Tuesday, 5 April 2016

Ketika gerbong kereta terus berjalan, tak ada alasan untuk meloncat keluar. Binasa. Meski lokomotif mengalami kendala gerbong akan tetap mengekornya. Penumpang gerbong memang tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana. Tetap di dalam gerbong kereta adalah keselamatan. Kereta akan tetap berjalan meski masinis harus diganti. Kereta akan tetap berjalan degnan siapa pun yang membersamai.
Kita hanyalah penumpang gerbong kereta. Tetap berada di atasnya akan menampaikan kita pada tujuan mana hendak kita singgahi. Selama perjalanan kita disuguhi pemandangan asri di luaran sana. Lihatlah sungai jernih airnya, persawahan subur dengan angin semilirinya, perkampungan damai nan asri, pegungungan yang kekar dan sejuk udaranya. Janganlah tergoda untuk meloncat keluar dari gerbong yang membawamu. Meski pemandangan di luaran begitu melambai. Turun berarti akan tetinggal. Turun berarti tak akan pernah sampai pada tujuan. Turun berarti akan menikmati pemandangan di luaran. Tetapi sesaat. Dengan berdiam di sana pasti akan ada rasa bosan. Sementara kereta telah jauh meningalkan. Dan dalam dirimu hanya ada penyesalan.
Saudaraku, badai pasti akan selalu menebarkan ancaman. Tapi dia akan berlalu. Malam memang mengancamkan pekat. Tapi fajar pasti menyingsing. Mendung tebal selalu menebarkan teror. Tapi ia akan terhapus oleh rintiknya hujan. Sekuat-kuatnya badai, jangan membuat goyah. Perkuatlah peganganmu. Perkokohlah ikatanmu. Bersabarlah. Maka kau akan jumpai indahnya cuaca selepas badai. Indahnya pagi selepas pekatnya malam. Segarnya hujan selepas mendung tebal yang menyeramkan.
Saudaraku, saat suatu pohon mulai besar. Ia mulai akan berbuah. Sunatullah, bahwa tidak semua buah itu bisa dipetik. Dari mereka akan ada yang jatuh tercecer. Ianya yang jatuh ada yang sejak masih sangat kecil. Ada yang saat mulai membesar. Dan ada pula yang hampir siap petik tetapi malah terjatuh. Berpegangan kuat pada dahan dan ranting adalah mutlak. Karena angin akan terus berembus. Melemahkan kita. Kita akan tetap kuat atau terjatuh?
Saudaraku. Perhatikanlah sebuah taman. Nikmatilah warna-warninya. Cium harumnya yang bermekaran. Rasakan semilir angin dan segarnya hawa di bawah pohon besarnya. Tapi, tahukah engkau bahwa berulang-ulang taman itu mengalami penataan. Ada yang dicabut. Ada yang diganti. Ada yang dipangkas daun-daunnya. Terkadang pun harus dirobohkan pepohonan yang besar. Itulah perawatan. Janganlah hanya karena sering merasakan rindangnya di bawah pohon besar lantas engkau memaki-maki saat pohon itu harus ditebang. Jangan engkau bersungut-sungut saat bunga kesukaanmu harus dipangkas. Jangan engkau mengharu biru saat tanaman yang engkau puja dicabut. Indahnya taman itu akan terjaga dengan hal-hal yang kadang engkau tidak suka. Bersabarlah.
Saudaraku. Kita ingat kisah Khalid. Semua tahu wibawanya memimpin pasukan. Setidaknya musuh gentar melihat bahwa Khalid yang memimpin. Ciut nyali musuh saat melihat bahwa pasukan yang dihadapinya dipanglimai Khalid. Saat seperti itu, sesungguhnya ibarat pedag yang terhunus tinggal menikamkan saja. Kuku yang tajam itu tinggal menancapkannya saja pada mangsa. Tapi tidak. Umar Sang Khalifah justeru memberhentikan Khalid saat dia sedang terhunus pedangnya. Andai Engkau sebagai pasukan, apakah akan keluar barisan dan lari dari pertempuran saat mendengar diundurnya Khalid? Padahal lari dari perang yang berkecamuk adalah dosa besar. Tsabatlah.
Saudaraku. Jangan karena ada sosok yang kau kagumi engaku berbaris rapi pada barisan. Tapi ikhlaskanlah karena Allah swt. Jangan karena mundur atau digantikannya pemimpin peleton Engkau menjadikannya pembenaran untuk keluar dari barisan. Jangan biarkan hawa nafsumu menemukan alasan untuk berhenti.  Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati-hati ini berpadu. Kuatkanlah ikatannya. Murnikan cintanya.

Sunday, 27 March 2016

Orang baik itu disukai banyak orang. Akan tetapi orang baik itu belum paripurna menjadi manusia seutuhnya. Sebagaimana yang diperintahkan Sang Pencipta Allah swt. Sebagai manusia yang beriman, kita diperintahkan untukmengajak kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt serta mencegah dari suatu keburukan dan keingkaran. Orang yang baik memang disukai banyak orang. Karena ia tidak mengganggu, tidak bermasalah, tidak bikin repot atau rese. Akan tetapi perlu diibaratkan bahwa orang baik itu ibarat air. Sejernih-jernihnya air jika ia diam pasti akan berakibat yang tidak baik. Air menjadi berbau, tidak sehat dan akan berpotensi tercampur kotoran. Oleh karena itu, agar air jernih itu tetap jernih dan sehat maka ia butuh mengalir.

Demikianlah orang baik. Orang baik mungkin disukai banyak orang. Akan tetapi kebaikannya hanya untuk diinya sendiri. Maka ia perlu menalirkan kebaikan itu untuk orang lain yang ada di sekelilingnya. Agar lingkungan di sekitarnya menjadi lebih baik. Ketika orang baik ini mulai mengalirkan kebaikan itu pada lingkungannya, dimulailah suatu babak yang menyulitkan. Mengalirkan kebaikan itu artinya ia mengajak orang lain kepada kebaikan dan ketaatan. Mengajak seseorang pada kebaikan itu namanya dakwah. Sejak ia mengajak dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain maka jalan penuh duri mulai dilalui. Tapi itulah tantangan. Itulah sunatullah dakwah. Maka dari itu kemudian dakwah disebut dengan jalan yang penuh onak dan duri. Tidak semua orang mampu dan bertahan di jalan itu. Hanya orang terpilih yang mampu bertahan di jalan penuh duri itu.
Ketika seseorang memulai dakwahnya, maka ia harus bersiap dengan duri-duri yang akan menghadangnya. Cemoohan, pelecehan, permusuhan adalah diantaranya. Banyak orang yang gagal bertahan, tidak istiqamah. Akhirnya mundur teratur. Balik lagi menjadi orang baik yang tidak mengalirkan kebaikan. Padahal dengan rintangan dan halangan itu pahala Allah swt mengalir. Dengan rintangan itu menjadilah seorang baik menjadi pribadi yang kuat. Dengan rintangan itu pula akan dirasakan manisnya ketika meraih kemenangan.
Tidak semua aktivis dakwah yang mampu bertahan. Butuh ketebalan iman dan energi berdakwah yang kokoh. Mereka yang tidak kuat akan kembali menjadi orang baik atau bahkan berubah total seratus delapan puluh derajat menjadi ahli maksiat, naudzubillah. Mereka yang dulu berapi-api kini surut tanpa nyala. Dulunya luar biasa energik dalam berdakwah kini tak tampak batang hidungnya. Jelas, mereka tertinggal oleh kereta dakwah. Namun yang patut diingat bahwa dakwah tidak butuh orang-orang seperti itu. Kereta Dakwah akan tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Kita akan tertinggal kereta itu atau akan tetap di dalamnya. Hidup adalah pilihan. Menjadi orang baik atau tidak baik. Mendakwahkan atau diam. Bertahan atau mundur. Keputusan ada di tangan kita. Orang baik disuka banyak khalayak. Akan tetapi penyeru kebaikan dimusuhi banyak orang. Bertahanlah.

Tuesday, 22 March 2016

Ini tentang kematian Abu Jahal. Konon, Abu Jahal adalah premannya Mekah waktu itu. Keberingasannya, kelakuannya, banyak warga Mekah yang takut dan ciut nyali padanya. Gertakannya, gelegar bentaknya, lototan matanya, menjadikan ia semakin garang dan menakutkan. Pada meyingkir setiap orang yang berpapasan dengannya.
Kerasulan Muhammad sampai juga di telinganya. Ia begitu geram dan murka orang-orang Mekah berbondong mengikuti Agama Muhammad. Kemarahannya makin memuncak tatkala satu demi satu tetangganya mengikuti, taat, patuh kepada pembawa risalah baru. Ia makin pongah. Dihajarnya setiap orang yang ia jumpai memeluk keyakinan yang dibawa Muhammad. Demikia pula Muhammad sendiri juga menerima amukan Abu Jahal. Meski Muhammad adalah kerabatnya.
Sampai suatu ketika, laknat Allah swt datang padanya. Allah swt mempermalukan keberingasannya. Siapa sangka orang yng begitu beringas kejam, ditakuti banyak orang, takluk oleh seorang sahabat yang fisiknya mungil. Abdullah bin Mas'ud orangnya. Abu Jahal yang berkali-kali menyiksa melukai para sahabat yang kuat, yang gagah, tapi takluk di tangan sahabat mungil, Abdullah bin Mas'ud.
Abu Jahal yang bahkan pernah melukai Khalid bin Walid. Padahal siapa yang tak kenal Khalid bin Walid. Panglima perang yang selalu berjaya di medan laga. Memimpin pasukan hancurkan musuh. Panglima yang cerdik dengan siasat perangnya. Tapi ia mampu dilukai Abu Jahal.
Namun, bukan kegarangan keperkasaan yang mengalahkan Abu Jahal. Justeru ia kalah oleh sahabat yang mungil fisiknya.
Kisah itu menunjukkan bahwa Allah swt memberikan hikmah kepada kita, Allah swt pasti mengalahkan musuh-musuh-Nya bahkan dengan sangat irasional. Allah swt Maha Kuasa. Impossible is nothing. Kita punya doa dan Allah swt pasti kan kabulkan permintaan kita. Jika memang itu baik untuk kita.

Saturday, 20 September 2014

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wa barakatuh

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Wonten ing kalodhangan siang punika, monggo kula panjenengan sami tansah bersyukur dhumateng Allah. Ingkang paring nikmat lan rahmat dhumateng kula panjenengan sami, saengga kula panjenengan sami saged ngibadah shalat jumat dhumateng Allah swt. Ibadah shalat jumat menika monggo kita manfaataken kangge ningkataken kualitas iman lan taqwa dhumateng Allah. Amargi sak sae-saenipun bekal kangge benjang gesang ing akhirat inggih namun iman kaliyan taqwa.
Maasyiral muslimin rahimakumullah...
Salah satunggale perkawis ingkang ndadosaken manungsa repot ngantos-ngantos supe dhumateng agaminipun inggih menika babagan pados sandhang pangan. Pados rezeki menika kadang ndadosaken tiyang nilaraken dhawuh-dhawuhipun Allah swt. Ngantos-ngantos wonten ingkang nggadhahi pemanggih bilih menawi tiyang menika estu-estu ngleksanakaken dhawuh agami menika saged ngalang-alangi anggenipun pados rezeki. Lajeng pemanggihipun, menawi pengin gadhah bandha donya ingkang kathah, pengin ekonominipun mapan, kedahipun mboten sah nggatosaken babagan halal lan haram utawi aturan-aturan agami. Mekaten pemanggih sebagian manungsa ingkang tebih saking pitedahipun Allah.
Piyambakipun mboten emut bilih Allah ndadosaken syariat agami menika inggih kangge pitedah supados saged bahagia gesangipun ing donya lan akhirat. Dados agami menika, sejatosipun mboten mligi kangge pados akhirat lajeng nilaraken donya. Ananging kekalihipun dipun atur supados manungsa nemoni kebahagiaan ing donya lan akhirat.
Imam Bukhori nate ngriwayataken hadis:
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ n: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“sak benere, donga kang sering diucapake kanjeng nabi yaiku: Ya.. Alloh, kula nyuwun panjenengan paring dhumateng kula, kesaenan ing donya lan ing akhirat . Lan tebihaken kula saking siksanipun neraka.” (H. R. Bukhari)
Allah lan Rasulipun mboten nilaraken umat Islam anggenipun paring pitedah kagem pados pagesangan ing donya. Nanging Allah sampun paring pitedah babagan pripun-pripun caranipun pados rezeki ingkang sae. Menawi umat Islam kersa nyinau kanthi estu-estu ngleksanakaken, Allah mesthi paring kelonggaran-kalonggaran kangge pados rezei saking pundi-pundi arah. Sarto bakal dipun turunaken keberkahan saking langit ugi saking bumi.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Ing antawisipun sebab paling utama dipun turunaken rezeki inggih menika istigfar utawi nyuwun pengampunan lan taubat dhumateng Allah. Kados dene wonten ing firmanipun Allah nalikanipun Nabi Nuh ngendika dhumateng kaumipun.
...اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10} يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا {12}
“Njaluka ngapura marang Gustimu, sakbenere Gusti Allah iku Maha Paring Pangapura, Mesthi Gusti Allah bakal ngirim udan deres marang kowe kabeh. Lan Allah bakal nambahi bandha lan anak-anakmu. Allah bakal paring panguripan lan nyuburake kebon-kebun lan ndadekake ing sajrone iku kali-kali kang mili.” (Q. S. Nuh 10-12)    
Mekaten anggenipun Nabi Nuh paring pangemut dhumateng kaumipun. Bilih istigfar utawi nyuwun pangampunan menika saged mbikak kersanipun Allah paring rezeki arupi jawah lan kebon-kebon ingkang subur.
Ingkang dipun wastani istigfar lan taubat ing mriki mboten namung sekadar dipun ucapaken kanthi lisan kemawon, tanpa wonten bekasipun ing manah. Ananging ingkang dipun wastani istigfar inggih menika nyuwun pangampunan ingkang dipun wujudaken ing lisan lan tindak-tanduk anggota badan.
Maknanipun taubat menika nilaraken dosa lan sedaya ingkang awon, nggetuni dosa ingkang sampun kalampahan, lan nggadhahi tekad ingkang kiyat supados mboten nindakaken larangan niku malih. Lajeng ingkang pungkasan inggih menika ngleksanakaken amalan kesaenan kangge ngganti tumindak dosa ingkang sampun kalampahan. Imam Nawawi nate ngendika: “taubat iku hukume wajib. Menawa ana maksiyat kang kadhung dilakoni menungsa marang Allah, lan ora ana sangkut paute karo manungsa liya syarate taubat ana telu: 1. Ngedohi maksiyat iku., 2. Nggetuni kok dheweke wis tumindak maksiyat.,  3. Ninggalake maksiyat iku lan aja nganti mbaleni maneh. Menawi tigang perkawis menika mboten kaleksanan, taubatipun mboten syah.
Menawi dosa/maksiyat menika wonten gegayutanipun kaliyan manungsa, syaratipun ditambah ingkang kaping sekawan inggih menika: kedahipun dipun rampungi hak-hakipun. Menawi wonten gegayutanipun kaliyan arta utawi bandha kedahipun dipun wangsulaken. Menawi wonten gegayutanipun kaliyan pocapan ingkang mboten sae kedahipun nyuwun pangapunten. Jamaah jum’ah rahimakumullah...
Ibnu Katsir wonten ing tafsiripun ing babagan surat Nuh ing nginggil, menawi kula panjenengan taubat dhumateng Allah, nyuwun ampunan dhumateng Allah, Allah badhe ngathah-ngathahaken rezekinipun kange kula panjenengan sami. Allah badhe nurunaken jawah ingkang berkah saking langit. Sanes jawah ingkang ndadosaken mala lan bebaya. Allah badhe ngedalaken kangge kula panjenengan sami berkah saking salebetipun bumi. Allah badhe nuwuhaken tetanduran lan mbabaraken kewan ternak. Lan Allah badhe ndadosaken kali-kali menika mili toyanipun.
Imam Al Qurtubi nate paring cariyos: wonten salah satunggale sedherek ingkang matur dhumateng Ulama Hasan Al Bashri babagan gersangipun bumi. Lajeng Hasan Al Bashri paring solusi supados tiyang menika ngathah-ngathahaken istigfar dhumateng Allah. Wonten ugi tiyang ingkang nyuwun dipun dongakaken supados dipun angkat saking kemlaratan, lajeng tiyang menika dipun printahaken supados ngathah-ngathahaken istigfar lan ngibadah dhumateng Allah.
Mekaten sejatosipun istigfar utawi nyenyuwun pengampunan dhumateng Allah awit dosa-dosa ingkang sampun kalaksanan, menika saged dados jalaran Allah paring pitulungipun, Allah paring rezekinipun dhumateng Umat Manungsa. Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Wonten ing ayat sanesipun, inggih menika ing surat Hud ayat 52. Allah berfirman.
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَتَتَوَلُّوا مُجْرِمِينَ
“Wahai kaumku, nyuwuna pangampunan marang Gusti Allah. Lan taubato marang Allah. Mesthi Allah bakal nurunake udan deres marang kowe kabeh. Allah bakal ngasta kekuatan lan paring kekuatan marang kowe kabeh. Lan kowe kabeh aja ninggalake Allah kanthi tumindak dosa.”
Wonten ing ayat menika, Nabi Hud nitahaken dhumateng kaumipun supados istigfar supados dosa-dosanipun dipun busak, lajeng mrintahaken tobat dhumateng Allah supados Alloh nggampilaken rezeki, nglancaraken urusan, lan supados Allah njagi lan paring perlindhungan dhumateng piyambakipun.
Lan ing ayat 3, taksih ing surat Hud, Allah berfirman:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“Kudune kowe kabeh padha nyuwun ampunan lan taubat marang Allah. Menawa kowe kabeh ngleksanakake iku, Allah bakal paring kenikmatan kang apik lan terus-terusan marang kowe kabeh nganti wektu kang ditentokake. Allah bakal peparing marang kowe kabeh kang nduweni kautaman. Menawa kowe kabeh ngedohi Alloh, sakbenere aku wedi bakal disiksa ing dina kiyamat.”
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Menika kautamaanipun istigfar kaliyan taubat. Inggih menika badhe paring kenikmatan dhumateng kita sami kanthi rezekin ingkang kathah, kemakmuran gesang, sarta Allah badhe nebihaken saking siksa neraka. Wodene ing Salah satunggale Hadits Kanjeng nabi nate bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ اْلاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
“Sing sapa wonge ngokeh-okehi istigfar (nyuwun pengampunan dhumateng Allah), Allah bakal ndadekake gampang kesumpekane, lan saben-saben masalah bakal diparingi solusine, Allah uga bakal paring rezeki kang halal saka arah kang ora bisa dikira-kira.” (H. R. Ahmad, Abu daud lan Nasa’i)
Wonten ing hadits menika kanjeng nabi paring gambaran, salah satunggale kemurahanipun Allah dhumateng tiyang ingkang remen istigfar inggih menika Allah badhe paring rezeki saking arah ingkang mboten nate dipun nyana-nyana.
Pramila menika, mangga kula panjenengan sami ngathah-ngathahaken istigfar, ugi taubat dhumateng Allah . Nanging ampun ngantos istigfar lan taubat menika namung ing lisan kemawon. Nanging kedah dipun buktekaken ing tindak tanduk lan amalan kesaenan. Mugi-mugi Allah paring kekiyatan lan paring kalonggaran dhumateng kula panjenengan sami, saengga kanthi istigfar lan taubat, kula panjenengan dipungampilaken urusanipun, dipun paringi kathah rezekinipun, lan dipun tebihaken saking siksanipun neraka. Amin, Ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ:
فَيَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ *  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ *  وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا[مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء[ وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ،[ وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا [وكُلِّ أَرْزَاقِنَا[ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.|||اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ|||رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.|||رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.|||رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.|||. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ|||عِبَادَ اللهِ،- إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ- وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Tuesday, 2 September 2014

Kurikulum 2013 secara serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia mulai tahun ajaran 2014/2015. Berbagai permasalahan muncul karena memang persiapan yang dirasa sangat kurang cukup untuk pelaksanaan kurikulum baru tersebut. Mulai dari keterlambatan buku penunjang, kekurangsiapan guru, dan kekurangsiapan sarana prasarana sekolah untuk mendukung suksesnya kurikulum baru tersebut.
Guru yang menjadi ujung tombak suksesnya kurikulum 2013 belum juga faham 100% sehingga cukup percaya diri untuk melaksanakan kurikulum baru tersebut. Model penilaian yang dirasakan rumit, Perangkat pembelajaran yang belum juga sepenuhnya difahami, menambah daftar panjangnya kekurangsiapan kurikulum baru ini untuk diterapkan.
Berikut ini adalah salah satu contoh RPP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 yang dikembangkan mengacu pada kurikulum 2013.

Friday, 11 July 2014

Golongan Ingkang Rugi Salaminipun Ramadhan

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ طَرَائِقَ وَاضِحَةً وَسُبُلاً , وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , شَهَادَةً نَرْجُوْبِهَا عَالِيَ الْجَنَّاتِ نُزُلاً , وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً , صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ , وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, 
Wonten ing wulan ramadhan menika, sedherek kula panjenengan sami, inggih menikakaum mukminin wonten ing Palestina, negari ingkang salebetipun wonten masjidil Aqsha, masjid suci ingkang dipun mulyakaken Allah, Kiblatipun umat islam zaman rumiyin, Papan kangge peristiwa mikraj ipun Kanjeng Nabi, Nembe dipun bombardir nembe dipun jajah negari Israel laknatullah. Griya-griya, padukuhan, pemukiman dipun bom dipun hancuraken. Ewodene kula panjenengan sami ing mriki saged siyam, kanthi aman damai pramila mangga, kula panjenengan sami tansah bersyukur dhumateng Allah swt kanthi ningkataken kualitas ugi kuantitas ibadah kula panjenengan sami dhumateng Allah swt. Amargi rugi sanget tiyang ingkang taksih pinaringan wekdal manggihi wulan Ramadhan nanging mboten saged ngginakaken wekdal menika kanthi sak sae-saenipun.  Insya Allah, Ibadah kula panjenengan sami menika saged dados sangu benjang ing dinten kiyamat.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
“Padha goleka sangu, amarga sak becik-becike sangu yaiku takwa, lan taqwao marang Allah, wahai wong-wong kang berakal” (Q S. Al Baqarah:197) 
Dan Rasulullah  bersabda,
 ”Takwao awakmu ana ing ngendi wae kowe  mapan, lan susulana tindak tanduk kan ala iku kanthi tumindak becik, mula tumindak becik iku bakal mbusak tumindak ala iku. Srawunga marang manungsa kanthi akhlak kang becik. (H. R. Tirmidzi)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, 
Samenika kula panjenengan sampun dumugi sepertelon ingkang kaping kalih saking wulan ramadhan. Wulan ingkang kula panjenengan sami dipun godhog dipun dhidhik supados dados tiyang ingkang bertakwa. Wonten kathah sanget ingkang saged kula panjenengan lampahi kangge nggayuh predikat takwa menika. Salah satunggalipun inggih menika berusaha supados kula panjenengan mboten kagolong saking golonganipun tiyang ingkang rugi ing wulan ramadhan. Rugi amargi mboten pikantuk keutamaan ing wulan Ramadhan. Malah kathah angsalipun nambahi dosa. 
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah, 
Golongan ingkang rugi ing wulan ramadhan inggih menika, sepindhah: Tiyang ingkan pasa nanging nilaraken shalat gangsal wekdal ingkang wajib. Padahal shalat wajib gangsal wekdal menika kangge bates ingkang misahaken tiyang ingkang kufur kaliyan ingkang taat dhumateng Allah swt. Wonten ing sabdanipun, Kanjeng nabi nerangaken

“Sabenere bates antarane manungsa karo kesyirikan lan kekufuran yaiku ninggalake sholat. (H. R. Muslim)
Nilaraken shalat wajib dados salah satunggale saking dosa-dosa ageng. Ugi kalebet dosa ingkang ndadosaken pelakunipun mlebet dhumateng kekafiran kaliyan kesyirikan. Kanthi mekaten, tiyang ingkang nilaraken shalat wajib, mboten angsal kautaman Ramadhan kados dene ingkang dipun sebataken wonten ing hadits Nabi 

Shalat limang wektu, saka shalat jumat menyang shalat jumat sabanjure, saka pasa ramadhan menyang pasa ramadhan tahun ngarepe, bisa mbusak dosa-dosa cilik, ing antarane wektu-wektu iku, salamine dosa gedhe ora dilakoni. (H. R. Muslim lan Tirmidzi)
Piyambakipun ingkang nilaraken shalat gangsal wekdal, mboten saged pikantuk saking kautaman wonten ing hadis ing nginggil amargi mboten nglampahi sholat gangsal wekdal. Kautamanipun inggih menika kebusak dosa-dosanipun saengga tiyang menika dados resik malih pribadi ingkang suci. Pramila rugi sanget tiyang ingkang siyam ramadhan nanging mboten sholat gangsal wekdal. 
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah, 
Golongan ingkang kaping kalih, ingkang merugi ing salaminipun ramadhan inggih menika:
Tiyang-tiyang ingkang sampun memenuhi syarat wajib berpuasa nanging piyambakipun mboten ngleksanakaken siyam kanthi sengaja padahal mboten wonten alanganipun. Syarat wajib berpuasa inggih menika tiyang islam, diwasa (sampun baligh), sehat jasmani lan ruhani/mampu ngleksanakaken siyam, suci saking haid lan nifas kanggenipun kaum wanita. Menawi sampun memenuhi syarat wajib berpuasa kala wau, nanging piyambakipun mboten ngleksanakaken siyam, pramila tiyang menika dipun ancam kaliyan azab ingkang pedih. Wonten ing hadis dipunjelasaken:
“Aku magerteni wong-wong kang digantung kanthi mbalik, saka pinggir tutuke ngetokake getih, mergo disiksa. Aku  banjur takon: “Sinten piyambakipun?” banjur dijawab: “Dheweke kuwi wong-wong kang ora pasa ing wulang ramadhan.”
Mekaten salah satunggaling hadis ingkang njlentrehaken azab kanggenipun tiyang ingkang mboten siyam ramadhan. Pramila kula panjenengan sami alhamdulillah taksih pinaringan iman saengga saget ngleksanakaken siyam ramadan.
Siyam ramadhan ugi dados salah satunggale rukun Islam. Artosipun tiyang ingkang badhe dipun sebat Islam menawi nglampahi rukun-rukunipun: inggih menika syahadat, shalat, siyam ramadhan, asok zakat, lan ngleksanakaken Haji bilih sampun kiyat.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, 
Golongan ingkang kaping tiga inggih menika tiyang-tiyang ingkang nindakaken dosa-dosa ageng. Kados dene wonten ing hadist nabi ing nginggil menawi tiyang ingkang nindakaken dosa-dosa ageng, piyambakipun mboten angsal kautaman wulan ramadhan inggih menika dipun busak dosa-dosanipun. Kanggenipun golongan menika, Allah badhe paring ampunan menwi piyambakipun purun taubat kanthi taubatan nasuha. Kanthi nilaraken tumindak ingkang mboten sae salaminipun, lan ngathah-ngathahaken taat dhumateng Allah swt.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah, 
Golongan salajengipun kanggenipun tiyang ingkang rugi salaminipun wulan ramadhan inggih menika tiyang ingkang ngucap saking lisanipun pocapan ingkang mboten sae salaminipun wulan ramadhan. Ugi tiyang-tiyang ingkang remen kalian tindak-tanduk ingkang sia-sia. Dipun riwayataken saking Abu Hurairah: Kanjeng Nabi bersabda: “ menawa ing salah sawijine dina ing wulan ramadhan kowe pasa, aja ngasi kowe ngocap pocapan kang ala. Nggawe kisruh lan tindak-tanduk kang siya-siya.
Lan menawa ana wong kang ngolok-olok utawa nyerang, kudune dheweke njawag “aku lagi pasa” (H. R. Muttafaqun Alaih). Wonten ing hadis sanesipun Kanjeng Nabi bersabda: “Sapa wonge kang ora ninggalake omongan ngapusi lan nglakoni, Allah ora merlokake saka wong kuwi pasane.” (H. R. Bukhari)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah, 
Golongan ingkang pungkasan kanggenipun tiyang  ingkang rugi salaminipun wulan ramadhan inggih menika tiyang ingkang nebihi hal-hal ingkang makruh nanging mboten ngerjakaken hal-hal ingkang dipun sunahaken ing wulan ramadhan. Piyambakipun mboten nggatosaken solat lail, solat tarawih, mboten ngathah-ngathahaken tilawah quran utawi tadarus, mboten purun bersedekah, lan mboten iktikaf ing sepuluh malam terakhir ing wulan ramadhan. Taksih kathah malih amalan-amalan sunah ing wulan ramadhan. Wulan ramadhan menika wulan barokah, menawi tiyang menika purun ngleksanakaken ibadah sunah ing wulan menika, ganjaranipun saking Allah, insya Allah agengipun sami kaliyan ganjaranipun ibadah wajib ing wekdal sanesipun wulan ramadhan. 
Kanthi nilaraken sunah-sunah ing wulan ramadhan menika, tiyang menika sampun kagolong tiyang-tiyang ingkang menyia-nyiakan kesempatan ingkang sampun dipun paringaken Allah inggih menika manggihi wulan ramadhan. 
Insya Allah kula panjenengan sami, taksih bersemangat kangge ngisi wulan-wulan ramadhan menika kanthi amalan ingkang dipun anjuraken, saengga sak bibaripun ramadhan, kula panjenengan leres-leres kagolong tiyang ingkang muttaqin. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا  مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛-   فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ *  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ *  وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِينا| للَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين| وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِينا| للَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ|وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم|وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ|اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ|وَ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ
اللَّهُمَّ انْصُرْ المُجَاهِدِينَ عَلَى أَعْدَائِنَا أَعْدَاءَ الدِّين
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَlli

Golongan Ingkang Rugi Ing Wulan Ramadhan

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَجَعَلَ لِلْوُصُوْلِ إِلَيْهِ طَرَائِقَ وَاضِحَةً وَسُبُلاً , وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , شَهَادَةً نَرْجُوْبِهَا عَالِيَ الْجَنَّاتِ نُزُلاً , وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , أَقْوَمُ الْخَلْقِ دِيْنًا وَأَهْدَاهُمْ سُبُلاً , صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ , وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Wonten ing wulan ramadhan menika, sedherek kula panjenengan sami, inggih menikakaum mukminin wonten ing Palestina, negari ingkang salebetipun wonten masjidil Aqsha, masjid suci ingkang dipun mulyakaken Allah, Kiblatipun umat islam zaman rumiyin, Papan kangge peristiwa mikraj ipun Kanjeng Nabi, Nembe dipun bombardir nembe dipun jajah negari Israel laknatullah. Griya-griya, padukuhan, pemukiman dipun bom dipun hancuraken. Ewodene kula panjenengan sami ing mriki saged siyam, kanthi aman damai pramila mangga, kula panjenengan sami tansah bersyukur dhumateng Allah swt kanthi ningkataken kualitas ugi kuantitas ibadah kula panjenengan sami dhumateng Allah swt. Amargi rugi sanget tiyang ingkang taksih pinaringan wekdal manggihi wulan Ramadhan nanging mboten saged ngginakaken wekdal menika kanthi sak sae-saenipun.  Insya Allah, Ibadah kula panjenengan sami menika saged dados sangu benjang ing dinten kiyamat.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ
“Padha goleka sangu, amarga sak becik-becike sangu yaiku takwa, lan taqwao marang Allah, wahai wong-wong kang berakal” (Q S. Al Baqarah:197)
Dan Rasulullah  bersabda,
 ”Takwao awakmu ana ing ngendi wae kowe  mapan, lan susulana tindak tanduk kan ala iku kanthi tumindak becik, mula tumindak becik iku bakal mbusak tumindak ala iku. Srawunga marang manungsa kanthi akhlak kang becik. (H. R. Tirmidzi)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Samenika kula panjenengan sampun dumugi sepertelon ingkang kaping kalih saking wulan ramadhan. Wulan ingkang kula panjenengan sami dipun godhog dipun dhidhik supados dados tiyang ingkang bertakwa. Wonten kathah sanget ingkang saged kula panjenengan lampahi kangge nggayuh predikat takwa menika. Salah satunggalipun inggih menika berusaha supados kula panjenengan mboten kagolong saking golonganipun tiyang ingkang rugi ing wulan ramadhan. Rugi amargi mboten pikantuk keutamaan ing wulan Ramadhan. Malah kathah angsalipun nambahi dosa.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah,
Golongan ingkang rugi ing wulan ramadhan inggih menika, sepindhah: Tiyang ingkan pasa nanging nilaraken shalat gangsal wekdal ingkang wajib. Padahal shalat wajib gangsal wekdal menika kangge bates ingkang misahaken tiyang ingkang kufur kaliyan ingkang taat dhumateng Allah swt. Wonten ing sabdanipun, Kanjeng nabi nerangaken

“Sabenere bates antarane manungsa karo kesyirikan lan kekufuran yaiku ninggalake sholat. (H. R. Muslim)
Nilaraken shalat wajib dados salah satunggale saking dosa-dosa ageng. Ugi kalebet dosa ingkang ndadosaken pelakunipun mlebet dhumateng kekafiran kaliyan kesyirikan. Kanthi mekaten, tiyang ingkang nilaraken shalat wajib, mboten angsal kautaman Ramadhan kados dene ingkang dipun sebataken wonten ing hadits Nabi

Shalat limang wektu, saka shalat jumat menyang shalat jumat sabanjure, saka pasa ramadhan menyang pasa ramadhan tahun ngarepe, bisa mbusak dosa-dosa cilik, ing antarane wektu-wektu iku, salamine dosa gedhe ora dilakoni. (H. R. Muslim lan Tirmidzi)
Piyambakipun ingkang nilaraken shalat gangsal wekdal, mboten saged pikantuk saking kautaman wonten ing hadis ing nginggil amargi mboten nglampahi sholat gangsal wekdal. Kautamanipun inggih menika kebusak dosa-dosanipun saengga tiyang menika dados resik malih pribadi ingkang suci. Pramila rugi sanget tiyang ingkang siyam ramadhan nanging mboten sholat gangsal wekdal.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah,
Golongan ingkang kaping kalih, ingkang merugi ing salaminipun ramadhan inggih menika:
Tiyang-tiyang ingkang sampun memenuhi syarat wajib berpuasa nanging piyambakipun mboten ngleksanakaken siyam kanthi sengaja padahal mboten wonten alanganipun. Syarat wajib berpuasa inggih menika tiyang islam, diwasa (sampun baligh), sehat jasmani lan ruhani/mampu ngleksanakaken siyam, suci saking haid lan nifas kanggenipun kaum wanita. Menawi sampun memenuhi syarat wajib berpuasa kala wau, nanging piyambakipun mboten ngleksanakaken siyam, pramila tiyang menika dipun ancam kaliyan azab ingkang pedih. Wonten ing hadis dipunjelasaken:
“Aku magerteni wong-wong kang digantung kanthi mbalik, saka pinggir tutuke ngetokake getih, mergo disiksa. Aku  banjur takon: “Sinten piyambakipun?” banjur dijawab: “Dheweke kuwi wong-wong kang ora pasa ing wulang ramadhan.”
Mekaten salah satunggaling hadis ingkang njlentrehaken azab kanggenipun tiyang ingkang mboten siyam ramadhan. Pramila kula panjenengan sami alhamdulillah taksih pinaringan iman saengga saget ngleksanakaken siyam ramadan.
Siyam ramadhan ugi dados salah satunggale rukun Islam. Artosipun tiyang ingkang badhe dipun sebat Islam menawi nglampahi rukun-rukunipun: inggih menika syahadat, shalat, siyam ramadhan, asok zakat, lan ngleksanakaken Haji bilih sampun kiyat.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Golongan ingkang kaping tiga inggih menika tiyang-tiyang ingkang nindakaken dosa-dosa ageng. Kados dene wonten ing hadist nabi ing nginggil menawi tiyang ingkang nindakaken dosa-dosa ageng, piyambakipun mboten angsal kautaman wulan ramadhan inggih menika dipun busak dosa-dosanipun. Kanggenipun golongan menika, Allah badhe paring ampunan menwi piyambakipun purun taubat kanthi taubatan nasuha. Kanthi nilaraken tumindak ingkang mboten sae salaminipun, lan ngathah-ngathahaken taat dhumateng Allah swt.
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Golongan salajengipun kanggenipun tiyang ingkang rugi salaminipun wulan ramadhan inggih menika tiyang ingkang ngucap saking lisanipun pocapan ingkang mboten sae salaminipun wulan ramadhan. Ugi tiyang-tiyang ingkang remen kalian tindak-tanduk ingkang sia-sia. Dipun riwayataken saking Abu Hurairah: Kanjeng Nabi bersabda: “ menawa ing salah sawijine dina ing wulan ramadhan kowe pasa, aja ngasi kowe ngocap pocapan kang ala. Nggawe kisruh lan tindak-tanduk kang siya-siya.
Lan menawa ana wong kang ngolok-olok utawa nyerang, kudune dheweke njawag “aku lagi pasa” (H. R. Muttafaqun Alaih). Wonten ing hadis sanesipun Kanjeng Nabi bersabda: “Sapa wonge kang ora ninggalake omongan ngapusi lan nglakoni, Allah ora merlokake saka wong kuwi pasane.” (H. R. Bukhari)
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimani wa Rahimakumullah,
Golongan ingkang pungkasan kanggenipun tiyang  ingkang rugi salaminipun wulan ramadhan inggih menika tiyang ingkang nebihi hal-hal ingkang makruh nanging mboten ngerjakaken hal-hal ingkang dipun sunahaken ing wulan ramadhan. Piyambakipun mboten nggatosaken solat lail, solat tarawih, mboten ngathah-ngathahaken tilawah quran utawi tadarus, mboten purun bersedekah, lan mboten iktikaf ing sepuluh malam terakhir ing wulan ramadhan. Taksih kathah malih amalan-amalan sunah ing wulan ramadhan. Wulan ramadhan menika wulan barokah, menawi tiyang menika purun ngleksanakaken ibadah sunah ing wulan menika, ganjaranipun saking Allah, insya Allah agengipun sami kaliyan ganjaranipun ibadah wajib ing wekdal sanesipun wulan ramadhan.
Kanthi nilaraken sunah-sunah ing wulan ramadhan menika, tiyang menika sampun kagolong tiyang-tiyang ingkang menyia-nyiakan kesempatan ingkang sampun dipun paringaken Allah inggih menika manggihi wulan ramadhan.
Insya Allah kula panjenengan sami, taksih bersemangat kangge ngisi wulan-wulan ramadhan menika kanthi amalan ingkang dipun anjuraken, saengga sak bibaripun ramadhan, kula panjenengan leres-leres kagolong tiyang ingkang muttaqin. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَاِلنَا  مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛-   فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ *  وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ *  وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِينا| للَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين| وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِينا| للَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ|وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم|وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ|اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ|وَ فَرِّقْ جَمْعَهُمْ
اللَّهُمَّ انْصُرْ المُجَاهِدِينَ عَلَى أَعْدَائِنَا أَعْدَاءَ الدِّين
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَlli

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!