Tuesday, 17 April 2012

Perangkat pembelajaran untuk Kelas 9 Semester II

Thursday, 5 April 2012

Program perbaikan atau remidi adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari proses penilaian terhadap perkembangan belajar peserta didik. Di dalam Permendiknas No 20 Tahun 2007 disebutkan bahwa salah satu kegiatan penilaian oleh pendidik adalah mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik. Setelah hasil tes diolah dan diketahui kemajuan belajar serta kesulitan belajar bagi peserta didik, kemudian dilakukan tindak lanjut yang meliputi pengayaan bagi peserta didik yang sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) atau perbaikan/remidi bagi peserta didik yang nilainya belum mencapai KKM.
Program perbaikan/remidi dimaksudkan agar peserta didik tuntas menguasai materi pembelajaran dari yang tadinya belum menguasai beberapa bagian materi pembelajaran yang diketahui dari hasil tes atau ulangan harian. Program perbaikan atau remidi ini bisa dilaksanakan pada waktu di luar jam kegiatan belajar mengajar (KBM) efektif kalau di rasa perlu. Misalnya di siang/sore hari setelah jam KBM selesai atau juga bisa pada jam ke-0 (nol) atau sebelum jam KBM dimulai. Sedangkan kegiatan yang dilakukan pada saat perbaikan atau remidi juga bisa beragam: telaah materi, diskusi, penugasan atau bimbingan lebih lanjut. Lebih khusus lagi misalnya, kalau mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tentang materi "Memahami Al Quran Surat Al Insyirah", bentuk perbaikan/remidi yang bisa dilakukan adalah dengan membimbing peserta didik untuk menghafal surat tersebut.

Peserta didik mengikuti program remidi hafalan
Berikut ini salah satu format program perbaikan atau remidi untuk pelaporan yang harus dilakukan pendidik/guru.

PROGRAM PERBAIKAN/REMIDI

Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Satuan Pendidikan : SMP Negeri 4 Pracimantoro
Kelas/Semester : IX  / II
Tahun Pelajaran : 2011/2012
Jenis Tagihan : Perbaikan Ulangan Harian I
Standar Kompetensi :  1. Memahami Al Qur’an Surat Al Insyirah.
                                   2. Memahami ajaran al-Hadits tentang kebersihan.

A. Peserta Remidi/Perbaikan
Peserta remidi adalah peserta didik yang nilai Ulangan Hariannya belum mencapai KKM.
Kelas IX A: (tidak ada yang remidi/tidak ada peserta didik yang nilainya di bawah KKM)
Kelas IX B: Anton Fedianto, Hasan Saputra, Triono
Kelas IXC: Andianto, Angga Tri Saputra

B. Jenis Kesulitan
1. Menyebutkan arti dari Al Insyirah.
2. Menyebutkan hadits kebersihan  beserta artinya.


C. Tujuan
1. Agar peserta didik mampu menyebutkan arti dari surat Al Insyirah.
2. Agar peserta didik mampu menyebutkan hadits tentang kebersihan.


D. Kegiatan
Menghafal surat Al Insyirah  beserta artinya dan hadits tentang kebersihan beserta artinya.

E. Instrumen
Tes lisan
1.  Lafalkan surat Al Insyirah beserta artinya!
2.  Lafalkan salah satu hadits tentang kebersihan beserta artinya!


Rubrik penilaian
1.  Soal nomor 1 Skor maksimal 50
2.  Soal nomor 2 Skor maksimal 50


Nilai = skor untuk nomor 1 + skor untuk nomor 2.

  • Mengetahui,                                                          Pracimantoro, 30 Januari  2012
  • Kepala SMP N 4 Pracimantoro, Guru Mata Pelajaran,



  • SUMARDI, S.Pd., M.Pd. DWI WAHYUDI, S.Pd.I
  • NIP. 19630824 198403 1 004 NIP. 19850909 200903 1 002


Sunday, 1 April 2012

Kemerosotan moral yang dialami negeri ini sangat drastis. Beberapa indikatornya adalah betapa korupnya setiap lini entah pemerintah atau swasta, perilaku pejabat publik yang tak wajar, langkanya sikap disiplin dan tanggung jawab pada seorang anak bangsa, hilangnya budaya gotong royong dan kekeluargaan dan suburnya ketegangan antar warga, tawuran pelajar, perzinaan yang merajalela, dan masih banyak lagi.
Berbagai permasalahan dan kemunduran negeri ini salah satunya disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia. “Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa”(Kusumadewi: 2007). Jika pendidikan tidak maju maka pembangunan bangsa akan terhenti atau malah terjadi kemunduran. Kalau saat ini dirasa bahwa Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain maka pendidikanlah yang salah satunya bisa dikoreksi.
Potret Pendidikan di Indonesia 
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada anak-anak negeri ini yang mampu mencuri perhatian kita dengan prestasinya di berbagai bidang. Misalkan juara olimpiade sains tingkat Asia atau dunia, juara kompetisi robot, anak SMK yang mampu membuat mobil, serta beberapa prestasi yang lain. Namun, di balik  secuil kegemilangan itu ada sedemikian banyak permasalahan dalam dunia pendidikan Indonesia. Perilaku tidak terpuji di kalangan pelajar dan mahasiswa sangat mudah ditemui.  Pelajar yang terlibat tawuran, melakukan tindakan kriminal, pencurian penodongan, penyimpangan seksual, menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan sebagainya. Perbuatan tidak terpuji yang dilakukan para pelajar tersebut benar-benar telah meresahkan masyarakat dan memperburuk citra pendidikan di Indonesia. Belum lagi permasalahan seperti pelaksanaan ujian nasional yang tidak jujur, manipulasi data agar peserta didik bisa masuk SNMPTN melalu jalur undangan (Sudaryanto: 2012), pemalsuan dokumen pendidikan, penilaian hasil belajar yang mengandung kecurangan, penyelewengan dana pendidikan dan masih banyak lagi. Semua itu bisa-bisa akan menghilangkan kepercayaan masyarakat pada dunia pendidikan.  Jika keadaan ini tidak segera diupayakan untuk mencari solusi, maka bisa dikatakan mustahil untuk memperbaiki moral bangsa dari dunia pendidikan.
Sistem Pendidikan Sekuler-Materialistik
Sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik" (Farida, 2010).  Hal ini terbukti dengan adanya dikotomi antara pendidikan agama yang dikelola oleh Kementrian Agama dan pendidikan umum yang dikelola oleh Kementrian Pendidikan Nasional. Walaupun memang ada upaya untuk menutup ini dengan dimasukkannya mata pelajaran pendidikan agama pada satuan pendidikan umum dengan porsi yang sangat sedikit. Sistem pendidikan sekuler-materialistik ini terbukti gagal menghasilkan output sebagaimana yang dicita-citakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur.
Pendidikan sekuler-materialistik ini menghasilkan insan yang sekuler materialistik pula. Orang-orang yang sekuler-materialistik jika mendapat amanah atau menduduki posisi jabatan tertentu maka rusaklah tatanan atau sistem itu. Karena orang yang sekuler materialistik cenderung mengabaikan pertimbangan moral dan etika sehingga sangat mudah baginya untuk korupsi, kolusi, nepotisme, menghalalkan segala cara, “asal bapak senang”, dan lain-lain. Kalau sudah demikian, maka bukan kemajuan yang dicapai suatu bangsa tapi justeru sebaliknya, kemunduran dan krisis multidimensi yang sampai pada tataran menimbulkan pesimistis bagi setiap cendekiawan yang ingin membangun dan memajukan bangsa.
Dari Insan Cendekia untuk Pembaharuan Pendidikan di Indonesia
Belum mampunya sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini untuk mewujudkan cita-cita pendidikan nasional, mengundang berbagai fihak untuk yang peduli untuk memberkan sumbangsihnya. INSAN CENDEKIA mempunyai komitmen dan cita-cita luhur untuk membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional tersebut. 
Sebagai wujud komitmennya, maka mulai tahun pelajaran 2010/2011 telah membuka lembaga pendidikan tingkat menengah yaitu SMP dan SMA Insan Cendekia Al Mujtaba Surakarta. SMP dan SMA ini mempunyai ciri khas yaitu Unggul dalam IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) dan IMTAQ (iman dan taqwa).” (http://insancendekiaska.org/profil)

INSAN CENDEKIA memberikan kontribusi riil dengan membuka sekolah-sekolah yang salah satunya adalah SMP-SMA INSAN CENDEKIA Al MUJTABA SURAKARTA. Sebuah Sekolah yang menghapus dikotomi pendidikan dan meninggalkan sistem pendidikan sekuler-materialistik. Sebuah sekolah yang menyatukan sisi iman dan takwa (moral) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sistem pendidikannya.  Hal ini bisa dilihat dari kurikulum yang digunakan INSAN CENDEKIA: kurikulum dinas yang diperkaya  sesuai visi dan misi INSAN CENDEKIA. Kurikulum INSAN CENDEKIA disusun dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dan nilai-nilai ajaran islam menjadi satu standar kurikulum yang bercirikan: 
1. Ta’lim, yaitu pendidikan yang menitikberatkan masalah pada pendidikan, penyampaian informasi dan pengembangan ilmu.
2. Tarbiyah, yaitu pendidikan yang menitikberatkan masalah pada pendidikan, pembentukan, dan pengembangan pribadi, serta pembentukan dan pengembangan kode etik.
3. Ta’dib, yaitu pendidikan yang memandang bahwa proses pendidikan merupakan usaha yang mencoba membentuk keteraturan susunan ilmu yang berguna bagi dirinya sebagai seorang muslim. (http://insancendekiaska.org/kurikulum)
Sekolah yang dengan konsep seperti inilah yang membuka kembali optimisme anak bangsa untuk memajukan Indonesia. INSAN CENDEKIA bersama-sama dengan lembaga pendidikan lain yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memberi contoh nyata untuk sebuah pembaharuan pendidikan di Indonesia.
Pelaksanakan kurikulum integratif tersebut, INSAN CENDEKIA mewujudkannya dalam kegiatan pembelajaran yang modern dan inovatif. Di antara contohnya adalah dilaksanakannya kegiatan penunjang yang meliputi:
1.    Responsi yaitu kegiatan berstruktur guna meningkatkan penguasaan konsep dan melatih keterampilan siswa.
2.    Klinik Mata Pelajaran yaitu program pengajaran remedi guna mencapai ketuntasan belajar
3.    Belajar Mandiri Malam Hari di Rumah yang dipantau melalui tugas dan PR yang terencana
4.    Sistem Evaluasi menggunakan standar sekolah unggul Insan Cendekia
5.    Klub Bidang Studi yaitu program pengayaan bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi pada bidang studi tertentu. (http://insancendekiaska.org/kegiatan-penunjang)
INSAN CENDEKIA menerapkan kegiatan belajar mengajar modern dengan berbasis ICT dengan berbagai motode. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Sehingga penerapan kurikulum integratif akan semakin menyasar tepat pada tujuan. Untuk menopang kebutuhan ini, INSAN CENDEKIA yang membangun sekolah di atas tanah seluas sekita 1 Ha di Jl. Ovensari, Kadilangu, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, telah memiliki berbagai fasilitas agar kegiatan belajar mengajar menjadi kondusif.
1.    Kelas lengkap dengan AC, komputer dan LCD Projector
2.    Laboratorium (IPA, Bahasa, Komputer)
3.    Perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar
4.    Fasilitas Olahraga (http://insancendekiaska.org/fasilitas)
Fasilitas yang memadai dari INSAN CENDEKIA
Ketertinggalan bangsa Indonesi dari bangsa-bangsa lain di berbagai bidang menjadikan INSAN CENDEKIA terpanggil untuk memberikan sumbangsih untuk kemajuan bangsa . Bukan hanya sekadar teori atau wacana untuk membangun bangsa dengan memajukan pendidikan Indonesia. Namun, berbagai langkah INSAN CENDEKIA dalam bidang pendidikan yang telah dilakukan selama ini merupakan tindakan nyata dari INSAN CENDEKIA untuk Pembaharuan Pendidikan di Indonesia.

Wonogiri, 1 April 2012
Dwi Wahyudi




Daftar Pustaka   
Farida Nuraini. 2010. Kelemahan Sistem Pendidikan di Indonesia. (http://farida90.blogspot.com/2010/01/kelemahan-sistem-pendidikan-di.html, diakses pada 31 Maret 2012 Pukul 21.40 WIB)

Kusumadewi Priraharjo. 2007. Masalah Pendidikan di Indonesia.  (http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia/, diakses pada 31 Maret 2012 Pukul 21.30 WIB)

Sudaryanto. 2012. Sekolah dalam Habituasi Bohong. (SOLOPOS, Kamis Kliwon, 22 Maret 2012)

http://insancendekiaska.org/profil
http://insancendekiaska.org/kurikulum
http://insancendekiaska.org/kegiatan-penunjang
http://insancendekiaska.org/fasilitas

Saturday, 31 March 2012


Komunikasi "pemecah es" atau yang diistilahkan dengan ice breaker adalah komunikasi serupa untuk memecahkan kebekuan suasana. Sebab, ketika dua orang baru bertemu, sesungguhnya belum ada kesiapan untuk berkomunikasi secara timbal balik. Apalagi bila materi pembicaraannya berat-berat. Masing-masing masih berada dalam kondisi bawaannya. Kondisi bawaan guru saat sedang bertemu dengan siswa di pagi hari barang kali adalah yang di bawa dari keluarganya. Begitu pun siswa, ia masih membawa beban, permasalahan, atau mungkin juga suasana gembira dari rumah. Kalau antara guru dengan murid ini bertemu dengan kondisi bawaan masing-masing langsung berbincang mengenai materi inti, kemungkinan besar malah akan terjadi komunikasi tulalit alias tidak nyambung. 
Maka, ice breaker sangat berperan di sini. Menggunakan bahan komunikasi yang ringan untuk memecahkan kebekuan untuk mengawali pembicaraan adalah langkah yang tepat. Misalnya, menu sarapan pagi, kabar orang tua, atau cerita tentang kejadian yang diliihat siswa atau guru saat berangkat sekolah. Setelah itu, barulah guru memberikan perhatian pada kerapian, kedisiplinan, atau adab siswa. Tegurlah dengan tegas jika kesalahan itu memang berat. Guru tidak perlu lagi khawatir. Sebab, sebelum guru memberikan perhatian negatif, dia telah mendahuluinya dengan perhatian positif. 
Misalnya ketika melihat seorang anak tidak memasukkan pakaiannya secara rapi seorang guru menegur: "Nak, tadi pagi sudah sarapan belum?" lantas bisa dilanjutkan "Wah, enak dong. Pak guru tadi juga sudah sarapan, sama telor." Nah setelah komunikasi sudah cair, barulah menuju inti permasalahan. "Nak, biasanya kamu selalu berpakaian rapi, deh..!" Biasanya si anak akan langsung memerhatikan pakaiannya. Kalau suasana demikian, anak akan secara otomatis merapikan pakaiannya.
Perhatian positif inilah yang ternyata selalu diberikan anak kepada teman-temannya dalam pergaulan mereka. Itulah sebabnya, setiap saat komunikasi mereka cair. Sangat berbeda dengan komunikasi antara siswa dengan guru. Maka jangan heran bila orang tua sering mendapati situasi bahwa pengaruh teman sebaya terlihat lebih kuat dibanding pengaruh orang tua terhadap anak-anak kandung mereka sendiri. Andai saja orang tua berlaku, memberikan perhatian, serta bertindak sebagai sahabat bagi anak, tentunya anak akan terbiasa berkomunikasi secara cair sebagaimana mereka berkomunikasi dengan teman sebayanya.
Untuk menjaga agar guru selalu konsisten dalam menjalin hubungan pertemanan dengan siswa, ada baiknya setiap kali berjumpa dengan mereka guru selalu mengingatkan diri sendiri akan sebuah “proklamasi”: AKU ADALAH TEMANMU, NAK! Proklamasikan hal ini di dalam hati secara terus-menerus, setiap kali berjumpa dengan mereka. Insya Allah, pada akhirnya guru akan betul-betul berhasil menjadi teman siswa. 

Daftar Pustaka: 
Abdulllah Munir.2010. SPIRITUAL TEACHING.  Pustaka Insan Madani:Yogyakarta.

Friday, 30 March 2012


SDIT ULIN NUHA Wuryantoro ... menyiapkan generasi sholeh dan cerdas.
Mari bergabung di sini...
Ini Visi dan Misi Kami....


Tuesday, 28 February 2012

Penangsang memimpin Jipang Panolang sehingga menjadi sebuah kadipaten dari Kesultanan Demak yang paling makmur, kaya, dan sejahtera.  Bahkan warga Pajang yang berbatasan langsung dengan Jipang Panolang, berbondong-bondong pindah ke wilayah Kadipaten Jipang. Agar mendapat perhatian dari Jipang, agar turut merasakan kemakmuran di wilayah pemerintahan Jipang. 
Penangsang, sang pemimpin Jipang, memiliki watak yang tegas, keras dalam mempertahankan kebenaran dan keadilan. Penangsang begitu marah setiap kali ia disama-samakan dengan ayahandanya, Pangeran Sekar. Ia lebih memilih menjadi dirinya sendiri. 
Sultan Trenggono hendak menaklukkan Blambangan yang belum juga mau bergabung dengan Demak Bintoro. Blambangan malah bekerja sama dengan Portugis di Malaka. Dalam perjalanan menuju Blambangan, Trenggono gugur oleh seorang penyusup. Musuh itu menyusup menjadi abdi dalem pembawa tempolong,  tempat untuk meludah Sang Raja dari hasil kunyahan kinang.
Wafatnya Trenggono memunculkan permasalahan tentang siapa penggantinya. Sunan Kudus menjagokan Penangsang untuk diusulkan pada rapat dewan Wali. Sunan Kalijogo dan Sunan Muria mengusulkan Bagus Mukmin, nama kecil Raden Prawoto. Penangsang dengan tegas menolak pinangan Sunan Kudus. Ia berdalih ingin memajukan Jipang saja. Dia tidak tertarik untuk menjadi Sultan Demak. Akhirnya dengan berbagai bujuk rayu, Penangsang akhirnya mengiyakan pinangan tersebut.
Di sisi lain Bagus Mukmin pun menolak untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa tidak pantas. Tanganya mulai ringkih, matanya buta, kondisi fisik yang tak lagi prima untuk memimpin sebuah kerajaan besar sekaliber Demak Bintoro. Ragu, bimbang, dia bingung menyelimuti pikiran Mukmin hingga menjelang hari digelarnya Rapat Musyawarah Waliyul Amri. Ia juga dihantui rasa bersalah atas tindakan yang dilakukannya sebagai dalang atas Tragedi Kali Tuntang yang menyebabkan Pangeran Sekar terbunuh.
Hingga akhirnya rapat Waliyul Amri pun digelar dengan suara Mayoritas memilih Bagus Mukmin. Ketika ditanyakan kepada Mukmin: “Apakah bersedia untuk menjadi Sultan Demak, Bagus Mukmin hanya diam dalam kebutaannya. Diamnya dianggap menyetujui oleh Dewan Wali. Mukmin semakin gugup, bingung tak tahu harus berbuat  apa. Padahal jauh-jauh hari ia sudah mengungkapkan bahwa dia tidak mau untuk dicalonkan menjadi Sultan Demak. Itu pulalah yang membuat Penangsang mau mendatangi Rapat Dewan Wali. Sedianya ia tidak mau datang sama sekali. Sunan Kudus menyatakan bahwa jika Penangsang tidak mau datang, sebagai calon Sunan Demak maka Kerajaan Demak Bintoro terancam mengalami kekosongan raja.
Namun setelah terjadi pemilihan Sultan Demak, dihasilkan keputusan bahwa Mukmin sebagai Sultan Demak Bintoro pengganti Sultan Trenggono. Marahlah Penangsang atas kejadian itu. Bukan kemarahan karena dia yang tidak terpilih. Namun ia marah karena informasi yang selama ini diterimanya tidak benar. Informasi bahwa Mukmin menolak dicalonkan menjadi Sultan Demak. Ia merasa dibohongi. Ia merasa dipermainkan atas kejadian tersebut. Ia merasa dipermalukan di rapat Dewan Wali seolah dia menjagokan diri lalu kalah dengan Mukmin. Padahal tidak sama sekali. Ia sedikit pun tidak tertarik dengna tahta sebagai Sultan Demak.

Wednesday, 1 February 2012


Pangeran sekar begitu marahnya karena merasa haknya dirampas oleh waliyul amri yang memberikan tahta sultan demak bintoro ke tangan Trenggono, adik lelakinya beda ibu. Ia merasa dialah yang lebih tepat menjabat sultan karena dia lebih tua. Sesungguhnya dia sudah merasa dilangkahi ketika waliyul amri memilih pati unus, adik lelakinya, sebagai sultan demak menggantikan ayahanda Raden Fatah. Memang di kesultanan demak bintoro tidak berlaku konvensi lama yang mengakar di kerajaan-kerajaan nusantara dimana seorang anak lelaki tertua secara otomatis menjadi putera mahkota yang kemudian diproyeksikan sebagai pengganti kedudukan raja kalau sang raja lengser. Kesultanan demak dengan tatanannya sendiri memiliki kaidah bahwa segala keputusan penting pada kesultanan harus mendapat restu atau dimusyawarahkan dulu dalam rapat waliyul amri. Waliyul amri sendiri adalah sekelompok ulama sebagai penasihat raja dan sebagai tempat meminta pertimbangan bagi raja dalam memutuskan perkara atau kebijakan. Waliyul amri juga memegang peran sebagai penyebar dakwah islam di tanah jawa. Dengan adanya waliyul amri ini, kedudukan raja atau sultan di kerajaan demak tidak sesakral, sehebat, sekuat raja-raja kerajaan nusantara era sebelumnya seperti sriwijaya dan majapahit. Raja bukan sebagai pengejawantahan Tuhan di muka bumi. Akan tetapi kekuasaannya dibatasi dan terkendali oleh Waliyul Amri.
Dengan demikian, tidak aneh jika pengganti Raden Fatah adalah justeru anak bungsu: Pati Unus bukan pangeran sekar atau trenggono. Dengan terpilihnya Pati Unus, sebenarnya pangeran sekar sudah merasa haknya dirampas. Karena ia masih beranggapan dan masih terpatri dalam jiwanya bahwa pengganti raja adalah anak laki-laki tertua. Ia bisa menerima keputusan waliyul amri itu setelah menerima penjelasan tentang alasan mereka mengangkat pati unus.
Pati unus memerintah demak hanya dalam waktu kurang lebih tiga tahun. Waktu yang relatif pendek untuk mengurus sebuah pemerintahan besar seperti demak. Mangkatnya pati unus ini diikuti musyarawah waliyul amri untuk menentukan penggantinya. Pangeran sekar dengan PD dan yakin dirinya yang terpilih menggantikan adiknya sebagai sultan demak. Akan tetapi yang diputuskan waliyul amri tidak demikian. Waliyul Amri mengangkat Trenggono sebagai sultan demak pengganti Pati Unus. Sontak, marahlah Pangeran Sekar dengan keputusan Waliyul Amri ini. Dia merasa sudah bersabar selama tiga tahun untuk mendapatkan haknya ternyata tidak membuahkan hasil. Pangeran sekar merasa dihianati, dianaktirikan, dizalimi waliyul amri. Berbagai upaya dilakukan Bupati Jipang Panolang ini untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Demak, khususnya waliyul amri. Pangeran sekar berhasil mencuri Keris Brongot Setan Kober yang merupakan keris pusaka keraton yang digunakan untuk upacara pelantikan Trenggono menjadi Sultan Demak.
Dengan keris pusaka itu Pangeran Sekar marah-marah di pendopo Kesultanan Demak menuntut hak yang dirasanya dirampas oleh pemerintah Demak.Untunglah tidak sampai terjadi kekisruhan yang begitu berbahaya dari peristiwa itu.

Sunan Kudus, sebagai guru Pangeran Sekar, yang merupakan pemimpin waliyul amri berhasil meredam amarah Pangeran Sekar. Sunan Kudus berhasil membujuk Pangeran Sekar untuk tidak berbuat nekat. Keris Brongot Setan Kober berhasil diminta dan disimpan di Panti Kudus, sehingga tidak disalahgunakan oleh Pangeran Sekar.
Keris yang tersimpan di Panti Kudus dicuri oleh Bagus Mukmin (Prawoto) dan kemudian digunakan untuk menghabisi Pangeran Sekar di Kali Tuntang. Prawoto berpikir bahwa pembuat onar dan kekisruhan harus dimusnahkan. Pangeran Sekar dianggapnya akan mengkudeta pemerintahan ayahnya.
Wafatnya Pangeran Sekar ini meninggalkan empat orang istri yang masing-masing mengandung anaknya. Dari masing-masing istri inilah kemudian lahir Penangsang, Mataram, Panuntun, dan Panuntas. Penangsang dilahirkan dari istri Pangeran Sekar dari anak Bupati Jipang Panolang. Dengan demikian, kelak Penangsanglah yang menggantikan ayahandanya menjadi Bupati Jipang Panolang yang wilayahnya terluas diantara kabupaten-kabupaten lain di Demak.
(to be continued)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!