Rifa’i yang telah ditugaskan oleh pihak IJ untuk keliling ke berbagai wilayah di dalam dan di luar negeri menyebutkan bukti-bukti bahwa mereka menganggap bahwa golongan selain IJ/LEMKARI/DII adalah kafir.
1. Mereka menganggap orang Islam selain mereka adalah golongan Ahli Kitab, sedang yang lain kafir.
2. Mereka dalam menanamkan keyakinan pada murid-murid mereka mengatakan :
a) Kalau saudara-saudara mengira di luar kita masih ada orang yang bisa masuk sorga maka sebelum berdiri, saudara sudah kafir (faroqol jama’ah/memisahkan diri dari jama’ah),sudah murtad harus tobat dan dibai’at kembali.
b) Orang keluar dari jama’ah kok masih ngaji, shalat dan puasa, itu lebih bodoh dari pada orang kafir,Sebab orang-orang kafir tahu kalau akan masuk neraka, maka mereka hidup bebas.
Pengunggulan kelompok sendiri dan memastikan muslimin selain kelompoknya masuk neraka seperti itu, jelas model sifat iblis yang telah dijabarkan Al-Qur’an yang telah menipu Adam dan Hawa. Sedang rangkaian kerjanya, bisa dilihat bahwa mereka sangat berat menghadapi orang alim agama, sebagaimana Syaithan pun berat menghadapi orang alim agama. Itulah kenyataan yang dikemukakan oleh Hasyim Rifa’i dan para petinggi Islam Jama’ah/LEMKARI/LDII yang telah keluar dari kungkungan aliran yang pernah dilarang tersebut.
Kalau Syaithan yang ditanyakan Allah sebagai musuh manusia itu telah mengajari manusia untuk menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal alias mengadakan Syari’at, maka IJ/LEMKARI/LDII juga sama, Sang Amir mewajibkan pengikutnya setor penghasilan masing-masing sepuluh persen (usyur) untuk Amir tanpa boleh tahu untuk apa.
Lebih dashyat lagi dari penuturan para mantan anggota Islam Jama’ah diketahui bahwa Sang Amir menjamin Jama’ah masuk sorga. Padahal hanya Dajjallah yang berani membuat pernyataan sedahsyat itu.
Akhlaq Nabi Muhammad saw sama sekali tidak tercermin dalam tingkah laku Amir pendiri IJ yakni Nur Hasan Ubaidah Lubis yang riwayat hidupnya penuh mistik dan perdukunan, melarikan perempuan, menceraikan tiga belas istrinya (menurut penelitian Litbang Depag RI) memungut upeti sepuluh persen dari masing-masing jama’ah dengan sertifikat atas nama pribadi, dan diketahui bahwa dia punya ilmu pelet untuk menggaet wanita, baik yang lajang maupun masih berstatus isteri orang.
Itulah jenis kemunafikan dan kesesatan yang nyata, yang disebarkan sejak tahun 1941, dan Alhamdulillah telah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971. Namun dengan liciknya ia bersama pengikutnya berganti – ganti nama dan bernaung di bawah Golkar (zaman orde baru), maka kesesatan itu justru lebih mekar dan melembaga sampai kini ke desa-desa hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan ke negara- negara lain dengan nama LDII.
4. MAJELIS TAFSIR AL QURAN (MTA)
a. Pendirian dan Tujuan
Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) adalah sebuah lembaga pendidikan dan dakwah Islamiyah yang berkedudukan di Surakarta. MTA didirikan oleh Almarhum Ustadz Abdullah Thufail Saputra di Surakarta pada tangal 19 September 1972 dengan tujuan untuk mengajak umat Islam kembali ke Al-Qur’an. Sesuai dengan nama dan tujuannya, pengkajian Al-Qur’an dengan tekanan pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Qur’an menjadi kegiatan utama MTA.
b. Bentuk Badan Hukum
MTA tidak dikehendaki menjadi lembaga yang illegal, tidak dikehendaki menjadi ormas/orpol tersendiri di tengah-tengah ormas-ormas dan orpol-orpol Islam lain yang telah ada, dan tidak dikehendaki pula menjadi onderbouw ormas-ormas atau orpol-orpol lain. Untuk memenuhi keinginan ini, bentuk badan hukum yang dipilih adalah yayasan. Pada tanggal 23 Januari tahun 1974, MTA resmi menjadi yayasan dengan akta notaris R. Soegondo Notodiroerjo.
c. Struktur Lembaga
Kini MTA telah berkembang ke kota-kota dan propinsi-propinsi lain di Indonesia. MTA menyusun strukturnya, yaitu MTA pusat, berkedudukan di Surakarta; MTA perwakilan, di daerah tingkat dua; dan MTA cabang di tingkat kecamatan (kecuali di DIY, perwakilan berada di tingkat propinsi dan cabang berada di tingkat kabupaten).
d. Kegiatan
1) Pengajian
a. Pengajian khusus
Pengajian dibedakan menjadi dua, yaitu pengjian khusus dan pengajian umum. Pengajian khusus adalah pengajian yang siswa-siswanya (juga disebut
dengan istilah peserta) terdaftar dan setiap masuk diabsen. Pengajian khusus ini diselenggarakan seminggu sekali, baik di pusat maupun di perwakilan-perwakilan dan cabang-cabang, dengan guru pengajar yang dikirim dari pusat atau yang disetujui oleh pusat. Perwakilan dan cabang yang jauh dari Surakarta menyelenggarakan pengajian seminggu-sekali sendiri-sendiri. Konsultasi ke pusat dilakukan setiap saat melalui telepon.
Materi yang diberikan dalam pengajian khusus ini adalah tafsir Al-Qur’an dengan acuan tafsir Al-Qur’an yang dikeluarkan oleh Departemen Agama dan kitab-kitab tafsir lain baik karya ulama-ulama Indonesia maupun karya ulama-ulama dari dunia Islam yang lain sepert kitab tafsir Ibn Katsir dan kitab tafsir ibnu Abas. Kajian terhadap kitab tafsir Ibnu Abas dilakukan khusus oleh siswa-siswa MTA yang kemampuan bahasa Arabnya telah memadai.
Proses belajar mengajar dalam pengajian khusus ini dilakukan dengan teknik ceramah dan tanya jawab. Guru pengajar menyajikan meteri yang dibawakannya kemudian diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Dengan tanya jawab ini pokok bahasan dapat berkembang ke berbagai hal yang dipandang perlu. Dari sinilah, kajian tafsir Al-Qur’an dapat berkembang ke kajian aqidah, kajian syariat, kajian akhlak, kajian tarikh, dan kajian masalah-masalah aktual sehari-hari. Dengan demikian, meskipun materi pokok dalam pengajian khusus ini adalah tafsir Al-Qur’an, tidak berarti cabang-cabang ilmu agama yang lain tidak disinggung. Bahkan, sering kali kajian tafsir hanya disajikan sekali dalam satu bulan dan apabila dipandang perlu kajian tafsir untuk sementara dapat diganti dengan kajian-kajian masalah-masalah lain yang mendesak untuk segera diketahui oleh siswa. Di samping itu, pengkajian tafsir Al-Qur’an yang dilakukan di MTA secara otomatis mencakup pengkajian Hadits karena ketika pembahasan berkembangan
ke masalah-masalah lain mau tidak mau harus merujuk Hadits.
Dari itu semua dapat dilihat bahwa yang dilakukan di MTA bukanlah menafsirkan Al-Qur’an, melainkan mengkaji kitab-kitab tafsir yang ada dalam rangka pemahaman Al-Qur’an agar dapat dihayati dan selanjutnya diamalkan.
b. Pengajian Umum
Pengajian umum adalah pengajian yang dibuka untuk umum, siswanya tidak terdaftar dan tidak diabsen. Materi pengajian lebih ditekankan pada hal-hal yang diperlukan dalam pengamalan agama sehari-hari. Pengajian umum ini baru dapat diselenggarakan oleh MTA Pusat yang diselenggarakan satu minggu sekali pada hari Minggu pagi.
2) Pendidikan
a. Pendidikan formal
Pendidikan formal yang telah diselenggarakan terdiri atas TK, SLTP. dan SMU. SLTP dan SMU baru dapat diselenggarakan oleh MTA Pusat. SLTP diselenggarakan di Gemolong, Kabupaten Sragen, dan SMU diselenggerakan di Surakarta..
b. Pendidikan non-formal
Pendidikan non-formal yang diselenggarakan oleh MTA: bahasa Arab, kursus otomotif dengan bekerjasama dengan BLK Kota Surakarta, kursus menjahit bagi siswi-siswi putri, dan bimbingan belajar bagi siswa-siswa SLTP dan SMU.
3) Kegiatan Sosial
Donor darah, kerja bakti bersama Pemda dan TNI, sudah mentradisi di MTA. Tiga bulan sekali MTA menyelenggarakan donor darah.
4) Ekonomi
Kehidupan bersama di MTA juga menuntut adanya kerja sama dalam pengembangan ekonomi. Untuk itu, di MTA diselenggarakan usaha bersama berupa simpan-pinjam.
5) Kesehatan
MTA Pusat yang telah menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin. Di samping itu, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada siswa atau warga MTA di bentuk kader-kader kesehatan dari perwakilan dan cabang-cabang yang secara periodik mengadakan pertemuan.
6) Penerbitan, Komunikasi, dan Informasi
Sesungguhnya MTA telah memiliki majalah bulanan yang sudah terbit sejak tahun 1974 dan telah memiliki STT sejak tahun 1977. Namun, hingga kini belum tampak adanya perkembangan yang menggermbirkan dari majalah yang diberi nama Respon ini. Di samping Respon, MTA juga telah menerbitkan berbagai buku keagamaan. Dalam bidang informasi, MTA telah mempunyai radio MTA FM dan stasiun televisi serta website dengan alamat: http://www.mta-online.com dengan alamat E-mail : humas_mta@yahoo.com.
5. IKHWANUL MUSLIMIN
Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin pada saat itu dipimpin oleh Hassan al-Banna
Kiprah dan peran yang dilakukan da'wah Ikhwanul Muslimin, sebagai salah satu pelopor gerakan Islam yang muncul tahun 1327 H/ 1928 M di Mesir, diakui telah memberi warna perubahan yang cukup besar dalam menumbuhkan dan membina semangat perjuangan menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan nyata. Tak keliru bila sejumlah tokoh da'wah Islam menyebutkan organisasi da'wah yang dibangun Ikhwanul Muslimin mewakili organisasi yang paling besar dewasa ini.
Dalam perpolitikan di berbagai negara, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam proses demokrasi sebagai sarana perjuangannya, sebagaimana kelompok-kelompok lain yang mengakui demokrasi. Contoh utamanya adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir, Turki, Palestina yang mengikuti proses pemilu di negara tersebut.
Di berbagai media khususnya media negara-negara Barat, Ikhwanul Muslimin sering dikait-kaitkan dengan Al-Qaeda. Pada faktanya, Ikhwanul Muslimin berbeda jauh dengan Al-Qaeda. Ideologi, sarana, dan aksi yang dilakukan oleh Al-Qaeda secara tegas ditolak oleh pimpinan Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin lebih mendukung ide perubahan dan reformasi melalui jalan damai dan dialog yang konstruktif yang bersandarkan pada al-hujjah (alasan), al-mantiq (logika), al-bayyinah (jelas), dan ad-dalil (dalil). Kekerasan atau radikalisme bukan jalan perjuangan Ikhwanul Muslimin, kecuali jika negara tempat Ikhwanul Muslimin berada, terancam penjajahan dari bangsa lain. Inipun, kekerasan di sini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai perlawanan, bukan radikalisme atau kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok teroris. Sebagai contoh adalah Hamas yang merupakan perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin di Palestina. Syekh Ahmad Yassin pendiri Hamas adalah tokoh Ikhwanul Muslimin.
Karakter dakwah Ikhwan:
1. ikatan keimanan yang kuat dalam da'wah yang dibangun di atas ukhuwwah.
2. ikatan organisasi (tanzhim) yang kokoh dibangun di atas rasa percaya (tsiqah)
3. saling melengkapi dalam bangunannya
4. jauh dari arena perselisihan fiqih
5. jauh dari intervensi penguasa
6. jauh dari hegemoni organisasi dan partai
7. bertahap dalam langkah
8. da'wah rabbaniyah
9. da’wah ‘alamiyah (mondial/global)
6. MAJELIS MUJAHIDIN INDONESIA
Majelis Mujahidin adalah lembaga yang dilahirkan melalui Konggres Mujahidin I yang diselenggarakan di Yogyakarta tanggal 5-7 Jumadil Ula 1421 H, bertepatan dengan tanggal 5-7 Agustus 2000. Konggres tersebut bertemakan Penegakan Syari’at Islam, dihadiri oleh lebih dari 1800 peserta dari 24 Propinsi di Indonesia, dan beberapa utusan luar-negeri. Konggres Mujahidin I itulah yang kemudian mengamanatkan kepada sejumlah 32 tokoh Islam Indonesia yang tercatat sebagai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) untuk meneruskan misi Penegakan Syari’at Islam melalui wadah yang disebut sebagai Majelis Mujahidin.
Majelis Mujahidin bersifat Tansiq atau aliansi gerakan (amal) di antara ummat Islam (mujahid) berdasarkan ukhuwah, kesamaan aqidah serta manhaj perjuangan, sehingga majelis ini mampu menjadi panutan ummat dalam hal berjuang menegakkan Dienullah di muka bumi ini, tanpa dibatasi oleh suku, bangsa ataupun negara.
Aliansi atau tansiq ini dikembangkan dalam 3 formulasi, yakni: Kebersamaan dalam misi menegakkan syari’at Islam (tansiqul fardi), Kebersamaan dalam Program menegakkan syari’at Islam (tansiqul ‘amali), dan Kebersamaan dalam satu institusi Penegakan Syari’ah Islam (tansiqun nidhami).
7. Nahdhatul Ulama
Sekelumit Sejarah
Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.
Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar. Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
Dari sisi lain, salah satu pemicu berdirinya NU pada tahun 1926 yang dipelopori oleh para ulama tradisional sebenarnya tidak lain adalah akibat konflik epistomologis antara ulama-ulama tradisional yang ingin melestarikan tradisi bermazhab atau model Islam kultural melawan tokoh-tokoh Islam modernis-puritan yang cenderung ingin membersihkan Islam dari budaya lokal.
Prestasi
- 1. Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam.
- 2. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah.
- 3. Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen.
- 4. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.
- 5. Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga.
- 6. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965.
- 7. Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an.
Paham Keagamaan
Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.
8. MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan, lahir lebih dulu daripada NU dan strategi dakwahnya berpusat pada pembaharuan (tajdid) serta menjaga kemurnian Islam (purifikasi). Dalam rangka kegiatan pembaharuan dan pemurnian itu, selain dengan pemasyarakatan tajdid (dengan menggerakkan telaah ulang atas sistim mazhab dan taklid buta), Muhammadiyah juga mengadakan gerakan pemberantasan TBC (takhyul, bid’ah, dan churafat). Bentuk-bentuk kegiatan yang masuk pada wilayah TBC, antara lain; selamatan pada waktu orang meninggal (termasuk selamataan pada wanita mengandung dan orang wanita melahirkan), pengkeramatan kuburan suci (termasuk pengkeramatan pada wali atau kyai), upacara tahlil dan talqin, kepercayaan atas jimat, dan upacara menanam kepala kerbau (termasuk sedekah bumi, sedekah laut, dll). Untuk itu, dakwah Muhammadiyah banyak diarahkan untuk memberantas segala hal yang berbau TBC.
Sebagai ormas Islam, Muhammadiyah sangat kental dengan predikat ‘pemurnian’, sehingga kesannya angker, sebab banyak dari warga pedesaan khususnya, merasa segala aktifitas berkesenian dilarang. Muhammadiyah dianggap anti kesenian.














