Thursday, 15 September 2011
Wednesday, 14 September 2011
dakwatuna.com – “Kenapa ya, setiap acara seperti ini pasti yang datang ibu-ibu lagi, bapak-bapaknya nggak ada. Padahal ibu-ibu kan sudah sering ikut acara ini. Kita-kita sih sudah tahu, sudah ngerti kewajiban-kewajiban kita. Bapak-bapaknya dong di dauroh -ikut pelatihan- juga, biar seimbang”
“Ustadz, subhanallah, materinya bagus sekali. Kerjasama suami istri dalam membina rumah tangga dan pendidikan anak memang sangat penting. Usul kita ustadz, bagaimana kalau para suami kita juga ikut diberikan materi seperti ini?”
Kita pasti pernah mendengar komentar seperti di atas. Memang belum pernah dilakukan penelitian secara khusus, tapi dari pengamatan saya, acara-acara tentang pembinaan keluarga dan pendidikan anak kelihatannya lebih sering ditujukan, diminati dan dihadiri oleh kaum perempuan. Pernah juga ada pihak yang membuat acara serupa dengan membuka peserta untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi agaknya tidak mendapat cukup respon dari kaum laki-laki sehingga tetap saja mayoritas peserta adalah kalangan perempuan.
Jarang sekali acara tentang pembinaan keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah) atau tentang pendidikan anak penuh sesak oleh bapak-bapak. Ada juga sih bapak-bapak yang hadir, tapi biasanya jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dan fenomena ini hampir merata terjadi di semua wilayah dakwah. Terlepas dari kesibukan kaum bapak sehingga tidak sempat menghadiri acara-acara itu, atau kurang piawainya pihak penyelenggara dalam mengemas acara menjadi menarik, saya ingin menyoroti persoalan itu dari sisi lain.
Kita tentu sepakat bahwa persoalan pembinaan keluarga dan pendidikan anak bukan hanya menjadi kepentingan akhawat dan ummahat. Terlebih dua persoalan ini merupakan salah satu indikator penting kesuksesan dakwah. Karena suksesnya dakwah bukan hanya ditandai dengan munculnya figur-figur pribadi istimewa, tetapi juga tampilnya keluarga-keluarga sebagai keluarga yang layak menjadi qudwah –teladan-.
Terkait persoalan ini, menjadi menarik untuk menggali mengapa kaum bapak cenderung lebih ‘diam, kalem, tenang’, sehingga terkesan ‘kurang peduli’ terhadap persoalan rumah tangga, dibanding kaum ibu.
Sharing saya dengan seorang teman, ternyata ada perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam hal ini:
1. Rata-rata lelaki begitu menghadapi masalah dalam kehidupannya, cenderung meringankan beban dengan cara diam. Maka, dalam dunia psikologi dikenal ada “siklus diam” pada lelaki. Sedangkan pada kaum perempuan, begitu ada masalah, cenderung meringankan beban dengan jalan menceritakan masalah kepada orang lain.
2. Rata-rata lelaki memiliki “batas ambang rasa aman terhadap masalah” yang lebih tinggi dibandingkan kaum perempuan.
Itulah sebabnya –mungkin–, di lembaga-lembaga konsultasi keluarga umumnya, yang lebih sering datang adalah kaum perempuan.
Itulah sebabnya –mungkin–, dalam suatu forum atau majelis kaum bapak, tidak banyak dibicarakan persoalan keluarga, berbeda dengan majelis atau forum kaum ibu.
Itulah sebabnya –mungkin–, acara-acara yang membahas persoalan keluarga seperti daurah, seminar, atau acara sejenis, lebih banyak dihadiri kaum perempuan.
Kalau tidak percaya, tanyakan kepada bapak-bapak dalam suatu halaqah atau majelis: “Adakah masalah dalam rumah tangga antum yang ingin didialogkan ?” Sebagian besar jawabannya adalah diam, atau menjawab, “Tidak ada. Kami bisa atasi sendiri”. Respon ini berbeda dengan rata-rata majelis para ibu.
Nah, jika kita memahami persoalan ini, di satu sisi, kita para istri tak perlu gundah jika suami sedang berada pada ‘siklus diam’nya, tidak berbicara, karena, hal itu bukan berarti suami kita tidak peduli dengan persoalan rumah tangga, tapi justru sedang berusaha meringankan bebannya. Yang penting, siklus diamnya tak berlarut-larut kan?
Namun disisi lain, sebaiknya kita juga tidak terjebak pada fenomena ini. Saya pikir, justru kita perlu mencari formula yang tepat dan melegakan untuk ‘mengajak para bapak berbicara’, dan memberikan pendapatnya mengenai persoalan rumah tangga, setelah siklus diamnya berakhir.
Baik. Sekarang, mari kita kembali membahas tentang keterkaitan dakwah dengan persoalan pembinaan keluarga dan pendidikan anak. Kita tahu, dakwah ini serius melakukan serangkaian kajian-kajian yang berkaitan dengan manhaj –kurikulum- pembinaan keluarga dan pendidikan anak. Hasilnya? Serangkaian arahan telah disosialisasikan melalui kegiatan rutin pekanan kita, mulai dari arahan tentang persiapan menikah, tentang pernak-pernik pernikahan dan kehidupan rumah tangga, sampai arahan tentang pendidikan anak.
Di samping itu, masih ingat materi tarbiyah yang membahas tentang ahdaaf ad da’wah (Sasaran Dakwah)? Sangat jelas digambarkan dalam materi itu, bahwa dakwah kita memiliki sasaran-sasaran yang harus dicapai secara bertahap. Ada lima sasaran yang hendak dicapai oleh dakwah kita, yang antara satu sasaran dengan sasaran lainnya saling terkait, saling mempengaruhi dan saling menentukan. Jika sasaran pertama tidak berhasil dicapai, sasaran kedua tidak mungkin dicapai. Jika sasaran kedua dapat dicapai tapi dalam jangka waktu yang sangat lambat, maka sasaran ketigapun akan mengalami keterlambatan dalam pencapaiannya, begitu terjadi seterusnya.
Untuk menyegarkan kembali ingatan kita akan materi itu, sasaran pertama yang hendak dicapai dakwah kita adalah binaa’ al-fardi al-muslim (terbentuknya pribadi muslim). Sasaran berikutnya adalah terbentuknya keluarga muslim (binaa’ al usrah al muslimah). Dua sasaran ini saling terkait dalam arti, berhasil atau tidaknya kita membentuk diri kita menjadi kader-kader yang memiliki kepribadian islami, akan sangat mempengaruhi dan menentukan pencapaian sasaran kedua, yaitu terbentuknya keluarga-keluarga islami (dengan segala muwashafat/karakteristiknya). Begitu pula, keberhasilan pencapaian sasaran kedua ini akan menentukan keberhasilan pencapaian sasaran ketiga, yaitu binaa’ al mujtama’ al-islami (terbentuknya masyarakat Islam), dan seterusnya. Jadi, jangan mimpi kita akan memiliki ad-daulah islamiyah dan al-khilafah al-islamiyah yang merupakan sasaran keempat dan kelima dari dakwah ini, jika dari sekarang kita tidak memberi perhatian pada pencapaian sasaran-sasaran sebelumnya.
Jadi, dalam manhaj dakwah, persoalan pembinaan keluarga dan pendidikan anak adalah persoalan yang sangat serius.
Tetapi persoalan membina keluarga dan mendidik anak tentunya tidak boleh hanya sekedar menjadi program di atas kertas. Yang lebih penting adalah memposisikan dua hal penting ini sebagai salah satu yang menjadi prioritas amal. Mengapa? Karena pembinaan keluarga dan pendidikan anak bukanlah semata terkait dengan amal atau target pribadi. Dalam pandangan saya, bagi kita kader dakwah, dua hal ini merupakan sebuah misi mulia yang harus kita laksanakan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab sebagai bentuk kontribusi langsung dan nyata kita dalam rangka mencapai dan merealisasikan sasaran dakwah!
Mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengajak kita semua, ikhwan dan akhawat, untuk ‘lebih serius lagi’ menata rumah tangga kita, membina keluarga kita, mendidik anak-anak kita, dengan menambahkan satu semangat…”Ini adalah bagian penting dari misi, tugas dan kontribusi dakwah kita!” Allahu a’lam.
UNTUKMU YANG BERLARI
Kawan ...
Kaulah yang menyadarkanku.
Saat ku membuka mata,
kau mulai berdiri.
Saat ku mulai bangun mengikutimu,
Engkau mulai berjalan.
Saat aku tertatih belajar berjalan,
kau percepat langkah kakimu.
Kau meberiku isyarat untuk tidak berhenti
karena berhenti menjadikan kita tak sampai
Dan kini Kau sudah berlari
cepat sekali larimu
dan tak sanggup lagi kulihat kau di depan sana.
Hanya ingatanku yang masih lekat
bahwa kau pernah membangunkanku, mengajakku berjalan, berlari
karena mereka jauh lebih cepat larinya
karena mereka jauh lebih ringan membawa dirinya
Dan kau katakan pula, jangan ikuti mereka
Tapi, Kawan ...
kini Kau sudah berlari
cepat sekali larimu
dan tak sanggup lagi kulihat kau di depan sana
Aku berharap kan berjumpa kau di sana.
Kawan ....
Aku juga tak ingin berhenti.
Kawan, teruslah tinggalkan jejakmu agar kuikuti
Walau kini tak lagi kulihat kau didepanku,
Aku yakin kau sudah jauh sekali di depan sana.
Dan aku pun akan ke sana.
7 Agustus 2011, SDIT ULIN NUHA Wuryantoro Wonogiri
Entah mengapa, "ujug-ujug" kutuliskan itu di SDIT ini. Sederhana saja. Tadi pagi aku buka FB saya di tag teman dalam note-nya. Langsung kucoment note temanku itu. Belum sempat mengklik tombol "coment", eh... anakku ngajak gojek. Hilanglah sekian yang telah kutulis. Menyesal sekali rasanya. Tapi yang namanya ide, masih tersimpan pula ia di kepalaku. Langsung masuk menunaikan amanah. Belajar bersama anak-anak super ini, sampai hampir kering tenggorokan ini. Mereka tanya ini itu. Luar biasa. Saat anak-anak berlatih. Saya menunggui. Kok yang sayat tulis tadi pagi di HP untuk mencoment temanku itu makin kuat di kepalaku. Jadilah kualirkan di sini.
Sekian banyak dan sekian beragamnya yang terdapat dalam benak ini. Saat bersepeda, saat di kelas, saat menggendong si kecil. Tapi tak juga sesuatu pun yang tertoreh. Karena apa ya... . Apa memang tak juga kubisa menorehkan yang ada dikepalaku ini ke dalam simbol A B C D E ... . Apa aku tak punya bakat tentang begituan. Ah... entahlah.
Padahal kalau ditengok, kawan-kawan yang begitu indah dalam bertutur. Sampai yang beringas dalam menorehkan isi kepalanya. Sama. Makannya nasi putih. Tidurnya merem (yang mungkin mereka tambah ngorok). Uh... snacknya sudah datang. Biar aku bisa terus berjalan. Maka ku akhiri dan tak ngambil snack itu. O..ho..ho.....
Untuk info yang lebih lengkap silakan linknya di-http://lazuardibirru.org
Sungguh, motivasi untuk menulis kian terdorong dengan adanya berbagai lomba. Inilah salah satu lomba yang bisa dimanfaatkan bagi para guru untuk meningkatkan kualitas kepenulisannya. Mari, rekan-rekan guru untuk berpartisipasi dalam lomba ini.
Tema lomba Esai:
- Guru sebagai agen perubahan generasi muda yang menghargai toleransi
- Peranan guru dalam menciptakan Indonesia damai dan bersatu
- Menjadi guru yang humanis dan berbhinneka
- Mengajar dengan interaktif dan mengasah pola pikir kritis
- Guru sebagai penebar ajaran islam yang cinta damai
- Guru sebagai garda terdepan mencegah radikalisme dan terorisme
- Peranan guru dalam menanamkan semangat nasionalisme
Kriteria Lomba Esai Guru:
- Bahasa: bahasa Indonesia yang baik dan Benar Menggunakan aturan EVD
- Format : Ms. Word
- Jumlah kata: minimal 1500 kata dan maksimal 3.000 kata
- Spasi:1,5
- Huruf : Times New Roman (size 12)
- Ukuran kertas : A4
- Margin : Atas 4 cm, bawah 4 cm, kiri 4 cm, kanan 3 cm
- Metode : Email ke: kompetisi@lazuardibirru.org
- Subyek : Lomba Karya tulis ilmiah dan nama peserta
Hadiah Lomba:
- Juara I : Rp. 8Jt
- Juara 2: Rp 6 Jt
- Juara 3 : 4 Jt
- Juara Harapan 1: Rp 2 jt
- Juara harapan 2: 1,5 Jt
- Juara Harapan 3 : Rp 1 Jt
Peserta dapat melakukan konfirmasi, meminta informasi, dengan mengajukan pertanyaan ke kompetisi@lazuardibirru.org

Ada sebuah kisah yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah iniadalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu zaman ada seorang raja yang sangat bijaksana. Ia memerintah menggantikan ayahandanya yang dahulu terkenal dengan kekejamannya. Karena kekejaman ayahnya itu, rakyat menjadi sangat takut kepada raja dan keluarga raja. Akan tetapi dalam rasa ketakutan itu, sebenarnya rakyat juga menyimpan kebencian, ketidaktaatan, dan selalu ingin memberontak terhadap raja. Hanya saja mereka belum berani dan tak punya kekuatan untuk itu.
Raja yang baru ini ingin menguji kesadaran rakhyatnya. Ingin mengetahui ketaatan rakyatnya kepada kerajaan. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut. Rakyat menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya. Kesediaan mereka bisa jadi karena rasa takut. Akan tetapi hal itu belum dipahami oleh sang raja yang baru ini.
Rakyat telah menyatakan kesediaan untuk mengumpulkan madu di tempat yang telah ditetapkan. Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatucara untuk menunjukkan jiwa berontaknya, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga."
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Malam itu gelap gulita. Di bukit sudah disiapkan bejana untuk menaruh madu dari seluruh rakyat. Memang benar seperti dalam pikiran si A. Andaipun seseorang membawa sesendok bukan madu tentunya tidak diketahui oleh penguasa.
Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengansi A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai keseharian kita. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: "Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108) Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan orang lain.
Dalam ayat yang lain Allah juga memberi rambu-rambu: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Q.S. As Shaf: 3). Ayat tersebut secara tersirat memberikan palajaran bahwa setiap kita harus mengawali perbuatan baik dari diri kita sendiri. Bukan hanya mengajak orang lain barbuat baik akan tetapi perbuatannya sendiri jauh dari apa yang ia ajakkan.
NabiMuhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun. Demikianlah, kalau sang raja menginginkan ketaatan dari rakyat, yang harus ia lakukan adalah memberikan teladan bagaimana ia harus taat terhadap tugasnya yaitu melayani rakyatnya. Patut untuk direnungkan bagi pemimpin negeri ini.
Masih sangat kental “3M” versi Aa’ Gym: Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal yang kecil, dan Mulai sekarang juga.
Setelah shalat dhuha, aku masuk di kelas 4 untuk materi pelajaran IPS. Tiga jam pelajaran tersedia untukku. Anak-anak kelas 4 saya ajak ke pinggiran Waduk Gajah Mungkur yang memang menggenang hingga dekat sekolahan. Kalau waduk sedang pasang, hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari sekolah. Akan tetapi kalau waduk sedang surut karena kemarau seperti saat ini, air menjauh sekitar 500 meter dari sekolahan. Begitu riangnya anak-anak saya ajak ke pinggiran Waduk Gajah Mungkur. Materi yang tersedia untuk kami pelajari pagi ini adalah kenampakan alam beserta pengaruhnya bagi kehidupan sosial. Waduk memang merupakan salah satu kenampakan alam buatan. Sehingga masih nyambung dengan materi yang harus kami pelajari di pagi ini.
Belajar dengan latar belakang alam, sungguh terasa berbeda. Pikiran ini selalu segar. Rasa bosan seolah absen dari setiap diri kami. Walau tubuh kami mulai keluar bulir-bulir keringat, tapi semangat ini tetap terjaga.
Dua jam pelajaran sudah kami lalui dengan menyenangkan. Satu jam terakhir kami gunakan untuk saling bercerita dan bertanya jawab mengenai berbagai hal yang ada hubungannya dengan materi pembelajaran. Anak-anak super ini tiada berhenti bertanya. Ada yang tanya: mengapa dibuat waduk segala?, Airnya kok surut itu menghilang kemana?, Yang terlihat dari sini itu pegunungan atau gunung apa? Dan serentetan pertanyaan lainnya. Tak hentinya mereka bertanya dan bercerita.
Mendekati jam pelajaran usai, anak-anak saya ajak kembali ke sekolah. Hanif, salah satu dari mereka, menemukan sebuah potongan pralon yang kemudian dibawa ke kelas. Pralon yang sengaja dipotong pak Tani karena sudah mengalami kebocoran barang kali.
Sampai di kelas mereka menumpahkan rasa lelah ke lantai keramik yang dingin. Ada yang duduk-duduk ada yang tiduran di lantai yang telah mereka sapu pada pagi harinya. Aku pun duduk di antara mereka. Sambil bercerita untuk berakrab-akrab dengan mereka.
Hanif sejak kedatangannya tadi asyik bermain pralon yang ia temukan. Saat pralon itu dia masukkan ke tangan, dia menggerak-gerakkan maju mundur dan memutar pralon itu. Misbah yang berada di belakang Hanif terkena ujung pralon itu. Terlihat membarut di samping mata kiri hingga pipi Misbah. Darah pun keluar dari luka di wajah Misbah itu. Misbah merintih kesakitan. Akhirnya Misbah kami bawa ke kantor guru untuk mendapatkan perawatan.
Akhirnya darah pun mampet dan Misbah bisa mengikuti pelajaran kembali. Hingga waktu istirahat panjang untuk salat dhuhur dan makan siang tiba. Semua siswa SDIT Ulin Nuha mempersiapkan diri untuk mengambil air wudhu. Seusai salat, mereka mengantri untuk makan siang. Misbah, Hanif, Berli, Sidiq, Tama, Yusak bergerombol makan bersama membentuk lingkaran. Aku mendekati mereka. Mereka sedang asyik makan sambil bercerita dan saling berbagi lauk. Aku langsung mengikuti canda tawa mereka. Aku menyeru, "Hanif, tadi sudah minta maaf sama Misbah belum? Itu Misbah kasihan wajahnya sampai keluar darahnya. Sakit, lho!" Hanif dengan rasa bersalahnya dan sedikit ketakutan menjawab, "E...e...Sudah, kok pak." Aku lihat mukanya merah padam. Hanif malah menunjukkan air muka hampir menangis. Tampaknya ia takut kalau aku marah padanya. Dan akupun merasa bersalah telah menegur demikian. Di saat itulah Misbah menyambung dengan tulusnya, "Sudah, kok pak. Hanif tadi sudah minta maaf. Saya nggak apa-apa, kok. Kan Hanif tadi nggak sengaja, ya Nif." Subhanallah, mereka benar-benar anak-anak super.
Dengan celetukan Misbah tadi, Hanif kembali riang. Hilang rasa takutnya. Dan canda tawa pun berlanjut kembali. Kemudian aku meninggalkan mereka dengan menitip pesan,"Lain kali, kalau bermain hati-hati, ya!"








