Thursday, 23 June 2016


Mengajak orang lain untuk berbuat baik, meninggalkan kebiasaan buruk itu tidak bisa dikatakan mudah. Karena ini bertentangan dengan tabiat manusia yang cenderung suka enak, santai, bebas dan suka-suka. Manusia cenderung tidak suka diatur-atur oleh apa pun. Kecuali mereka yang memiliki ketundukan kepada Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka faham betul untuk merasakan bahagia dan sentausa adalah dengan mengikuti petunjuk yang telah diturunkan. Oleh karena itu, mereka tunduk kepada petunjuk itu demi kebahagiaan dalam kehidupannya. Rela mengekang nafsu dan tabiat santai, bebas, suka-suka karena itu semua berasal dari bisikan syetan yang hanya akan menjerumuskan pada keadaan jauh dari petunjuk.
Orang beriman selain tunduk dan patuh secara individu, memiliki tugas untuk menyebarluaskan petunjuk dari Allah swt itu kepada orang di luar dirinya agar kebahagiaan itu terwujud dalam kehidupan bersama. Proses menyebarluaskan inilah yang disebut dakwah. Dakwah itu ibarat jalan yang penuh duri. Tak mudah dilalui. Bisa mengakibatkan sakit pada diri. Tapi ia harus dilalui, agar bisa mencapai tujuan. Karena, kebahagiaan tak bisa diraih hanya dengan sholeh secara induvidu. Tetapi sosial.
Dalam proses mengajak, mengajarkan, menyebarluaskan petunjuk itu perlu seni. Perlu trik yang memungkinkan petunjuk itu bisa diterima orang yang memiliki kecenderungan suka enak, santai, bebas, tak mau diatur. Kalau tanpa seni, trik, dan tata cara yang cantik, orang-orang yang memang memiliki kecenderungan tersebut di atas justeru akan menjauh, kurang simpatik, bahkan memusuhi dan menghambat. Tentunya kita masih ingat kisah para Wali atau yang dikenal Wali Songo di tanah Jawa dalam berdakwah menyebarkan petunjuk dari Al Quran dan Sunnah. Mereka menghadapi masyarakat yang sudah lekat dengan keyakinan dan kepercayaan lama yang mendarah daging. Jelas, ajaran itu banyak yang bertentangan dengan ajaran dalam Al Quran dan Sunnah. Berbagai trik, seni berdakwah, maupun cara-cara nan cantik menjadikan dakwah yang mereka usung benar-benar menyebar luas ke seluruh penjuru Nusantara. Trik, seni berdakwah, tata cara nan cantik itu tentunya tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah itu sendiri. Mereka, para pendahulu dakwah di Nusantara tentunya faham betul tentang hal ini. Mereka ulama terkemuka, bukan hanya sekadar orang-orang yang mengaji satu, dua, atau tiga tahun kemudian seolah merasa sudah mafhum betul tentang halal haram.
Wali Songo itu ada yang utusan langsung dari Kekhalifahan Islam pada waktu itu ada pula ulama yang memang sudah menuntut ilmu ke Jazirah Arab langsung. Utusan dari kekhalifahan itu tentunya bukan orang sembarangan. Tentunya orang-orang pilihan. Sebutlah Maulana Malik Ibrahim, Jakfar Shodiq, Makdum Ibrahim dan lain-lain. Mereka ulama terkemuka. Mereka menghadapi kondisi masyarakat di Nusantara yang sudah berkeyakinan. Menganut kepercayaan meski tak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Justeru di sinilah titik kesulitannya. Mereka harus berdakwah kepada orang yang sudah terisi keyakinannya. Sulit untuk mengubah keyakinan yang sudah mereka percaya turun temurun dan mendarah daging. Akhirnya Wali Songo berhasil memasukkan Islam, menancapkan dakwah di Nusantara dengan berbagai seni dakwah nan cantik. Hampir tanpa penaklukan dengan pedang. Dakwah dengan penuh kedamaian. Dan kita di era sekarang merasakan umat Islam sebagai umat terbanyak di bumi Nusantara ini.
Namun, upaya Wali Songo dalam berdakwah dengan berbagi media seperti kesenian wayang, gamelan, kidung atau tembang, dan prosesi-prosesi lainnya mendapat sorotan tajam dari orang-orang yang datang belakangan. Orang-orang yang tahu-tahu sudah berhadapan dengan masyarakat yang mayoritas muslim. Mereka menghakimi hanya dengan boleh dan tidak boleh. Haram dan halal. Ada tuntunannya (dari Rasul) atau tidak ada tuntunannya. Dengan mudah mereka membid’ah kan, mengharamkan apa-apa yang kadang hanya dijadikan sarana juru dakwah terdahulu yang mereka notabene menghadapi masyarakat yang berkeyakinan lain dan sudah mendarah daging. Wal hasil, banyak pertentangan di masyarakat yang kadang sampai memanaskan situasi kemasyarakatan yang harmonis.
Perlu disadari bahwa menuntun itu harus sesuai dengan kemampuan orang yang dituntun. Dakwah yang santun itu lebih mengena. Dakwah itu perlu trik, tata cara nan cantik. Dakwah itu bukan hanya menyebarkan halal haram, boleh tidak boleh, bid’ah atau bukan. Dakwah itu bukan hanya mengkafir-kafirkan. Dakwah itu bukan hanya menghakimi itu dosa itu berpahala. Dakwah itu perlu seni.

Wednesday, 20 April 2016


Silaturahim atau berkunjung ke rumah salah seorang teman atau saudara adalah perkara yang disunnahkan. Akan tetapi budaya saling mengunjungi itu kini semakin terkikis. Ada banyak penyebab terkikisnya budaya terpuji itu. Salah satunya adalah teknologi yang semakin maju. Hanya dengan gadget di genggaman seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain di tempat yang jauh. Hanya dengan gadget di tangan seseorang dengan mudahnya menemukan kawannya yang sekian lama “hilang”. Hanya dengan gadget di pangkuan seseorang bisa mengendalikan sebuah perusahaan besar, bertransaksi jual beli, atau melakukan hal-hal pelik lainnya. Terbukti, teknologi mampu mendekatkan yang jauh.
Dengan teknologi yang semakin maju itu, hampir semua orang beranggapan bahwa tak perlu lagi saling mengunjungi, toh kabarnya sudah bisa dipantau setiap hari. Tidak perlu lagi bertamu, toh dari jauh sudah bisa mendengar suaranya. Tak perlu lagi jauh-jauh repot-repot untuk bertemu, toh dari jauh pun sudah bisa saling bertatap. Dengan anggapan ini, akhirnya budaya silaturahim pun semakin memudar. Masing-masing orang sibuk dengan pekerjaannya, keluarganya, sekolahnya, kuliahnya. Tapi bukan itu sebenarnya yang menjadi penyebab. Tapi, mereka sibuk dengan gadgetnya, sibuk dengna dirinya.
Ada sebagian orang yang merasa teknologi tak mampu menjawab kerinduan untuk bertatap muka. Tak bisa menjawab kerinduan untuk tertawa bersama dalam satu tempat. Akhirnya ada yang memiliki inisiatif untuk bertatap muka. Ia ingin menghubungi saudaranya, karibnya, kawan lamanya untuk bertemu. Coba kita dengar bagaimana ia memulai percakapan melalui telepon genggamnya: “Kawan, bagaimana kabarmu? Lama kita tak jumpa. Bolehkah aku berkunjung ke rumahmu?”. Di seberang sana, terdengar lirih dari genggamannya kawannya menjawab: “Hai... Alhamdulillah baik. Boleh-boleh, silakan ke rumahku. Kira-kira ada perlu apa, ya?” Degub makin kencang jantung kawan yang berinisiatif menelepon tadi. Dia mau menjawab apa? Padahal ia begitu rindu dengan sahabatnya itu. Ada rasa kecewa, mungkin, mendengar kalimat terakhir yang dipertanyakan sahabatnya di seberang sana. Menjadikannya ingin sekali mengurungkan niat untuk bertamu. Akhirnya, kita dengar dia memutuskan: “Ooh..gak ada apa-apa kok.” Setelah itu, ia menutup telepon. Beberapa saat kemudian, terlihat ia duduk termangu. Mencari-cari alasan untuk menggagalkan rencana itu. Sekian menit tak juga ditemukan alasan yang tepat. Alasan untuk mengurungkan niat hendak berjumpa. Karena canggung. Karena ada rasa tidak enak di hati. Tepat ia rasakan setelah mendengar kalimat terakhir di ujung telepon itu. Akhirnya setelah termangu sekian waktu, ia tinggalkan lamunan. Ia beraktivitas kembali. Sejam, dua jam, tiga jam. Akhirnya ia mengetik pesan singkat: “Maaf, kawan. Besok tidak jadi ke rumahmu. Aku ada acara mendadak.”
Barangkali, kita pun pernah melakukan hal yang sama dengan kawan tadi. Oleh karena itu, ketika ada kawan atau saudara yang mengirim pesan atau telepon untuk berjumpa. Tak usahlah bertanya: “Ada perlu apa, ya?”. Itu termasuk adab dalam kita berkomunikasi dengan sahabat atau kawan yang lama tak berjumpa. Tak usahlah keluar dari mulut kita menanyakan maksud tujuan untuk apa ia mau bertemu kita. Entah dengan kalimat “Ada perlu apa, ya?”, “Mau apa?”, “Emangnya ada apa?”, dan semacamnya. Itu termasuk etika. Sebagaimana ketika kita mau berkunjung ke suatu rumah, setelah mengetuk pintu, maka etikanya adalah memalingkan muka atau menghadapkan wajah tidak ke dalam rumah. Itu etikanya. Itu akhlak baik yang harus dilakukan. Meskipun seandainya melakukan itu pun tidak ada masalah untuk kawan kita. Tapi, orang yang berakhlak baik itu selalu dirindukan. Orang yang berakhlak baik itu memiliki etika dan adab-adab yang semacam itu. Tak bertanya: “Ada perlu apa, ya?” dan semacamnya ketika ada kawan yang menghubungi dan menyampaikan niatnya untuk bertemu atau bertamu.

Saturday, 9 April 2016

Ada seorang bapak yang berbincang dan menyampaikan keluhannya. Ia mengawalinya dengan pernyataaan bahwa shalat itu akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Nyatanya banyak orang shalat tetapi tindakannya banyak yang menyimpang dari kebenaran atau banyak keji dan mungkarnya. Ketika kusampaikan bahwa itu adalah salah orangnya yang belum bisa melahirkan efek shalat dalam kehidupannya beliau pun menyetujuinya.  Artinya, bukan shalatnya yang salah atau Qurannya yang salah dengan menyatakan bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi orang yang shalatlah yang belum mampu membawa ruh shalat ke dalam kehidupannya. Bapak ini pun sepakat dengan argumen ini.
Kemudian bapak ini meneritakan juga bahwa suatu ketika anaknya jatuh sakit hingga parah. Beliau menyatakan bahwa selama ini ia aktif di pengajian-pengajian. Yang beliau resahkan adalah di saat beliau di rumah sakit menunggui anaknya yang sakit parah, tidak ada satu pun mereka yang ‘ustadz’ pengisi pengajian atau pemimpin kelompok pengajian itu yang datang ke rumah sakit untuk menengok menguatkan mental dan memberi dukungan padanya. Padahal itulah yang beliau butuhkan waktu itu. Bukan uang dalam amplop atau makanan yang dibawa penjeguk. Namun nyatanya mereka tidak nongol sama sekali. Tak tampak atang hidungnya. Malah justeru aktivis dari agama lain yang datang menjenguk bahkan mendonorkan darahnya.  Sungguh ini suatu yang ironis, kata beliau. Kalau misal keimanannya rapuh, bisa-bisa ia telah pindah keyakinan, begitu tutur beliau.
Begitulah fenomena umat dengan agama syumuliyah ini. Beliau meyakini bahwa yang paling paripurna adalah Islam. Beliau tak menyangkal itu. Tak ada kepercayaan lain yang seilmiah, selengkap, separipurna Islam, imbuhnya. Akan tetapi mengapa orang di luar sana yang malah kadang lebih islami. Mengapa orang islam sendiri malah terjebak pada perilaku-perilaku yang jauh dari nilai islam.
Begitulah, aku tidak membantah, menyangkal, atau membumbui uraian bapak ini. Mari kita tengok sejarah sejenak. Dulu, saat pernag dunia kedua, di sebuah Kamp Nazi, di sana setiap detik terjadi penyiksaan, kekejaman, dan tangisan tanpa henti. Mereka yang disekap ada yang berujar: “mengapa ini terjadi padaku?”. Ada pula mereka yang sayup-sayup terdengar menyuarakan: “Apa yang bisa dan seharusnya saya lakukan di dalam situasi yang semencekam ini?” akhirnya didapati kenyataan bahwa mereka yang menyuarakan yang pertama, rata-rata mati di tiang gantungan atau ruang pembantaian. Sementara mereka yang menyuarakan yang kedua, sebagian besarnya adalah yang bisa selamat. Dengan berbagai jalan.
Itulah dahsyatnya pemaknaan. Memaknai sebuah peristiwa atau keadaan yang dihadapi. Kembali ke bapak yang menuturkan ceritanya padaku tadi. Beliau memaknai shalat dan pengaruhnya pada kaum muslimin. Bahwa banyak kaum muslimin yang shalat tetapi belum bisa membawa ruh shalat itu dalam kehidupannya sehari-hari. Maka kemudian begitulah yang akan terlihat pada bapak itu. Atau, beliau memaknai bahwa shalat ternyata tidak bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Maka kemudian lambat laun membenarkan pernyataan: “buat apa shalat?”. Naudzubillah. Begitu bapak tadi mengalami musibah dengan sakitnya sang anak, lalu memberikan pemaknaan terhadap orang di sekelilingnya, para ustadz, kelompok pengajian yang beliau ikuti. Maka, begitu pula yang kemudian menjadi kebiasannya. Sangat jarang terlihat ikut menjenguk orang sakit. Bahkan malah berhenti pula menghadiri pengajian-pengajian. Begitu yang sempat bapak itu sampaikan dalam obrolan.
Pemaknaan melahirkan pemahaman dalam bawah sadar kita. Yang kemudian bisa saja diperturutkan untuk menjadi pembenaran perilaku. Selalu belajar. Di mana pun dan kapan pun. Mungkin itu penawarnya. Wallahu a’lam bishawab.

Tuesday, 5 April 2016

Ketika gerbong kereta terus berjalan, tak ada alasan untuk meloncat keluar. Binasa. Meski lokomotif mengalami kendala gerbong akan tetap mengekornya. Penumpang gerbong memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana. Tetap di dalam gerbong kereta adalah keselamatan. Kereta akan tetap berjalan meski masinis harus diganti. Kereta akan tetap berjalan degnan siapa pun yang membersamai.
Kita hanyalah penumpang gerbong kereta. Tetap berada di atasnya akan menampaikan kita pada tujuan mana hendak kita singgahi. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan asri di luaran sana. Lihatlah sungai jernih airnya, persawahan subur dengan angin semilirinya, perkampungan damai nan asri, pegungungan yang kekar dan sejuk udaranya. Janganlah tergoda untuk meloncat keluar dari gerbong yang membawamu. Meski pemandangan di luaran begitu melambai. Turun berarti akan tetinggal. Turun berarti tak akan pernah sampai pada tujuan. Turun berarti akan menikmati pemandangan di luaran. Tetapi sesaat. Dengan berdiam di sana pasti akan ada rasa bosan. Sementara kereta telah jauh meningalkan. Dan dalam dirimu hanya ada penyesalan.
Saudaraku, badai pasti akan selalu menebarkan ancaman. Tapi dia akan berlalu. Malam memang mengancamkan pekat. Tapi fajar pasti menyingsing. Mendung tebal selalu menebarkan teror. Tapi ia akan terhapus oleh rintiknya hujan. Sekuat-kuatnya badai, jangan membuat goyah. Perkuatlah peganganmu. Perkokohlah ikatanmu. Bersabarlah. Maka kau akan jumpai indahnya cuaca selepas badai. Indahnya pagi selepas pekatnya malam. Segarnya hujan selepas mendung tebal yang menyeramkan.
Saudaraku, saat suatu pohon mulai besar. Ia mulai akan berbuah. Sunatullah, bahwa tidak semua buah itu bisa dipetik. Dari mereka akan ada yang jatuh tercecer. Ianya yang jatuh ada yang sejak masih sangat kecil. Ada yang saat mulai membesar. Dan ada pula yang hampir siap petik tetapi malah terjatuh. Berpegangan kuat pada dahan dan ranting adalah mutlak. Karena angin akan terus berembus. Melemahkan kita. Kita akan tetap kuat atau terjatuh?
Saudaraku. Perhatikanlah sebuah taman. Nikmatilah warna-warninya. Cium harumnya yang bermekaran. Rasakan semilir angin dan segarnya hawa di bawah pohon besarnya. Tapi, tahukah engkau bahwa berulang-ulang taman itu mengalami penataan. Ada yang dicabut. Ada yang diganti. Ada yang dipangkas daun-daunnya. Terkadang pun harus dirobohkan pepohonan yang besar. Itulah perawatan. Janganlah hanya karena sering merasakan rindangnya di bawah pohon besar lantas engkau memaki-maki saat pohon itu harus ditebang. Jangan engkau bersungut-sungut saat bunga kesukaanmu harus dipangkas. Jangan engkau mengharu biru saat tanaman yang engkau puja dicabut. Indahnya taman itu akan terjaga dengan hal-hal yang kadang engkau tidak suka. Bersabarlah.
Saudaraku. Kita ingat kisah Khalid. Semua tahu wibawanya memimpin pasukan. Setidaknya musuh gentar melihat bahwa Khalid yang memimpin. Ciut nyali musuh saat melihat bahwa pasukan yang dihadapinya dipanglimai Khalid. Saat seperti itu, sesungguhnya ibarat pedag yang terhunus tinggal menikamkan saja. Kuku yang tajam itu tinggal menancapkannya saja pada mangsa. Tapi tidak. Umar Sang Khalifah justeru memberhentikan Khalid saat dia sedang terhunus pedangnya. Andai Engkau sebagai pasukan, apakah akan keluar barisan dan lari dari pertempuran saat mendengar diundurnya Khalid? Padahal lari dari perang yang berkecamuk adalah dosa besar. Tsabatlah.
Saudaraku. Jangan karena ada sosok yang kau kagumi engaku berbaris rapi pada barisan. Tapi ikhlaskanlah karena Allah swt. Jangan karena mundur atau digantikannya pemimpin peleton Engkau menjadikannya pembenaran untuk keluar dari barisan. Jangan biarkan hawa nafsumu menemukan alasan untuk berhenti.  Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati-hati ini berpadu. Kuatkanlah ikatannya. Murnikan cintanya.

Sunday, 27 March 2016

Orang baik itu disukai banyak orang. Akan tetapi orang baik itu belum paripurna menjadi manusia seutuhnya. Sebagaimana yang diperintahkan Sang Pencipta Allah swt. Sebagai manusia yang beriman, kita diperintahkan untukmengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt serta mencegah dari suatu keburukan dan keingkaran. Orang yang baik memang disukai banyak orang. Karena ia tidak mengganggu, tidak bermasalah, tidak bikin repot atau rese. Akan tetapi perlu diibaratkan bahwa orang baik itu ibarat air. Sejernih-jernihnya air jika ia diam pasti akan berakibat yang tidak baik. Air menjadi berbau, tidak sehat dan akan berpotensi tercampur kotoran. Oleh karena itu, agar air jernih itu tetap jernih dan sehat maka ia butuh mengalir.

Demikianlah orang baik. Orang baik mungkin disukai banyak orang. Akan tetapi kebaikannya hanya untuk diinya sendiri. Maka ia perlu menalirkan kebaikan itu untuk orang lain yang ada di sekelilingnya. Agar lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik. Ketika orang baik ini mulai mengalirkan kebaikan itu pada lingkungannya, dimulailah suatu babak yang menyulitkan. Mengalirkan kebaikan itu artinya ia mengajak orang lain kepada kebaikan dan ketaatan. Mengajak seseorang pada kebaikan itu namanya dakwah. Sejak ia mengajak dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain maka jalan penuh duri mulai dilalui. Tapi itulah tantangan. Itulah sunatullah dakwah. Maka dari itu kemudian dakwah disebut dengan jalan yang penuh onak dan duri. Tidak semua orang mampu dan bertahan di jalan itu. Hanya orang terpilih yang mampu bertahan di jalan penuh duri itu.
Ketika seseorang memulai dakwahnya, maka ia harus bersiap dengan duri-duri yang akan menghadangnya. Cemoohan, pelecehan, permusuhan adalah diantaranya. Banyak orang yang gagal bertahan, tidak istiqamah. Akhirnya mundur teratur. Balik lagi menjadi orang baik yang tidak mengalirkan kebaikan. Padahal dengan rintangan dan halangan itu pahala Allah swt mengalir. Dengan rintangan itu menjadilah seorang baik menjadi pribadi yang kuat. Dengan rintangan itu pula akan dirasakan manisnya ketika meraih kemenangan.
Tidak semua aktivis dakwah yang mampu bertahan. Butuh ketebalan iman dan energi berdakwah yang kokoh. Mereka yang tidak kuat akan kembali menjadi orang baik atau bahkan berubah total seratus delapan puluh derajat menjadi ahli maksiat, naudzubillah. Mereka yang dulu berapi-api kini surut tanpa nyala. Dulunya luar biasa energik dalam berdakwah kini tak tampak batang hidungnya. Jelas, mereka tertinggal oleh kereta dakwah. Namun yang patut diingat bahwa dakwah tidak butuh orang-orang seperti itu. Kereta Dakwah akan tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Kita akan tertinggal kereta itu atau akan tetap di dalamnya. Hidup adalah pilihan. Menjadi orang baik atau tidak baik. Mendakwahkan atau diam. Bertahan atau mundur. Keputusan ada di tangan kita. Orang baik disuka banyak khalayak. Akan tetapi penyeru kebaikan dimusuhi banyak orang. Bertahanlah.

Tuesday, 22 March 2016

Ini tentang kematian Abu Jahal. Konon, Abu Jahal adalah premannya Mekah waktu itu. Keberingasannya, kelakuannya, banyak warga Mekah yang takut dan ciut nyali padanya. Gertakannya, gelegar bentaknya, lototan matanya, menjadikan ia semakin garang dan menakutkan. Pada meyingkir setiap orang yang berpapasan dengannya.
Kerasulan Muhammad sampai juga di telinganya. Ia begitu geram dan murka orang-orang Mekah berbondong mengikuti Agama Muhammad. Kemarahannya makin memuncak tatkala satu demi satu tetangganya mengikuti, taat, patuh kepada pembawa risalah baru. Ia makin pongah. Dihajarnya setiap orang yang ia jumpai memeluk keyakinan yang dibawa Muhammad. Demikia pula Muhammad sendiri juga menerima amukan Abu Jahal. Meski Muhammad adalah kerabatnya.
Sampai suatu ketika, laknat Allah swt datang padanya. Allah swt mempermalukan keberingasannya. Siapa sangka orang yng begitu beringas kejam, ditakuti banyak orang, takluk oleh seorang sahabat yang fisiknya mungil. Abdullah bin Mas'ud orangnya. Abu Jahal yang berkali-kali menyiksa melukai para sahabat yang kuat, yang gagah, tapi takluk di tangan sahabat mungil, Abdullah bin Mas'ud.
Abu Jahal yang bahkan pernah melukai Khalid bin Walid. Padahal siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Panglima perang yang selalu berjaya di medan laga. Memimpin pasukan hancurkan musuh. Panglima yang cerdik dengan siasat perangnya. Tapi ia mampu dilukai Abu Jahal.
Namun, bukan kegarangan keperkasaan yang mengalahkan Abu Jahal. Justeru ia kalah oleh sahabat yang mungil fisiknya.
Kisah itu menunjukkan bahwa Allah swt memberikan hikmah kepada kita, Allah swt pasti mengalahkan musuh-musuh-Nya bahkan dengan sangat irasional. Allah swt Maha Kuasa. Impossible is nothing. Kita punya doa dan Allah swt pasti kan kabulkan permintaan kita. Jika memang itu baik untuk kita.

Saturday, 20 September 2014

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Wonten ing kalodhangan siang punika, monggo kula panjenengan sami tansah bersyukur dhumateng Allah. Ingkang paring nikmat lan rahmat dhumateng kula panjenengan sami, saengga kula panjenengan sami saged ngibadah shalat jumat dhumateng Allah swt. Ibadah shalat jumat menika monggo kita manfaataken kangge ningkataken kualitas iman lan taqwa dhumateng Allah. Amargi sak sae-saenipun bekal kangge benjang gesang ing akhirat inggih namun iman kaliyan taqwa.
Maasyiral muslimin rahimakumullah...
Salah satunggale perkawis ingkang ndadosaken manungsa repot ngantos-ngantos supe dhumateng agaminipun inggih menika babagan pados sandhang pangan. Pados rezeki menika kadang ndadosaken tiyang nilaraken dhawuh-dhawuhipun Allah swt. Ngantos-ngantos wonten ingkang nggadhahi pemanggih bilih menawi tiyang menika estu-estu ngleksanakaken dhawuh agami menika saged ngalang-alangi anggenipun pados rezeki. Lajeng pemanggihipun, menawi pengin gadhah bandha donya ingkang kathah, pengin ekonominipun mapan, kedahipun mboten sah nggatosaken babagan halal lan haram utawi aturan-aturan agami. Mekaten pemanggih sebagian manungsa ingkang tebih saking pitedahipun Allah.
Piyambakipun mboten emut bilih Allah ndadosaken syariat agami menika inggih kangge pitedah supados saged bahagia gesangipun ing donya lan akhirat. Dados agami menika, sejatosipun mboten mligi kangge pados akhirat lajeng nilaraken donya. Ananging kekalihipun dipun atur supados manungsa nemoni kebahagiaan ing donya lan akhirat.
Imam Bukhori nate ngriwayataken hadis:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ n: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“sak benere, donga kang sering diucapake kanjeng nabi yaiku: Ya.. Alloh, kula nyuwun panjenengan paring dhumateng kula, kesaenan ing donya lan ing akhirat . Lan tebihaken kula saking siksanipun neraka.” (H. R. Bukhari)
Allah lan Rasulipun mboten nilaraken umat Islam anggenipun paring pitedah kagem pados pagesangan ing donya. Nanging Allah sampun paring pitedah babagan pripun-pripun caranipun pados rezeki ingkang sae. Menawi umat Islam kersa nyinau kanthi estu-estu ngleksanakaken, Allah mesthi paring kelonggaran-kalonggaran kangge pados rezei saking pundi-pundi arah. Sarto bakal dipun turunaken keberkahan saking langit ugi saking bumi.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Ing antawisipun sebab paling utama dipun turunaken rezeki inggih menika istigfar utawi nyuwun pengampunan lan taubat dhumateng Allah. Kados dene wonten ing firmanipun Allah nalikanipun Nabi Nuh ngendika dhumateng kaumipun.
...اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10} يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا {12}
“Njaluka ngapura marang Gustimu, sakbenere Gusti Allah iku Maha Paring Pangapura, Mesthi Gusti Allah bakal ngirim udan deres marang kowe kabeh. Lan Allah bakal nambahi bandha lan anak-anakmu. Allah bakal paring panguripan lan nyuburake kebon-kebun lan ndadekake ing sajrone iku kali-kali kang mili.” (Q. S. Nuh 10-12)    
Mekaten anggenipun Nabi Nuh paring pangemut dhumateng kaumipun. Bilih istigfar utawi nyuwun pangampunan menika saged mbikak kersanipun Allah paring rezeki arupi jawah lan kebon-kebon ingkang subur.
Ingkang dipun wastani istigfar lan taubat ing mriki mboten namung sekadar dipun ucapaken kanthi lisan kemawon, tanpa wonten bekasipun ing manah. Ananging ingkang dipun wastani istigfar inggih menika nyuwun pangampunan ingkang dipun wujudaken ing lisan lan tindak-tanduk anggota badan.
Maknanipun taubat menika nilaraken dosa lan sedaya ingkang awon, nggetuni dosa ingkang sampun kalampahan, lan nggadhahi tekad ingkang kiyat supados mboten nindakaken larangan niku malih. Lajeng ingkang pungkasan inggih menika ngleksanakaken amalan kesaenan kangge ngganti tumindak dosa ingkang sampun kalampahan. Imam Nawawi nate ngendika: “taubat iku hukume wajib. Menawa ana maksiyat kang kadhung dilakoni menungsa marang Allah, lan ora ana sangkut paute karo manungsa liya syarate taubat ana telu: 1. Ngedohi maksiyat iku., 2. Nggetuni kok dheweke wis tumindak maksiyat.,  3. Ninggalake maksiyat iku lan aja nganti mbaleni maneh. Menawi tigang perkawis menika mboten kaleksanan, taubatipun mboten syah.
Menawi dosa/maksiyat menika wonten gegayutanipun kaliyan manungsa, syaratipun ditambah ingkang kaping sekawan inggih menika: kedahipun dipun rampungi hak-hakipun. Menawi wonten gegayutanipun kaliyan arta utawi bandha kedahipun dipun wangsulaken. Menawi wonten gegayutanipun kaliyan pocapan ingkang mboten sae kedahipun nyuwun pangapunten. Jamaah jum’ah rahimakumullah...
Ibnu Katsir wonten ing tafsiripun ing babagan surat Nuh ing nginggil, menawi kula panjenengan taubat dhumateng Allah, nyuwun ampunan dhumateng Allah, Allah badhe ngathah-ngathahaken rezekinipun kange kula panjenengan sami. Allah badhe nurunaken jawah ingkang berkah saking langit. Sanes jawah ingkang ndadosaken mala lan bebaya. Allah badhe ngedalaken kangge kula panjenengan sami berkah saking salebetipun bumi. Allah badhe nuwuhaken tetanduran lan mbabaraken kewan ternak. Lan Allah badhe ndadosaken kali-kali menika mili toyanipun.
Imam Al Qurtubi nate paring cariyos: wonten salah satunggale sedherek ingkang matur dhumateng Ulama Hasan Al Bashri babagan gersangipun bumi. Lajeng Hasan Al Bashri paring solusi supados tiyang menika ngathah-ngathahaken istigfar dhumateng Allah. Wonten ugi tiyang ingkang nyuwun dipun dongakaken supados dipun angkat saking kemlaratan, lajeng tiyang menika dipun printahaken supados ngathah-ngathahaken istigfar lan ngibadah dhumateng Allah.
Mekaten sejatosipun istigfar utawi nyenyuwun pengampunan dhumateng Allah awit dosa-dosa ingkang sampun kalaksanan, menika saged dados jalaran Allah paring pitulungipun, Allah paring rezekinipun dhumateng Umat Manungsa. Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Wonten ing ayat sanesipun, inggih menika ing surat Hud ayat 52. Allah berfirman.
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَتَتَوَلُّوا مُجْرِمِينَ
“Wahai kaumku, nyuwuna pangampunan marang Gusti Allah. Lan taubato marang Allah. Mesthi Allah bakal nurunake udan deres marang kowe kabeh. Allah bakal ngasta kekuatan lan paring kekuatan marang kowe kabeh. Lan kowe kabeh aja ninggalake Allah kanthi tumindak dosa.”
Wonten ing ayat menika, Nabi Hud nitahaken dhumateng kaumipun supados istigfar supados dosa-dosanipun dipun busak, lajeng mrintahaken tobat dhumateng Allah supados Alloh nggampilaken rezeki, nglancaraken urusan, lan supados Allah njagi lan paring perlindhungan dhumateng piyambakipun.
Lan ing ayat 3, taksih ing surat Hud, Allah berfirman:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“Kudune kowe kabeh padha nyuwun ampunan lan taubat marang Allah. Menawa kowe kabeh ngleksanakake iku, Allah bakal paring kenikmatan kang apik lan terus-terusan marang kowe kabeh nganti wektu kang ditentokake. Allah bakal peparing marang kowe kabeh kang nduweni kautaman. Menawa kowe kabeh ngedohi Alloh, sakbenere aku wedi bakal disiksa ing dina kiyamat.”
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Menika kautamaanipun istigfar kaliyan taubat. Inggih menika badhe paring kenikmatan dhumateng kita sami kanthi rezekin ingkang kathah, kemakmuran gesang, sarta Allah badhe nebihaken saking siksa neraka. Wodene ing Salah satunggale Hadits Kanjeng nabi nate bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ اْلاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
“Sing sapa wonge ngokeh-okehi istigfar (nyuwun pengampunan dhumateng Allah), Allah bakal ndadekake gampang kesumpekane, lan saben-saben masalah bakal diparingi solusine, Allah uga bakal paring rezeki kang halal saka arah kang ora bisa dikira-kira.” (H. R. Ahmad, Abu daud lan Nasa’i)
Wonten ing hadits menika kanjeng nabi paring gambaran, salah satunggale kemurahanipun Allah dhumateng tiyang ingkang remen istigfar inggih menika Allah badhe paring rezeki saking arah ingkang mboten nate dipun nyana-nyana.
Pramila menika, mangga kula panjenengan sami ngathah-ngathahaken istigfar, ugi taubat dhumateng Allah . Nanging ampun ngantos istigfar lan taubat menika namung ing lisan kemawon. Nanging kedah dipun buktekaken ing tindak tanduk lan amalan kesaenan. Mugi-mugi Allah paring kekiyatan lan paring kalonggaran dhumateng kula panjenengan sami, saengga kanthi istigfar lan taubat, kula panjenengan dipungampilaken urusanipun, dipun paringi kathah rezekinipun, lan dipun tebihaken saking siksanipun neraka. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:
فَيَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ *  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ *  وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا[مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء[ وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ،[ وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا [وكُلِّ أَرْزَاقِنَا[ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.|||اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ|||رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.|||رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.|||رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.|||. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ|||عِبَادَ اللهِ،- إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ- وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!